Archive for April 2005


Duh

April 26th, 2005 — 6:51pm

Tuhan, aku tak sekuat itu…

Ah, tuhan, selepas kamu kirimkan berjuta sahabat padaku,
aku pikir aku menjadi jauh lebih kuat…

17 comments » | solilokui

Fly Me To The Moon

April 25th, 2005 — 6:08pm

: sepucuk surat untuk bulan.

Dear bulan,
aku di atas sekarang, di antara arakan awan, ya di sana, tepat di sebelahmu, kamu bisa merasakannya bukan? Di sana nyaman. Di sana adalah tempat dimana aku bisa melihat manusia-manusia, tembok beton, pepohonan, pegunungan, jurang, jembatan, pesawat, lapangan, sapi, jalan tol, biru, putih, hijau, salju dan lautan dari jauh, tanpa ketakutan. Tempat dimana aku bisa melihat senyummu dari dekat.

Aku akan menghilang setelah ini.

Bagaimana kabar hatimu malam ini? Setelah malam-malam dengan beratus mendung yang kerap menutupimu. Hhh, tidak jarang hujan itu merampas senyum dari wajahmu. Kamu tahu kan kalau aku selalu mencemaskannya? Dan semoga tuhan masih dan selalu mencintaimu, begitupun aku.

Aku akan selalu mencoba untuk ada, bulan. Menjadi senyum dan sahabat saat jatuh, takut, sepi maupun sedih, selagi aku belum menghilang. Karena aku tahu kamupun akan melakukan hal yang sama padaku. Continue reading »

4 comments » | solilokui

Dian Sastro Membaca Kartini

April 23rd, 2005 — 4:44pm

Undangan:

Dian Sastro Membaca Kartini, hari Sabtu 23 April 2005 di Akademi Kebudayaan Yogyakarta, pukul 19:00 WIB. Peluncuran buku antologi puisi Dian Sastro for President 3: End of Trilogy.

Gratis kok.

9 comments » | solilokui

Penuh Waktu

April 22nd, 2005 — 8:14am

Hari-hari melelahkan, don’t-know-will-be days aku menyebutnya, berganti begitu saja, menyeret-nyeret langkah yang masih saja tertatih jika harus berlari. Aku capek. Aku menyerah saja. Tapi kamu tidak sependapat denganku.

Dan dalam satu tarikan nafas pendek ada yang berubah; ada senyum yang muncul, ada gelak yang terbuang, ada anggukan pelan yang langsung beralih gelengan. Saat tegar maupun jatuh. Tuhan bekerja dengan cara yang sangat misterius, caranya sendiri, cara yang menjengkelkan kurasa, cara dia memberiku pelajaran hidup (ah, ternyata aku punya tuhan yang maha-pemberi-kejutan, tuhan yang juga maha-deadliner).

Days-on, days-off. Dalam hidupku konstan adalah semu, seperti juga statis, abadi, ideal dan sempurna. Tidak ada yang mengharapkanmu untuk terus-terusan tersenyum saat kamu tidak menginginkannya. Bukannya ingin mengecilkan masalahmu pun sebaliknya. Sesekali ruang egois itu perlu memaksa dunia agar kelabakan menyesuaikan dirinya dengan kita. Sesekali saja. Tak apa kan?

“Di surga kulihat sepasang mata milikmu
Pada sepasang matamu kulihat surga1

Adalah waktu-waktu itu, saat dimana aku bisa menjadi apa yang aku rasakan, dimana senyum dan airmata adalah hal yang sama, dimana empati tidak berarti jatuh bersama-sama, melainkan bagaimana bersama-sama bangkit. Ini bukan tentang hal-hal yang harus dilupakan, tapi tentang adaptasi, membiasakan diri dengan hal-hal yang tak mungkin dihapus, menjadi bagian dari cerita, suka atau tidak.

Tidakkah kamu sadari? Bagiku ini adalah ‘kerja-penuh-waktu2‘ yang menyenangkan.

_______________________

1 Ajaklah Aku Kemanapun Kau Pergi, Maulana Jalaluddin Rumi.
2 Meskipun tidak 24/7 tapi masih merupakan kalender yang tak pernah merah (hmm today its my prophet’s birthday, isn’t it?)

3 comments » | solilokui

Tidak Peka

April 16th, 2005 — 6:03am

L’Arc En Ciel De Miles-nya Incognito menyadarkanku bahwa panning bar itu rata kanan. Emm sudah berapa lama ya? Mungkin aku saja yang tidak pernah peka jika ada yang salah dengan sistem suara pada komputerku, atau mungkin pada apa saja. Seperti terjadi pada hari-hari yang sering, bukannya aku hendak memalingkan muka atau berlagak tak peduli atau menjadi anti sosial, tidak karena alasan keterbatasan kerja mataku yang silinder juga rabun, tapi karena aku memang tidak pernah pandai memindai sekeliling. Jadi maafkan jika aku berulang kali mengacuhkanmu; di jalan, di tempat makan, di perpustakaan, di pasar, di konser musik jazz, di pembacaan puisi, di masjid, di gereja, di pura, di vihara, di acara kampus, di perempatan, di pementasan teater, di kerumunan.

Bisa jadi aku tidak pernah peka, bahkan jika ada ‘sesuatu’ pada hidupku.

3 comments » | solilokui

Back to top