Sebenarnya Seperti Itu
Tak ada yang harus kamu lakukan
ketika bersamaku,
karena aku suka membuat segala
sesuatu menjadi lebih sederhana.
Ya, sebenarnya hanya seperti itu.
Tak ada yang harus kamu lakukan
ketika bersamaku,
karena aku suka membuat segala
sesuatu menjadi lebih sederhana.
Ya, sebenarnya hanya seperti itu.
Aku tidak suka berada di tempat yang tinggi; berada di pinggir jendela pada gedung empat lantai, di puncak tangga bambu tiga meteran atau tepian lantai atas pasar-pasar super dan hiper. Rasanya seperti ingin melompat saja ketika melihat arah bawah, selain kupu-kupu yang terbang kesana-kemari dalam perutku dan perasaan-perasaan menyebalkan lainnya. Mungkin saja phobia. Phobia yang menyebabkan aku mengurungkankan niat untuk naik kepuncak monas saat melihat tanah dari pinggir mangkuknya. Begitu juga dengan pohon jambu. Takut jatuh? Ah, padahal aku sudah sering jatuh.
Tempat yang tinggi belum tentu menarik bagi semua orang. Satu-satunya ketinggian yang tidak membuatku membayangkan macam-macam dengan proyeksi sadis, mungkin hanya gunung. Ya, gunung. Aku tidak membayangkan gunung dengan imajinasi tentang tersesat, bertemu harimau, jatuh ke jurang maupun hypothermia. Gunung adalah wajah-wajah asing yang selalu bersahabat, puncak dan fajar. Itu saja. Continue reading »
“Kamu tahu, belakangan ini aku sering berpikir. Kamu kenal pasangan yang bahagia?”
“Ya tentu saja, aku kenal beberapa pasangan bahagia. Aku pikir mereka saling membohongi satu sama lain.”
Celine dan Jesse – Before Sunrise
Mungkin tak salah. Bisa jadi seperti itu. Pemahaman-pemahaman yang menentang suatu konsep ideal biasanya memberikan lebih banyak sudut pandang. Karena tidak setiap hal dipandang atau dipahami dari sudut yang sama. Begitu juga dengan suatu hubungan. Beberapa orang memandang seperti Celine dan Jesse. Beberapa lagi mungkin tidak seperti itu. Continue reading »