Archive for September 2004


Tidak Berminat

September 29th, 2004 — 12:50pm

“Sungguh aku telah lupa bagaimana caranya tersenyum jika bersamamu”

Aku pernah belajar untuk bisa
Aku pernah bisa
Aku bahkan pernah mengajarimu untuk tersenyum

Tapi sekarang aku tidak berminat untuk belajar lagi…
Belajar untuk bisa tersenyum jika aku bertemu kamu
Tidak sekarang, perempuan dengan mata sayu.

Kamu tidak berhak mengharapkan lebih, dariku.
Aku sudah terlalu letih tersenyum, untukmu.
Sementara kamu sepertinya tidak pernah mau belajar untuk mengerti arti senyuman itu sendiri

Dan kamu tahu sebabnya bukan?

#
tentang perasaanku padamu, seseorang dari masa lalu, yang telah lantak.

Comment » | solilokui

Matahari

September 27th, 2004 — 7:21pm

Siapa? Kamu. Ya kamu, sahabatku, kamu adalah matahari. Sejujurnya aku sendiri tidak mengerti kenapa aku mulai memanggilmu dengan nama matahari.

Sejak aku mengenalmu saat itu, sudah lewat berpuluh purnama, kelopak bunga, embun pagi, laut biru yang dalam dan hujan yang selalu kita rindukan. Aku tidak pernah menyangka akan memanggilmu dengan nama matahari.

Kamu tidak menerangiku, seperti matahari. Kamu bukan matahariku, pun seperti matahari. Kamu gelap bagiku, seharusnya aku memanggilmu gerhana bukan matahari. Kamu adalah sesuatu diruang kosmos, kelihatan tegar tapi rapuh. Ah tidak, lagi-lagi aku salah menilaimu. Maaf. Aku tak mengenalmu sedalam itu. Entah kenapa aku mulai memanggilmu matahari aku tak tahu.

Aku ingin menjadi komet, teriakku suatu ketika, padamu. Sekedar hadir, bersinar paling terang tapi menghilang seketika. Meninggalkan cahaya disudut hati setiap orang yang melihatku. Ya aku ingin menjadi komet, kataku lagi.

Tidak, jawabmu. Ah kamu memang keras kepala. Kamu tidak pernah ingin menjadi komet. Aku tahu itu, karenanya aku memanggilmu matahari. Ah aku bukan matahari, mungkin itu yang ingin kamu katakan padaku. Gombal. Aku semakin ingin memanggilmu dengan nama matahari. Meskipun kamu tidak menerangiku, tidak sedang menerangi siapa-siapa. Karena tata suryamu belum berputar sesuai orbitnya, aku mengerti. Kamu sedang menunggu. Aku akan menemanimu menunggu galaksi gelap yang ingin kamu terangi.

Tidak, sekali lagi kamu menolak. Aku tidak akan menunggunya, aku akan memburunya, teriakmu dalam hati. Aku tahu. Kejarlah bima sakti mu, meskipun melewati andromeda, lubang hitam atau bahkan kembali ke penciptaan alam semesta. Bahwa tempat mu adalah di sana, gugus gelap yang tak bergerak, kamu berhasil meyakinkanku dengan luapan keceriaan dan letupan energi yang kamu tunjukkan padaku setiap kali melihat gugusan gelap itu, kamu memang benar-benar ingin meneranginya bukan?

Matahari, seharusnya aku berpikir dulu sebelum memanggilmu dengan nama ini. Ah tidak, aku sudah memikirkannya jauh sebelum matahari ada. Kamu memang seperti matahari, menjadi sahabat semua makhluk hidup. Aku hidup maka kamu adalah sahabatku, logikanya begitu bukan? Jadi jangan khawatir matahari, aku akan berjalan di sampingmu sebagai sahabat bukan sebagai pembenaran ilmu logika ataupun tiruan albert camus, karena sahabat pun tidak memerlukan alasan.

