Tahun yang Berat
Cepatlah berakhir…
Jika ini adalah puncak semua perih mengiris yang sering
mampir dalam beberapa waktu belakangan;
maka semua sesak di dada, mata yang kerap terasa panas, kata-kata terbata
yang keluar dari mulut adalah hal-hal remeh
pun sepele: sisi anak-kecil dari ego yang makin hari makin mengoyak sadar.
Adalah perempuan manis itu,
mengajari tanpa harus menggurui.
Sekali lagi.
Perempuan manis itu, seolah tersenyum
padaku dalam khayalan yang menembus ruang dan waktu;
beautiful release, bisiknya padaku
tanpa air mata, dengan raut wajah yang memberi rasa aman.
Perempuan manis itu, matahari yang baru saja menawarkan kehangatan;
embun pagi yang dilindas oleh episode senja yang terlalu cepat
Perempuan manis itu, usianya terhenti.
“Aku pasti akan menemukan kedamaian disana”
Katanya padaku yang tak sempat melihat sudut bibirnya untuk
terakhir kali; mengantar menuju tidurnya yang abadi.
: untuk sahabatku; adik termuda dari perempuan manis berambut ikal
now you’re in the arms of an angel,
may you find some comfort there…
Setelah sesaat aku menikmati diammu,
biarkan kulanjutkan dengan tidak
menunjukkannya kepada apa-apa,
ataupun menjejalkan sesuatu padanya,
apalagi mengartikannya dengan
tawa melindas kecewa.
Kata-kata,
sama-sama hanya kita baca,
hanya begitu.
Kalaupun ada kalanya mencibirkan getir,
melumatkan hasrat, meneguhkan niat,
itu sebab segala ulahnya ; kata-kata itu,
bukan maksudku.
Sungguh, pertama sekali ini aku
menggumamkan kata-kata yang pernah
aku kamitkan ketika engkau bahkan benar-benar
tak melihat liuk bibirku,
kukedipkan pun engkau tak menatapku,
dengan secarut coretan saja.
Kepadamu, engkau yang pernah sekali-dua
menggandeng tanganku untuk sekedar ikut merasakan
menyandung batu-batu,
menyeret kaki-kaki ke muka licinnya untuk meresapkan
bagaimana terpeleset itu.
Hhhh, selalu saja ia punya celah untuk tumpah
ruah di dalam gundah-gundah,
dan terkadang menyelimuti amarah.
sudahlah, kenapa juga kita tak benar-benar
mencoba percaya padanya, menyerahkan
resah diuapkan oleh panasnya,
meng-antuk sejuk?
…………………………..
(Eureka !!!!
aku telah menemukan jawabannya!!!)
Fase, jika kamu menyebutnya begitu, mungkin inilah fase yang paling besar dalam hidupmu1. Sebuah turning point, titik balik; diantara banyak persimpangan, jalan satu arah, mungkin sedikit jalan bebas hambatan, kemurahan petugas lalu-lintas untuk tak mengejar saat kamu menerabas rambu-rambu, traffic light dengan nyala lampu merah yang lama yang tak jarang membuat kesal, forbidden road, tempat singgah di tepi jalan yang berulang-kali menggoda; pilihan diantara bir dingin dan temulawak2 ataupun berjuta jalan berlubang, penuh kerikil dan tak beraspal yang sering kamu tapaki.
Bahwa pengalaman-pengalaman sering menjadi tepukan paling keras di punggung kepalamu saat kamu tak sadar, saat kamu bertingkah bodoh menghadapi masalah ataupun ketika bersikap; adalah cara kamu tumbuh menjadi manusia dewasa.
Masih ingatkah kamu fase hidupmu sebelum ini. Saat kamu memutuskan untuk tidak lagi menjadi egois. Saat kamu mulai belajar membagi semua yang ada padamu. Saat kamu memutuskan bahwa waktu bukan hanya milikmu sendiri. Masih ingatkah kamu akan segala cemoohan, sinisme dan gunjingan semua orang; bahkan dari sahabat-sahabatmu sendiri (duh, maaf teman; aku salah). Saat kamu mengajari aku tentang bertahan untuk terus hidup dari opini publik yang kerap menjadi pembunuh semangat.
Gadis mungil yang namanya berarti perempuan yang disayangi tuhan itu mengepalkan tangannya ketika aku tersenyum padanya; ah, aku yakin kamu telah menurunkan semua semangat, jiwa yang tegar, sapaan optimisme pada hidup maupun kekeras-kepalaan kamu.
Gadis mungil dengan paras cantik, kulit yang masih merah dan pipi yang masih halus (boleh aku menciumnya?) itu seolah membalas senyumanku; paduan sempurna antara halus sikap ibunya dan sifat bapaknya yang tak mau kalah.
Sebuah titik balik dalam hidup, temanku, aku tahu kamu juga sering berharap begitu.
_______________________
1 Aku baru sadar; kamu tak pernah tersenyum selebar tadi malam. Selamat untuk sahabatku, Candra dan Kumala; yang kepada mereka telah dititipkan sebuah anugrah.
2 Tuhan dan Bir, Sindhunata