Windproof

Posted: September 20th, 2006 | Author: | Filed under: solilokui | 12 Comments »

Aku berhenti di depan Parsley, salah satu toko roti di sekitaran jalan Kaliurang. Aku suka roti bawangnya, garlich bread, selain buatan Pizza Hut. Hap, aku mengambil satu roti bawang dan satu roti moccachino untuk bekal perjalanan di kereta.

Masih tigapuluh delapan ribu rupiah; harga tiket kereta ekonomi menuju kotamu, mmm bukan, bukan kotamu, tapi kota dimana kamu berada, sahabatku. Dan calo-calo tiket Lempuyangan masih saja menyesatkan para calon penumpang yang takut kehabisan tiket maupun tempat duduk.

Berinteraksi, membagi cerita dan senyum, singgah sebentar di ingatan tiap-tiap manusia yang kita temui atau hanya berbasa-basi; di kereta api kelas ekonomi yang terkadang kejam tapi tidak jarang sangat ramah. Dalam hitungan menit sebelum jam pemberangkatan aku sudah berakrab-akrab dengan dua orang pemuda dan seorang nenek perokok yang sangat merindukan cucu pertamanya.

Cerita dan tawa. Mungkin saja karena Yogya begitu ramah, sahabatku. Hampir semua yang berasal dari kota ini bisa membagi senyumnya, seperti aku dan kamu juga tentunya. Dari cerita tentang mahasiswa baru yang tidak direstui orangtuanya kuliah di kehutanan sampai pengalaman kecurian di kereta. Ah, aku jadi ingat tentang stasiun Tanah Abang sebulan yang lalu, waktu itu aku juga hanya ingin bertemu denganmu saja sama seperti saat ini, ditempel empat orang bertubuh gempal yang selalu mendorong-dorong tubuh kurusku dan sebuah tangan yang aktif menggerayangi saku celanaku. Aku hampir kecopetan. Hampir. KRL berangkat dan mereka tidak berhasil mengambil ponsel bututku. Wajar. Aku saja susah mengambil apapun itu dari saku celanaku. Sempit. Aku tidak suka stasiun Tanah Abang.

Pasar Senen jam tiga pagi bersama seorang teman yang masih tersisa. Kamu pasti belum bangun dan bus nomor duapuluh juga masih sepi. Aku menunggu semburat fajar muncul sembari duduk di kursi stasiun. Stasiun yang tidak pernah tidur, orang-orang yang bergegas, waktu yang selalu mengejar. Lalu aku tertidur berbantalkan backpack. Read the rest of this entry »