Bulan dan Bintang

Posted: January 16th, 2005 | Author: | Filed under: solilokui | 4 Comments »

Bulan :
“Matahari memang punya banyak luka, itu sebabnya ia mudah menyala.
Aku memiliki ragam bentuk, sehingga seringkali tak sesuai dengan matahari.
Betapa sulit matahari untuk didekati.
Tapi, aku tetap dapat merasakan hangatnya, pun sentuhan mesra cahayanya, membuatku ikut bersinar.
Matahari suka pada siang, aku nyaman dengan malam.
Saling melengkapi kehidupan.
Ah, andai matahari dapat akrab juga denganmu, sahabat yang menemaniku diwaktu malam…
Selamat malam Bintang.”

Bintang:
“Tak sadarkah kau, bulan? Bahwa aku dan matahari adalah saudara kembar,
bintang-bintang yang selalu memberimu cahya dan kehangatan, murni tanpa tendensi.
Dan bukan seberapa sulit kami didekati, karena bagi kami dengan menutup matapun kamu sudah begitu dekat.
Percayalah, bahwa kami sebenarnya tidak mengenal malam dan siang,
kalaupun ternyata ada, kami akan mencintai keduanya.

Ssst, dan aku punya satu rahasia lagi tentangmu, Bulan:
Bahwa kaupun bisa bercahya, dengan atau tanpa kami;
karena sebenarnya kamu juga bagian dari kami,
bintang tercantik yang paling dekat dengan bumi manusia…
Selamat pagi Bulan.”


Sisipkan

Posted: January 11th, 2005 | Author: | Filed under: solilokui | No Comments »

Seperti semua hal yang harus dilepaskan:
tidak pernah ada kata cukup,
setelah memilikinya selama apapun.

Sisipkan airmataku diantara berjuta kesedihanmu,
semoga bisa menjadi penjaga tegarmu.

: dukacita untuk perempuan pemilik senyuman ramah


Kota yang Dicintai Gunung-gunung

Posted: January 5th, 2005 | Author: | Filed under: solilokui | 5 Comments »

Jam digital yang tak mempunyai jarum di ponsel bututku itu tampak begitu menyebalkan, seolah mengatakan padaku bahwa waktu selalu berlari tidak pernah sejenak berhenti untuk siapapun, untuk apapun, berulang kali. Malam itu, sehari sebelum tahun berganti, aku mulai mengepak pakaian dan alat mandi dan sedikit bekal pengganjal perut (uh, seandainya aku bisa mengepak masa-lalu, membungkusnya setidaknya membuatnya lebih baik atau bahkan menguburnya) dengan terburu-buru. Ya sekali lagi jam digital itu seolah berkata, bahwa waktu tidak pernah menunggu. Read the rest of this entry »