Archive for August 2005


Sudah Selesai Cak!

August 30th, 2005 — 11:24am

Tugas Anda sudah rampung. Tugas yang Anda tutup dengan senyuman. Sungguh. Biarlah tongkat estafet itu diteruskan oleh tenaga-tenaga muda yang masih kuat, penuh toleransi, moderat, berjalan diatas pluralisme, dan keterbukaan.

Dan terimakasih untuk meluaskan sempitnya Islam dalam pikiran kami, baik umat Islam maupun bukan. Pun mungkin saja gagasan-gagasan Anda sering dianggap kontroversial. Tapi percayalah; kami sependapat jika pluralisme adalah bagian dari ketentuan Tuhan yang tak terelakkan. Kami sadar jika perbedaan adalah suatu anugrah, bukan suatu ancaman. Semoga saja kami tidak lupa.

Selamat jalan Cak.

Nurcholis Madjid, 1939-2005

3 comments » | solilokui

Senja Tak Pernah Mampir di Sini

August 25th, 2005 — 9:30pm

Mencoba sesuatu yang baru selalu membawa sedikit ragu. Begitu juga dalam perjalanan menuju timur; tidak seperti biasanya, aku mencoba untuk tidak memilih melewati jalan antar kota dan antar propinsi itu, salah satu pondok pesantren putri ternama itu, gapura batas propinsi yang angkuh itu dan hutan jati itu. Ragu. Apalagi ketika mendapati petunjuk berisi informasi bahwa jalan yang aku pilih sedang ditutup. Hmmm, jalan terus atau berbalik ya?

Jalan mulai menanjak beberapa saat setelah meneguhkan hati untuk tetap mencoba jalan alternatif itu. Brr dingin. Mesin kendaraan sudah mulai meronta ketika dipaksa mendaki tanjakan yang terlihat tidak manusiawi itu. Duh, sesaat ada umpatan dalam hati; gila siapa yang kuat kalo jalannya kayak gini! Hahaha manusia gondrong dengan sepeda gunung dan semangatnya yang kutemui dibeberapa tikungan sesudahnya membuatku menertawakan diri sendiri yang kerap mengeluh dan mengumpat. Continue reading »

4 comments » | solilokui

Happy Belated Birthday

August 3rd, 2005 — 1:54pm

Dulu, waktu saya masih kecil peristiwa mengulang-tahun adalah hal yang paling dinanti. Kado, ucapan selamat, kartu berwarna-warni, peluk cium, senyuman, doa dan harapan. Menyenangkan sekali. Meskipun tidak pernah dirayakan secara besar-besaran dan selalu tanpa roti tart, saya menyukai saat dimana saya membuka mata dipagi hari dan melihat angka duapuluh-enam juli di kalender saya.

Sekarangpun saya masih menyukai saat-saat itu; minggu lalu, ketika menunggu jarum jam melewati angka dua-belas, dari post meridiem berganti ante meridiem, dari duapuluh-lima juli menjadi duapuluh-enam, ketika inbox menjadi penuh, ketika semua senyum, tabik dan kerling mata semua orang adalah doa yang tulus, ketika kembali disadarkan bahwa mengulang tahun tidak selalu berarti menjalani tahun yang sama, tapi tentang mengulang untuk berani bersinggungan dengan hidup, untuk membuat lebih banyak senyum, untuk mewarnai hari lebih sering, untuk menyentuh lebih banyak kehidupan, untuk kembali belajar memaknai apapun. Continue reading »

10 comments » | solilokui

Back to top