Sajak Seorang Tua untuk Istrinya

August 7th, 2009 — 9:22am

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.

WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua, 1972

Saya cuma ingin berbagi salah satu sajak yang paling saya sukai dari sang burung merak, W.S. Rendra (1935-2009).

Comment » | Uncategorized

Dikutuk untuk Hidup

August 5th, 2009 — 9:52am

Tragedi kehidupan manusia adalah kefanaan kita; yang berarti satu-satunya hal yang pasti menunggu kita di akhir kehidupan adalah kematian. Saya suka dengan film besutan Robert Zemeckis yang dibintangi Bruce Willis, Meryl Streep dan Goldie Hawn; Death Becomes Her. Film yang menuturkan bahwa keabadian adalah sebuah kutukan. Kita memerlukan kematian untuk memberi wujud dan arti sebuah kehidupan. Tanpa itu, kita akan menemui kehidupan yang tak berarti, pointless. Dalam sudut pandang ini, jika neraka adalah laknat abadi, maka bagi Hades hidup yang kekal sudah cukup sebagai tempat penghukuman.

Continue reading »

6 comments » | Uncategorized

Monalisa di Pantai

July 26th, 2009 — 8:23pm

Dari atas bukit, Femme melihat seorang pria sedang asyik mencorat-coret pasir di pantai. Di matanya perlahan coretan-coretan itu menjelma lukisan. Adalah wajah yang sangat cantik, tidak begitu nyata tergambar, tapi bisa dilihat dari banyak sudut sekaligus. Femme sangat terkejut ketika dia mendapati lukisan di pasir itu seperti karya Da Vinci; ia seperti Monalisa.

Beberapa saat kemudian setelah pikirannya mulai jernih, jantungnya berhenti berdetak. Femme melepas teropongnya dan menggosok-gosok matanya; memastikan dia tidak berkhayal. Lukisan itu memang benar Monalisa.

Continue reading »

1 comment » | Uncategorized

Hatimu Ditinggal Dulu

August 14th, 2008 — 7:10am

Manusia-manusia kuat, begitu aku menyebutnya, temanku. Segelintir, tampak rapuh, termarjinalkan, menyatu dengan tumpukan sampah, kardus bekas, botol-botol plastik, ranting-ranting kering, bebatuan dan aspal yang keras. Mereka yang mampu membuat kita menangis dan melihat betapa miskin, rakus, lemah dan tak bersyukurnya diri kita. Bersentuhan dengan mereka selalu menjadi pencerahan yang ironis; pahit. Proses belajar yang selalu menusuk relung hati nurani. Jangan pernah ditinggal ya, bawa terus hatimu…
;untuk menjadikanmu manusia.

untuk seorang teman wartawati yang lupa meninggalkan hatinya ketika bekerja,
ketika bertemu dengan manusia-manusia kuat

8 comments » | Uncategorized

Hadiah

July 31st, 2008 — 8:45am

“Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. And today? Today is a gift. That’s why we call it the present.” Babatunde Olatunji

Aku menjadi tua, menikmati setiap detik hidup dan mendapati hadiahku setiap hari;
embun pagi, terik matari, lembayung senja, jatuh, terpuruk, sakit, sedih, kehilangan, bangun, kesempatan, kesehatan, tuhan, dan sunggingan senyummu, nyamanku…

Aku menjadi tua, menikmati setiap detik hidup dan mendapati hadiahku setiap hari.

6 comments » | Uncategorized

Back to top