Sehabis Hujan

Posted: October 23rd, 2004 | Author: | Filed under: solilokui | 4 Comments »

Kamu suka hujan, kamu benar-benar menyukai hujan; mendengar rintiknya, menciumi sejuknya dan merasakan hawa dinginnya dan malam makin membuatmu semakin dalam. Ah, caramu mencumbui hujan membuatku cemburu, karena aku tidak pernah begitu jatuh cinta pada hujan. Aku selalu merindukan hujan tapi tidak pernah terpikir olehku untuk menjadikannya sebagai sahabat, apalagi kekasih. Hujan berarti lain bagiku. Hujan adalah kesedihan; bercampur bau aspal basah dan uap tanah dan suara kodok. Aku pasti kedinginan. Bisa jadi hujan akan membuatku sakit. Atau bahkan mati.

Aku benar-benar cemburu. Sepertinya hujan adalah sesuatu yang menyenangkan bagimu, seperti semua hal yang lain. Menikmatinya dengan melamun, merenung, membaca buku ataupun menyeruput chococinno. Bahkan jika kamu bermesraan dengannya, hujan tak akan sanggup menyakitimu, karena aku yakin hujan jatuh cinta pada senyumanmu.

Aku tahu kamu memang menceriakan dunia (akhirnya aku mengakuinya. Ah, kamu tertawa penuh kemenangan, sejenis tawa licik kubilang. Tapi kamu tetap tertawa). Seakan hari tak pernah berat bagimu. Seolah hatimu benar-benar tak pernah merasakan sakit. Indah sekali duniamu. Optimis. Kamu selalu punya cara membuat hidupmu menyenangkan, setidaknya menurutku, bahkan hal-hal kecil bisa menjadi sesuatu yang menarik. Sepertinya setiap peristiwa yang kamu alami membuat jalanmu semakin mantap. Membuat keberadaanmu kian terasa. Membuat senyummu makin lebar. Aku jadi mengerti kenapa hujan buatmu bukan berarti kesedihan.

Hei, aku tidak pernah melihat senyum itu lepas dari wajahmu.

Aku belajar banyak darimu, sungguh. Tentang bulan, bintang dan matahari. Tentang angin, air, api dan bumi…
Kamu selalu hidup untuk saat ini, carpe diem, seize the day, tidak di masa lalu maupun di hari depan dan aku belajar tentang semangat.
Kamu selalu melakukan pembenaran atas semua hal yang kamu lakukan, tidak menghiraukan apapun ketika kamu berusaha menjaga hati dari kehidupan yang sama sekali berbeda dan aku belajar tentang kesetiaan.
Kamu mengaku (dan akupun membenarkan) bahwa kamu menjadi strategic girl untuk menjaga segumpal kasih dari kikisan jarak dan waktu dan aku belajar tentang rasa syukur – dan buat apa menghabiskan sisa umur kita bersama seseorang yang cintanya memudar hanya karena jarak dan waktu, bukan begitu? -

Kamu tersenyum
dan aku belajar menyukai hidup.

Jika kamu memang ada untuk menceriakan dunia, maka aku percaya ada seseorang yang mampu menceriakan duniamu ketika kamu tak sanggup lagi, ketika hujan tak lagi datang menyapa, ketika teduhpun tidak berarti apa.

Tapi aku pernah mendengarmu menangis,
hujan itu mampir, membentuk parit, di wajahmu,
perempuan dengan senyum yang tak pernah pudar.


Taraweh

Posted: October 21st, 2004 | Author: | Filed under: solilokui | No Comments »

“mau sholat taraweh saja pakai acara doorprize segala”

ya, hanya di masjid kampus universitas gadjah mada


Kebun Rahasia

Posted: October 20th, 2004 | Author: | Filed under: solilokui | 2 Comments »

“i’ve just about to tell you that i love him, i do, i love him
i love him and i don’t care what you think
i love him for the man he wants to be
i love him for the man he almost is
i love him laurel
i love him”
Read the rest of this entry »


