Archive for April 2007


Monolog Sungai

April 16th, 2007 — 11:31am

Mungkin memang aku lahir dari air. Air suci dari bejana Brahma. Air yang digunakan untuk membasuh kaki Wisnu. Dari air kembali menjadi air. Aku turun dari nirwana untuk menjadi sungai. Sungai yang akan menyucikan enampuluhribu jiwa anak-anak Sagara. Airku yang bisa mengembalikan jiwa-jiwa ke nirwana.

Mungkin memang aku dilahirkan sedemikian cantiknya, sehingga dapat membuat Shantanu terpikat. Dia memintaku menjadi istrinya. Ah, raja Hastinapura itu benar-benar tergila-gila padaku. Aku mengiyakannya hanya dengan satu syarat; Jangan pernah mengajukan satu pertanyaanpun pada semua yang aku kerjakan!

Dan dia setuju.

Mungkin aku adalah ibu paling kejam di dunia. Aku hamil. Anakku. Anak Shantanu. Ia lahir. Aku menggendongnya menuju sungai dimana pertama Shantanu melihatku. Lalu aku membuang anakku. Iya, aku membuang darah dagingku sendiri ke dalam sungai. Setelah itu aku kembali ke istana dan tersenyum ketika bertemu dengan suamiku, Shantanu.

Dia hanya diam. Dia telah berjanji untuk tidak menanyakan apapun yang kukerjakan. Dan dia menepatinya dalam sorot mata penuh kesedihan dan kebingungan. Ah, Shantanu, Shantanu…

Demikian juga dengan anakku yang kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh… Aku membuang mereka semua ke sungai. Shantanu hanya menangis penuh kepedihan.

Ah, aku mengandung lagi. Anak kedelapan kami. Seperti biasa aku akan membawanya menuju sungai, lalu membuangnya begitu saja. Ya, seperti biasa. Aku mulai berjalan. Menggendong seorang bayi.

“Hentikan!”

Aku menoleh ke belakang. Aku tahu itu adalah suara suamiku, Shantanu.

“Aku tidak tahan dengan kelakuanmu! Kau selalu membuang bayi-bayi yang keluar dari rahimmu sendiri,” aku melihat seorang Shantanu yang tidak bisa menahan dirinya untuk marah. “Kenapa kau lakukan ini semua?”

Dan ia melanggar janjinya sendiri.

Aku tersenyum.

“Kau telah melanggar janjimu sendiri, Shantanu. Sudah saatnya aku pergi. Aku akan membawa anak kedelapan ini dan membesarkannya,” ya, setelah kau menelan kembali sumpahmu, aku harus kembali Shantanu. “Aku akan mengembalikannya padamu jika tiba waktunya.”
“Tttunggu! Siapa kamu sebenarnya?!?!”
“Aku adalah ibu dari anak ini,” dan anak ini akan kunamakan Bhisma, Shantanu. “Aku adalah dewi sungai. Namaku Gangga.”

Mungkin aku adalah ibu paling kejam. Dan aku melahirkan Bhisma; manusia terluhur yang pernah ada.

Monolog Sungai adalah lakon Teater Garasi pada 5-6 April 2007

10 comments » | solilokui

Menikmati Kematian

April 11th, 2007 — 6:29pm

Menikmati semua hal yang terjadi dalam hidup menjadi sangat mudah jika mereka membuatmu tersenyum. Tapi tentunya tidak jika membuatmu menangis. Atau Jika menyenangkan, dan bukan menyusahkan. Padahal manusia tak dapat memilih selalu tersenyum tanpa menangis. Tak mungkin untuk terus-terusan berada di sisi yang menyenangkan. Iya, di semua kisah kehidupan manusia yang pernah ditulis, dongeng tentang peri maupun cerita dalam kitab suci, kehidupan tidak pernah digambarkan semulus itu. Tapi setidaknya kita bisa memilih untuk menikmatinya, seburuk apapun keadaannya.

Tidak seperti beberapa hal dalam hidup yang tak dapat kamu lakukan sendiri; kematian menjadi sesuatu yang mustahil untuk dinikmati. Pun berbeda dengan kelahiran maupun pernikahan yang memberi nafas pada kehidupan, kematian mengambilnya. Kematian biasanya disimbolkan dengan duka, hitam dan air mata. Sekilas tak ada keindahan disana. Atau memang benar-benar tidak ada.

Menikmati sesuatu akhirnya menjadi sangat subyektif. Menikmati kematian tidak sama dengan menikmati sebuah kelahiran, lagu yang bagus, biru langit, pertunjukan seni, bau tanah basah, hujan, pantai, maupun senyum para sahabat. Kant menyebutnya sublim. Perasaan yang hadir ketika mendengar guntur, amuk badai, malam yang pekat maupun kematian itu sendiri.

Ketika manusia hanya bisa pasrah, menangis, kehilangan, menyesal, maupun mengingatnya saat masih hidup, orang yang baikkah? Menjadi berkat bagi sesamakah? Atau melihat banyaknya karangan bunga di depan rumah duka. Menyadari begitu kecilnya manusia di hadapan kematian. Ya, menikmati hal-hal semacam itu.

Beberapa orang mati muda. Di hidupnya yang singkat beberapa sudah melakukan hal-hal menakjubkan, menikmati hidupnya, menghargai betapa berharganya waktu. Beberapa lainnya hanya mampir untuk sekedar bernafas sejenak. Ironis. Aku sering merasa akan mati di usia muda. Menjadi bintang jatuh. Menjadi komet bagi hidup orang-orang di sekitarku.

Bagiku menikmati kematian tidak pernah mudah. Itu selalu menjadi sebuah kontemplasi tentang betapa berharganya kehidupan, waktu dan sahabat. Kontemplasi tentang keabadian. Manusia yang bisa hidup selamanya di suatu sudut dalam hati orang-orang yang pernah bersentuhan hidup dengannya.

1 comment » | solilokui

Back to top