Di Sudut Sebuah Warung Kopi
Berada disudut sebuah warung kopi sendiri ternyata bukan pilihan buruk. Meskipun memilih untuk duduk diluar; didekat jalan raya yang memang sudah terlanjur karut-marut. Aku mulai bisa menikmati lalu-lalang orang-orang, sesekali melihat wajah-wajah bergegas, siapa tahu aku bisa mencuri senyuman-senyuman sesaat ketika mereka melempar tatapannya. Ya, aku masih sering mencurinya. Tak apa kan?
Aku memesan segelas kopi tentu saja. Mulai menulis. Menulis apa saja; to-do-list yang perlahan beralih menjadi must-to-do-list, mengetik baris-baris kode program yang menyenangkan dan segera melampirkannya pada sebuah surat elektronik, maupun sekedar kembali menulisi jurnal ini.
Langit gelap. Bulan tak juga tampak. Sepertinya mau hujan. Ah, Maret hampir habis dan gerimis masih saja mampir. Aku minum kopi itu. Sedikit. Menikmati kebisuanku sendiri. Sesaat. Ketika bintang hanya menjadi titik putih kecil dalam kerudung malam yang pekat. Aku minum lagi. Pahit.
Awan datang, selimuti bintang. Ada tulisan 24 jam dibawah nama warung kopi ini. Mengingatkanku akanmu yang pernah bergumam padaku tentang kerja, pagi, waktu dan Vienna. Ya, tak jarang aku ingin berbagi denganmu ditempat dimana waktu bisa berhenti. Mau kubawakan kabut agar kamu tak bisa melihatku menatap sorot lelah dari sepasang mata dibawah lengkung alismu?
Sungguh, kadang aku berpikir; Sudahlah. Kenapa kita tidak menyerah saja ketika kita tidak berhasil membuat semua orang bahagia. Bisa jadi kita berusaha terlalu keras. Kenapa kita tidak menjadi sedikit lebih egois, menjadi sedikit lebih manusiawi. Dan kamu tidak juga menyerah.
Lalu sesaat aku seolah mengerti alasan kenapa Tuhan menciptakanmu.
Tak jarang aku ingin berbagi denganmu ditempat dimana waktu bisa berhenti. Meski hanya keluh yang sama. Lagi dan lagi. Aku tahu kamu tak akan jenuh mendengarnya. Begitu juga sebaliknya. Kita yang sering berbagi, with the words that nobody needs to know.
Aku minum lagi. Masih pahit. Tetes terakhir. Habis.
Aku pulang.