Oleh-oleh dari Bandung

Posted: October 19th, 2004 | Author: | Filed under: solilokui | 1 Comment »

ini oleh-oleh
meski tidak kau minta
tetap aku bawakan
selain kartika sari dan ubi panggang cilembu
aku membawa senyum tulus
dari persahabatan yang sederhana
kamu tidak melihatnya?
itu dia, terselip diantara
jeans kalapa dan peta kota bandung
biar kuambilkan untukmu
masih tersimpan rapi
berbalut kertas koran edisi minggu
semoga kamu bisa merasakannya
belum?
seperti apa? kamu meminta aku menjelaskannya?

duh…
aku tak pandai berkata-kata
semoga kata yang akan kurangkai
tidak membuat senyum yang kubawa
untukmu berkurang sedikitpun

emmm, baiklah,
sekarang pejamkan matamu
lihatlah dirimu pada sebuah cermin
ah,
betapa sempurnanya kamu
dari ujung kepala sampai jempol kaki
tidakkah kamu merasa
semakin hari semakin cantik
cobalah tanamkan syukur
lebih banyak lagi
kamu akan semakin rupawan.
saat itu,
semuanya bisa kamu lakukan
tanpa mengharap imbalan
karena pamrih tidak lagi
berarti apa bagimu, bukan?
karena sungguh tidak ada artinya

lalu
sesuatu akan menarik sudut bibirmu
membentuk senyuman

nah sekarang
kamu pasti bisa merasakannya

harganya?
hei, biasanya pembawa oleh-oleh
tidak mengharap apa
begitu juga aku
karena memang tidak perlu
tapi jika kamu ingin tahu
aku akan memberitahumu
(tapi tentu saja aku tetap memberikannya padamu dengan cuma-cuma)
: tubuh yang letih,
keringat yang membasahi t-shirt,
berpuluh bulan sabit dan tujuh ratus kilometer,
jalan yang panjang,
disesaki oleh manusia-manusia bertopeng,
kepala yang memar
memikirkan itu semua
ataupun karena sering terantuk
kaca angkot yang dibawa dengan
kecepatan jauh melebihi cahaya

tapi aku yakin
yang benar-benar;
kamu akan menyadari
bahwa harga oleh-oleh itu
benar-benar tidak berarti
dibanding dengan
rasa yang meluap-luap
yang tak mampu disimbolkan oleh kata
ketika kamu membuka oleh-oleh dariku
sama seperti apa yang aku rasakan
pada saat aku membungkusnya

itulah yang sedang kubawa
didalam backpack
selain kartika sari dan ubi panggang cilembu
terselip diantara
jeans kalapa dan peta kota bandung
untukmu

#
terimakasih untuk bandungnya, tika
yang bersahabat dan tak pernah murung


Semoga

Posted: October 15th, 2004 | Author: | Filed under: solilokui | No Comments »

“bolehkan aku memanggilmu apa adanya?
tanpa embel-embel
tanpa harus menekan shift ataupun caps-lock
bukannya aku tidak menghormatimu
aku cuma ingin berakrab-akrab denganmu
setidaknya aku ingin merasa begitu
karena aku sendiri tidak begitu dekat denganmu
atau aku yang selalu menjauh
aku tak tahu
apa yang aku tahu tentang kamu

aku ingin melakukannya hanya untukmu
ini urusan aku dan kamu; kita
maafkan jika sebelumnya aku selalu membawa siapa
dalam hubungan kita
aku seakan tak pernah tulus melakukannya untukmu
selalu ada alasan untuk itu; selain kamu
: terpaksa, tidak ada kerjaan lain, ikut-ikutan
: sombong, pamer, egois,
: munafik (tolong kikislah topengku, biarpun sedikit)
sampai aku pernah berbalik padamu, memikirkanmu
ketika aku jatuh
hanya pada saat aku hancur

aku tahu, saat itu
kamu selalu melihatku dari jauh
ya kamu selalu memperhatikanku
tidak mengasihani pun mencemooh
tak menolong apalagi menjerumuskan
kamu percaya aku bisa melewati semuanya
sendiri

dan sekarang
aku akan jujur padamu ;

aku mulai jatuh cinta padamu

di bulan yang katamu suci ini
aku benar-benar ingin melakukannya untukmu
aku ingin melakukan
sesuatu yang tak pernah
bisa aku lakukan sebelum ini
aku ingin berpuasa hanya untukmu
bukan untuk siapa
ya, hanya untukmu,
tuhan

semoga aku bisa”

#
bandung, hari pertama ramadhan