Satu Episode yang Hampir Selesai
Menunggu selama hampir satu jam di sekretariat program studiku membuat kemeja putih itu basah oleh keringat. Jam dinding itu tersenyum ketika lirikan mataku berulang kali beradu dengan detak yang beraturan ditiap detiknya. Tanganku dingin, wajahku pucat.
“Sebentar ya mas” Kata seorang ibu, karyawan di sekretariat itu. Ramah. Tidak seperti yang sering kubayangkan. Menenangkanku. Mungkin saja karena tidak tega melihatku menunggu sedari tadi. Mungkin juga kasihan . “Dosen ketua pengujinya belum selesai mengajar” Lanjutnya.
Aku menyalakan ponsel yang memang sengaja kumatikan dari pagi. Satu detik, dua detik menunggu gambar-gambar yang muncul ketika ponselku bangun dari tidur. Lalu muncul kotak kuning dilayar ponselku: New SMS: 13. Read?. Aku mulai membacanya satu demi satu. “Kenapa tidak diganti ayam saja, bukan kupu-kupu. Setidaknya kamu bisa tambah gemuk” Katamu mencoba menghibur. Ah, aku kan cuma menerjemahkan ungkapan ‘butterflies on my stomach’ yang sering diucapkan orang-orang dari eropa :p.
“Ooh jadi psikosomatis yang kemarin tuh gara-gara hari ini ya?”
“Pendadaranmu jam piro? Nangdi?”
“Jancuk, ra ngomong-ngomong”
“Sori gak bisa dateng. Goodluck aja. Emang ruangnya dimana ya?”
….
Ah, ada sesuatu yang membuatku tersenyum. Pesan-pesan singkat itu. Aku memang tidak mengatakannya pada semua orang. Hanya beberapa. Itupun tidak terlalu detil. Tidak ingin diketahui oleh siapapun. Aku akan menjadi maha panik jika mereka melihatku, disidang ujian pendadaran yang memang terbuka itu, pikirku. Akupun tidak membalas pesan-pesan itu. Continue reading »