Let Me Sing A Song For You

Posted: August 31st, 2006 | Author: | Filed under: solilokui | 4 Comments »

Aku akan bernyanyi untukmu. Ketika pagi datang dan cemas itu mampir; tentang dedaunan yang mungkin mengering, tentang perasaan yang mungkin memudar, tentang hati yang mungkin tersakiti. Biarkan aku menyanyikan sebuah lagu untukmu sahabatku. Lagu tentang sebuah cerita yang baru saja kita mulai. Lagu tentang perasaan yang bertemu di sudut hati. Mungkin cinta tidak sepesimis cemasmu. Barangkali ia seperti embun yang selalu ada dan datang di setiap pagi ketika pertama mata kita terbuka, basahi daun-daun, bunga-bunga dan rerumputan; menjaga mereka agar tidak kering dan layu.

Aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu sahabatku sayang. Saat pagi datang bersama senyummu. Saat kamu tak lagi risau. Lagu tentang langkah-langkah kecil, tentang perjalanan, tentang kenyamanan. Lagu tentang hidup, bulan dan bintang. Lagu tentang rindu, pulang dan rumah. Oh ya, dan tentu saja lagu tentang hatimu.

Mendekatlah padaku; aku akan bernyanyi untukmu sayangku.


Sebentuk Bulan

Posted: August 7th, 2006 | Author: | Filed under: solilokui | 7 Comments »

sebentuk bulanKuletakkan sebentuk bulan
dalam hatiku.
Dan setiap degup
menjelma kenyamanan.


Berjuta Musim

Posted: August 3rd, 2006 | Author: | Filed under: solilokui | 7 Comments »

Aku berjalan melewati jalan yang menghubungkan kampus MIPA dan Fisipol. Jika pagar Gedung Pusat dibuka maka jaraknya hanya sekitar limaratus meter dan aku tidak perlu memutar terlalu jauh. Aku senang menikmati rindangnya pohon yang memayungi dari terik di sepanjang jalan aspal itu. Ada satu bagian waktu dimana aku pernah berkutat dengan pernak-pernik kesibukan mahasiswa di universitas ini.

Perempuan dengan senyum yang tak pernah pudar. Aku pernah memanggilnya seperti itu karena siapapun akan tersenyum jika melihat tatapan mata cerianya, jadi aku pikir jika senyum itu pernah pudar dari wajahnya maka senyuman dari pribadi-pribadi yang pernah bersentuhan hidup dengannya akan membuatnya mendapatkan senyuman itu kembali. Penuh gairah, cerdas dan jalannya sangat cepat. Terpaut satu angkatan dibawahku tapi itu tidak membuatku menganggapnya tidak lebih dewasa dariku. Aku malah lulus lebih lambat darinya. Fisipol. Aku sering bergumam padanya jika aku lebih suka kuliah di kampusnya daripada berkutat dengan teori Ilmu Komputer.

“Global village itu teorinya McLuhan,” katanya.
“Bukan Habermas?”

Tapi ketimbang global village aku lebih menyukai teori dua kursi dengan satu meja di sudut yang dikatakannya karena aku sangat menyukai saat-saat ketika aku bisa berada didekatnya.

Bangunan Fisipol selalu tampak meneduhkan buatku. Begitu juga dengan perempuan dengan senyum yang tak pernah pudar, sebentuk kenyamanan yang begitu mencintai hidup. Sosoknya sering berjalan-jalan di kepalaku untuk membuatku tersenyum dan merasa nyaman. Aku merindukannya.

“Dulu kamu pernah membuat satu puisi untukku, kamu ingat?” Kataku. Ya, dua tahun lalu, tepatnya satu november.
“Ya”
“Kamu menulis ini; untuk seorang yang semoga bukan sahabat semusim”
“Aku menulis itu?”
“Hahaha. Ya, pada bagian bawahnya”

Sahabat tidak seperti durian, berbuah dan menjadi harum saat musim hujan saja; sahabat itu mungkin seperti edelweis, susah dicari namun abadi.

Perempuan dengan senyum yang tak pernah pudar. Sahabatku dengan bahu kecil yang begitu nyaman. Masih saja membagi kasih melalui senyumnya pada semua orang yang ditemuinya, pada sahabat-sahabatnya, teman-teman kantornya, orang-orang asing. Dan pagi ini dia membagi kasihnya padaku;

“Aku mencintaimu, sahabat berjuta musimku…”