Archive for May 2006


Untuk Semua Sahabat

May 31st, 2006 — 11:09pm


All dearest friends,

Thanks a lot for your concern when we, Tom and I, were in Yogya. Sorry if in that time I cant reply all your text as soon as I wanted since it was pretty busy there. We went to see my friends there to check how was things with their homes and family, some of their family was injured and their houses was flat to the ground. We were arranging some aid in that time since until Sunday evening there was no aid from government reached them yet. Only aids from society around that collected independently was able to reach them. We were manage to collect some money on Saturday and planned to buy them some food, medication, clean water, and blankets but the stores mostly was still closed or damage so it wasn’t much stock to buy. Continue reading »

1 comment » | solilokui

Migunani Tumraping Liyan

May 30th, 2006 — 6:37pm

Kamar Dodi sesudah gempa. Seharusnya dia menangis, tertunduk, atau apa saja yang menunjukkan kesedihan ketika dia mengatakan bahwa kakinya patah, bahwa motornya remuk, bahwa rumahnya hancur, bahwa ayahnya telah tiada, bahwa adiknya meninggal.

Ya, seharusnya dia bersedih, tapi tidak.

Karena kehilangannya menjadi tidak istimewa, karena semua orang yang ditemuinya juga mengalaminya, karena semua orang didekatnya juga kehilangan; setelah guncangan yang meluluhlantakkan pagi di selatan kota yang ramah ini, setelah hitungan detik yang menghancurkan asa manusia, gempa tektonik lima koma sembilan skala richter di selatan Yogyakarta.

Mungkin sehari, seminggu, sebulan atau bahkan seumur-hidup dia akan terus berjuang untuk tetap tabah, untuk tetap kuat, untuk mencari cahaya bernama harapan, aku tak tahu. Yang aku tahu hanya selalu ada secuil kesempatan untuk sekedar berbuat sesuatu bagi mereka; entah mungkin hanya berdoa, mungkin sekedar menyisihkan uang, darah, waktu, tenaga atau apapun itu untuk mereka.

Menjadi manusia komplet adalah ketika kita membagi hidup dengan orang lain, melakukan kebaikan, migunani tumraping liyan; menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain, memberi dan membuat arti pada hidup. Sekecil apapun itu.

Malam-malam yang hujan, orang-orang kedinginan, aku sedikit capek. Begitu pesan pendekku padamu. Ada yang terlihat selain tangis dan kehilangan pada sorot mata mereka; ketika kami saling bersalaman, atau ketika beban itu seolah berpindah saat kami memeluk mereka, ketika mengetahui ada orang lain yang mengasihi mereka, atau ketika mereka hanya melemparkan senyum harapan dengan sedikit menahan airmata agar tidak jatuh. Mungkin kebersamaan, bisa jadi harapan. Jika memang kepercayaan, harapan dan kasih tak akan pernah hilang dalam dunia ini, maka satu yang pasti;

bahwa hidup adalah tentang mengasihi.

6 comments » | solilokui

Mencuri Senyummu

May 26th, 2006 — 7:35am

Wajahmu berseri-seri, senyum yang selalu menempel, kaus merah jambu, rambut yang masih basah mengerudungi kepalamu, membuatmu kelihatan begitu segar di pagi sebelum kamu meninggalkan kota yang ramah ini. Kamu manis, sungguh. Dan aku mencintaimu.

Aku hanya memiliki limabelas menit sebelum sosokmu hilang menuju kerumunan di balik pintu dengan tulisan departure di atasnya. Aku tahu limabelasjuta menitpun masih kurang bagiku untuk membagi semuanya denganmu. Aku juga tahu kata-kata tak pernah cukup untuk melukiskan semuanya. Aku bahkan tahu aku tidak pernah bisa menghentikan waktu. Tapi aku malah diam. Kamu juga. Aku suka berflip-flop denganmu. Dan kita mungkin sedang berflip-flop saat kita diam.