Sejujurnya aku masih tidak mengerti kenapa aku memanggilmu matahari. Entah karena namamu sebenarnya adalah matahari atau…
karena kamu memang matahari

1 comment » | solilokui

Teman Lama dan Daging Menjangan

September 26th, 2004 — 6:46am

Lupakan hiruk pikuk pemilihan presiden, sidang tahunan MPR atau bahkan kepulangan Sukma Ayu yang seolah memenuhi hari-hari saya akhir-akhir ini. Ada berita yang lebih menarik perhatian saya ; Iir, salah satu teman baik saya, datang ke rumah, tentunya masih berkaitan dengan pernikahannya dengan Asmanta tanggal 11 September kemarin. Dia datang bersama bapak, ibu dan Asmanta, suaminya tentu saja.

“Hai firman” Sapanya manja, seperti anak kecil, seperti biasanya, ketika berusaha mengagetkan saya dengan cara masuk tiba-tiba kedalam kamar saya. Sedikit berhasil Ir. Saya kaget, tepatnya I’m surprised !! Hahaha, dia tampak cantik dengan balutan baju putih dengan sedikit bordir. Ya dia kelihatan cantik, cantik yang berbeda, cantik bahagia.

Di ruang tengah rumah kontrakan, kami semua berkumpul. Sekedar duduk lesehan di atas karpet merah yang lusuh ; Iir, Asmanta, Danar, Hasta, Kiki, Deni, Bapak dan Ibu -orang tua Iir tepatnya dan tentunya saya, saling bertegur sapa dan berbagi senyum. Basa-basi mungkin, tapi kami tidak menganggapnya begitu. Continue reading »

2 comments » | solilokui

Waktu Batu

September 22nd, 2004 — 8:48am

Terjadinya Kala. Terjadinya Durga
“Aku ada tidak sengaja. Aku adalah dentuman besar di lubang kosmos dan setelahnya”
Sebuah dongeng tentang terjadinya Sang Waktu, juga ancaman yang turut lahir bersamanya.

Anakku Duapuluh Tujuh. Duapuluh Delapan dengan Suamiku
“Aku masih cantik kan, suster. Anakku saja tak henti-henti menciumi tubuhku”
Cerita tentang kesedihan Sinta. Ia baru saja menyadari bahwa Watugunung, suaminya, yang begitu dicintainya adalah anaknya yang dulu pergi dan tak kembali.

Kunjungan Terakhir di Wilayah Domestik
“Ah, Mak sayang. Tentu ia senang jika tahu aku sudah pulang”
Kisah tentang Watugunung yang pergi dari rumah karena dipukul ibunya waktu merengek minta makan.

Waktu Batu 3:Teater Garasi

Menggambar Bulan Menari di Bawah Kakiku
“Jangan berhenti dulu. Setiap kali kau berhenti, kau kehilangan kesempatan untuk berlari dariku. Apalagi, mendekatiku”
Watugunung yang marah, menyusun kekuatan untuk menguasai dunia.

Amnesia, Amnesia
“Kapal-kapal datang dari barat… Mengganti nama benda-benda. Perlahan, diam-diam, dan dalam percepatan yang melumpuhkan ingatan, mereka memaksakan wajah-wajah asing, tubuh-tubuh asing, untuk dikenakan. Dan segalanya tak lagi sama…” Continue reading »

4 comments » | solilokui

Tolong Beritahu Saya

September 21st, 2004 — 4:15am

Tolong beritahu saya bagaimana cara ‘mempertahankan’ orang-orang yang saya cintai!!!
Satu detik saja, ya hanya satu detik lebih lama bersama mereka

#
“Innalillahi wa innaillahi roji’un. Nenek meninggal dunia pukul 01.30″

Sender :
Ibu
+6281xxxxxxx

Sent :
21-Sept-2004
02:52:18

1 comment » | solilokui

Back to top