Archive for November 2006


Sepotong Percakapan di Suatu Malam

November 19th, 2006 — 7:15pm

“Kamu nyanyi buatku dong fir,” suara cempreng di suatu tempat yang jauhnya ratusan kilometer dari tempat tidurku. Kamu merajuk.
“Heh? Nggak ah. Dah malem tau, nanti semuanya bangun.”
“Ayolah, aku suka saat kamu menyanyi untukku.”
“Ah, kamu sih suka apa saja yang kulakukan untukmu. Suaraku jelek. Kamu saja yang menyanyi untukku, bagaimana?”
“Suaraku lebih jelek, kamu saja.”
“Huu…,” aku diam sesaat dua. Lalu mulai mencoba menempatkan not-not yang keluar dari mulutku pada tangga nada yang sesuai. “I like the feel of your name on my…
“Eh, tunggu! Tunggu! Gak kedengeran nih, kamu nyanyi kayak bergumam gitu. Dah tau kualitas pendengaranku jelek. Diulang dong, tapi yang jelas ya,” katamu menginterupsi nada-nada fals yang lirih itu. Tidak sopan!

Baiklah. Aku akan bernyanyi untukmu. Literal. Aku benar-benar akan bernyanyi untukmu. Aku suka melakukannya. Sungguh. Lalu lirik I love the way you love me mulai keluar dari pita suaraku. Kamu terdiam, mungkin tertidur.

“Terimakasih. Aku suka.” Kamu terdengar begitu gembira saat aku selesai bernyanyi. Ah, aku juga ikut senang.
I love the way you love me.”
“Hehehe. Me too,” kamu tertawa. “Mmm, ada lirik yang gak begitu jelas kudengar tadi. Bisa kamu membacakan liriknya untukku?”
“Enggg. My pronunciation is awful, you know it. Aku terjemahkan saja ya? Tapi aku akan mengartikannya semauku saja.” Tawarku sekenanya. Continue reading »

9 comments » | solilokui

Empat Puluh Tujuh

November 17th, 2006 — 4:16pm

Selamat mengulang tahun, ibu.

Semoga ibunda tetap menjadi
pagi dimana embun dan matari
iringi semangat pembuka hari;
bagi hidup kami.

Semoga ibunda tetap menjadi
guru; seperti gurat sungai
yang makin jelas itu,
sungai di sudut mata ibu…
yang selalu ajari ananda
tentang sabar, kasih dan syukur.

Sayang dan cinta dari ananda
yang masih terus mencoba
membuat senyum di wajah ibu.

2 comments » | solilokui

Hujan Pertama

November 8th, 2006 — 9:28pm

Tidakkah kamu
menciumnya sayang?

Bau tanah basah
dan rindu yang membuncah…

2 comments » | solilokui

Aku Jatuh Hati

November 4th, 2006 — 4:19pm

Aku jatuh hati padamu; perempuan dengan senyum yang tak pernah pudar.

Aku menyukaimu. Tidak pada sapa saat kita baru bertemu. Tidak juga ketika mata kita saling bertatapan untuk kali pertama. Tapi waktu kita mulai mencoba merangkai kata saat berbagi kisah tentang hidup. Saat perjumpaan-perjumpaan itulah aku mulai menumpuk kasih. Aku benar-benar menyukaimu. Lesung pipimu yang muncul ketika kamu tersenyum. Celotehanmu yang tak jarang tidak kamu pikirkan dulu. Narsismu yang muncul saat mematut diri di depan cermin, kaca etalase bahkan kaca mobil. Semua kerja kerasmu untuk keluarga dan impianmu. Perempuan yang kuat. Iya, manusia kuat tidak melahirkan manusia kuat juga, manusia menjadi kuat karena hidup dan semua kisah yang mengikutinya dan orang-orang yang mendukungnya tentu saja. Tapi aku rasa sifat itu diturunkan dari orangtuamu, dari cara mereka mendidikmu. Lalu oia, sikap kontra kamu terhadap media yang membentuk citra bagaimana fisik perempuan seharusnya dengan seenaknya. Padahal kulit kamu putih, rambut kamu bisa panjang dan lurus dan kamu cantik. Ya, kamu sering berandai-andai jika kamu dilahirkan tidak dengan rupa seperti sekarang (dan rasanya aku akan tetap jatuh hati padamu sayang) untuk membuktikan bahwa semua perempuan itu cantik. Karena cantik itu bukan masalah fisik.