“Sukses buat kamu ya fir.” Katamu sesaat setelah kamu memutuskan untuk masuk kedalam.
“Kamu juga.” Jawabku.
“Take care!” Dan kita berflip-flop lagi. Aku senang dan aku tak bisa menutupinya.
“Ok, let’s make a wish.” Ajakmu.
“Ya, dan kita akan melakukan flip-flop lagi ketika membuat harapan.” Aku tertawa. Kamu tersenyum. Lalu aku benar-benar membuat harapan.

Sejenak aku hanya bisa melihatmu setengah berlari seolah pilot pesawat penerbangan pertama hari itu sudah menyalakan mesinnya. Aku hampir berteriak pada punggungmu sesaat ketika kamu memutuskan untuk membalikkan wajahmu ke arahku.

“I’ll miss you.” Kataku setengah berteriak.
“Miss you too.” Kamu tersenyum.

Bagaimana aku bisa mencuri senyummu jika kamu memberikannya padaku sebelum aku sempat mencurinya?

Adi Sucipto, Yogyakarta. 26 Mei 2006, 07:30 am.

2 comments » | solilokui

Selamat Hari Bulan

May 22nd, 2006 — 8:29am

Hujan turun seperti marah, pada atap bus aspada yang menuju kota yang ramah kemarin sore. Hujan yang pasti membuatmu basah setelah sesaat kamu bilang padaku jika kamu dilengkapi dengan teknologi water resistance, tahan air. Benar-benar seperti jam tangan model sport saja, tak lapuk karena tetesan air. Padahal hujan kemarin membawa hawa dingin yang menusuk, juga hembusan angin yang merobohkan pohon-pohon. Dan kamu malah menikmatinya. Tidakkah kamu kedinginan?

Aku harap hujan itu segera berakhir.

Aku selalu ingin menulis tentangmu. Kamu tahu itu. Dan kamu pernah memprotesku ketika kamu menganggapku melihatmu secara hiper-realistik. Pada akhirnya semua orang lebih menghargai kejujuran daripada sanjungan. Anggap saja aku sedang terlalu jujur padamu. Ya, anggap saja begitu. Selalu ada sesuatu yang tersimpan, mungkin hal-hal kecil, darimu sehingga aku ingin menyampaikannya padamu. Entah lewat jurnal ini, lewat pesan-pesan pendek, tulisan di halaman buku, ceplas-ceplos ketika kita bertemu, jendela Yahoo!Messenger, atau cuma empat menit limapuluh sembilan detik di tengah malam. Hal-hal kecil itulah yang membuatmu begitu menyenangkan.

Ya, kamu bisa menjadi berkat bagi orang-orang yang mengenalmu, kamu juga bisa melukai hati mereka. Kamu adalah sahabat dalam semua kecemasanku, kamu juga bisa menjadi sesorang yang tak pernah mempunyai waktu bagi orang-orang yang kamu cintai. Kamu bisa menjadi malaikat dengan senyuman yang tak pernah pudar, kamu juga bisa menjadi monster dengan dua tanduk di kepala. Kamu juga sadar jika kamu tidak selalu bisa menjadi orang baik. Kamu bisa menjadi awal harapan kecilku, kamu bisa menjadi alam-semesta rahasiaku yang menyenangkan dan membawa rasa nyaman. Selalu ada sesuatu yang tersimpan, mungkin hal-hal kecil, darimu sehingga aku ingin menyampaikannya padamu.

Cuaca hari ini bagus. Sudah tidak hujan. Waktu yang baik untuk menata hati, untuk bangkit berdiri. Karena itulah bersama selalu lebih baik dari sendirian, agar kamu bisa menjadi payung tahan air ketika hujanku mampir dan aku bisa membantumu berjalan ketika angin yang kencang berhembus datang.

Dan sering-seringlah tersenyum karena senyummu adalah hadiah Tuhan untuk setiap orang yang kamu temui hari ini.

Mau bertemu denganku, sahabatku?

2 comments » | solilokui

Ketika Aku Mengatakan Aku Mencintaimu

May 9th, 2006 — 1:49pm

Aku bahagia.

3 comments » | solilokui

Back to top