November 29th, 2004 — 5:32pm
Pagi masih saja menunggu ketika sebuah pesan pendek hadir di ponsel saya, memaksa saya untuk membuka mata; untuk menghirup embun pagi yang di bawa udara dingin; untuk sekedar menggerakkan tubuh yang masih lekat dengan mimpi. Bangun, pemalas!
“jam sepuluh : on time” Begitu bunyi pesan yang disebar seorang perempuan, teman saya, menggunakan message service centre yang kompatibel dengan salah satu jaringan operator gsm di negeri ini untuk menikmati berkirim pesan pendek secara cuma-cuma (sadarkah kalau metode semacam itu membuat kamu susah dihubungi secara on time? Hahaha). Dan juga kabar-kabar yang lain; tentang pembagian jatah penyedia konsumsi, ancaman agar mau ikut serta atau tentang hari yang telah dijanjikan, hari penggemukan badan. Continue reading »
2 comments » | solilokui
November 26th, 2004 — 11:17am
Sudah saya perhitungkan; saya bisa menyalip dua buah mobil didepan saya, toh tidak ada kendaraan lain pada arah yang berlawanan. Jalan alternatif di tepi pantai selatan pulau jawa yang menghubungkan yogya dengan kebumen ketika itu diguyur hujan yang deras, dingin yang menusuk.
Persneling empat. Perkiraan yang detil. Jalan lurus yang sepi. Wuss. Satu mobil sudah terlewati. Dengan kecepatan seperti ini rasanya bukan tidak mungkin langsung diteruskan dengan meyalip mobil satu lagi yang jaraknya hanya sekian detik.
Persneling empat. Perkiraan yang detil. Jalan lurus yang sepi. Wuss. Tiba-tiba mobil itu membanting setirnya kearah kanan; menghindari lubang dijalan, mungkin, ketika saya belum sempat mendahuluinya. Reflek yang masih tersisa ditubuh yang rapuh ini masih mampu menghindari gesekan antara tubuh manusia dan badan metal itu. Tapi licin, jalan sudah habis ketika saya terpeleset jatuh ke rerumputan.
Sraaakk!!!
Saya jatuh. Detik yang hilang. Ah, teman yang membonceng di belakang saya juga ikut terlempar ke jalan. Continue reading »
5 comments » | solilokui
November 20th, 2004 — 1:37pm
“Hahaha, kamu sama sekali tidak berubah” Sapa teman saya ketika datang untuk berlebaran dengan saya, di rumah lama, dengan mobil kijang milik kantor tempat ia bekerja yang berplat yogya ketika hari sudah gelap diantara gerimis yang akhir-akhir ini selalu menyapa kota saya.
Saya hanya bisa tertawa kecil. Tidak berubah? Dia yang pantas disalahkan, dialah yang berubah terlalu banyak dalam jangka waktu secepat ini. Lihatlah : jambang, jenggot dan kumis yang memenuhi wajah bulatnya (membuatnya selalu kelihatan lebih tua dari umur sebenarnya), perutnya yang semakin membuncit, logatnya yang sudah belepotan antara logat klaten, boyolali dan lingua franca kami dan lihat juga tabel status kawin/tidak kawin pada ktpnya sekarang. Continue reading »
2 comments » | solilokui
November 19th, 2004 — 9:21am
“Hooi fir!!” Teriak seorang perempuan manis berambut ikal berwajah cukup familiar dengan antusias, ketika saya memasuki sebuah gedung untuk memenuhi undangan perusahaan tempat bapak saya bekerja. Ah saya cukup lega melihatnya, sungguh, karena saya pikir tidak akan bertemu dengan anak sepantaran dengan saya.
“Duduk di sini aja” Dia menawarkan tempat duduk di sebelah kirinya yang masih kosong. Sayapun tersenyum dan mengangguk.
“Hai apa kabar?” Sapa saya berbasa-basi pada perempuan teman masa kecil saya.
Ah teman masa kecil; benar, kami berteman sejak kelas empat sekolah dasar, pada saat kami belum terdistorsi oleh diskriminasi gender (yang mengelompokkan ras manusia berdasar cara pipis-nya saja). Saya terkenang akan permainan galasin di lapangan depan sebuah sekolah menengah swasta tempat kami sering menghabiskan sore bersama teman-teman lainnya yang pada akhir permainan tak jarang kami berkelahi, iya kami sering berantem; saling memukul (bagi saya perempuan itu kelihatan begitu perkasa saat itu). Seperti juga sekarang : masih saja senang memukuli tubuh kurus saya. Continue reading »
1 comment » | solilokui
November 17th, 2004 — 7:06am
Aku mencium pipimu, pagi ini, kiri lalu kanan, mesra sekali.
“selamat mengulang tahun, ibu”
bisikku di telinga kananmu dan kamu tersenyum (dan teruslah tersenyum bu); membuatku semakin menyayangimu
#
Karena kamu mencintaiku lebih dari yang aku tahu
1 comment » | solilokui