Aku jatuh cinta padamu di enambelas jam yang menakjubkan itu. Telingamu yang setia mendengar keluh kesah dan bahagiaku, meski sesekali kamu menyela ceritaku. Lalu kamu mengambil sebentuk bulan dan meletakkannya pada suatu sudut di dalam hatiku.

Aku mencintaimu; perempuan dengan senyum yang selalu membawa rasa nyaman. Semakin dalam setiap saatnya. Ada syukur yang amat mudah terucap kepada Pemberi Kasih saat pertama mata terbuka. Aku senang ketika mendengar cerocosan suaramu di seberang sana ketika aku membangunkanmu di pagi-pagimu. Aku suka saat kita memasukkan syukur, harap dan hidup kedalam doa kita; syukur tentang satu hari lagi yang diberikan oleh Pemilik Waktu, tentang apa saja yang sudah, sedang dan akan terjadi, tentang nikmat, kasih dan karunia, harapan tentang keluarga, hidup, hati, aku, kamu, kita dan masa depan.

Aku menikmati saat-saat bersamamu sayang. Menghabiskan berjam-jam untuk mengobrol, bercerita dan berbagi tanpa merasa bosan. Menjadi diri sendiri atau bahkan berubah tanpa mengekang ruang gerak dan karakter masing-masing. Mengimbangi jalanmu yang cepat dengan sedikit berlari-lari kecil jika sudah tertinggal cukup jauh untuk mendengar celotehanmu. Sesekali mencuri kecupan. Atau ketika aku bisa mengatakan apa saja kepadamu. Saat aku bisa membagi semua kepadamu, ya, semuanya, karena kamu begitu nyaman. Bahwa hubungan antar manusia tidak harus melulu tentang proses kompromi. Bahwa ada yang disebut harmoni, selaras, ketika seseorang menemukan nyamannya. Seseorang yang membuatnya merasa komplit, seseorang yang bisa mengimbanginya. Karena Pembuat Hidup menciptakan pasangan yang sepadan untuk setiap manusia yang Ia buat.

Dan aku yakin Dia tersenyum ketika menciptakanmu, kamu… kenyamananku.

6 comments » | solilokui

Bukan Blogger yang Baik

November 3rd, 2006 — 1:44pm

Saya sebenarnya bukan penulis jurnal maya yang baik. Tak apa kan? Saya hanya ingin menghiasi hidup kalian. Tidak semua penulis jurnal maya itu mengikuti etika. Saya contohnya. Tulisan-tulisan saya jarang menyentuh kejadian yang sedang menjadi trend dalam dunia nyata. Jurnal biasanya mengulas hal-hal semacam itu, bukan begitu? Tidak ada tulisan tentang selamat datang Ramadhan atau Idul Fitri. Tidak ada tulisan tentang perang Libanon, kabut asap Balikpapan (hai Tung) dan Sumatera Selatan atau bahkan lumpur Sidoarjo. Saya jadi ingat ketika saya berkenalan dengan seorang sahabat.

“Punya blog?” Tanyanya.
“Ya, di kakilangit,” jawab saya. “Tapi saya hampir tidak pernah menulis tentang teknologi di blog saya,” padahal waktu itu saya sedang merampungkan kuliah Ilmu Komputer, hahaha (ingat Nick?).

Saya juga tidak selalu menulis tentang kejadian-kejadian besar yang terjadi dalam hidup saya apalagi hal-hal remeh. Seperti waktu saya berhasil menghadiri upacara wisuda saya di Grha Sabha Pramana atau perjalanan mengunjungi adik saya yang juga menjadi sarjana di Unair beberapa saat setelahnya. Tentang ulang tahun. Tentang perjalanan membelah pulau Jawa. Pun kisah kehidupan para sahabat yang menyentuh saya; pernikahan, kelahiran dan kematian. Bahkan saya tidak becus berkomentar pada blog teman-teman; kalian atau sekedar kenalan yang meninggalkan alamat uri pada situs saya. Tidak jarang saya cuma mengunjunginya dan membaca tulisan-tulisan kalian. Jangan berhenti menulis yah, meski saya tidak meninggalkan jejak pada shoutbox atau kotak komentar kalian.

Dan bukannya saya malas menulis, saya menulis jika saya ingin menulis dan jika sempat! Tapi saya suka membaca. Membaca tulisan-tulisan kalian. Iya, jadi saya itu penikmat tulisan-tulisan kalian. Pembaca kisah hidup kalian.

1 comment » | solilokui

Back to top