Paman Gober Belum Juga Mati

Posted: January 16th, 2008 | Author: | Filed under: solilokui | 13 Comments »

Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.

Kematian Paman Gober – SGA

Paman Gober belum juga mati. Koran, radio, blog bahkan semua media informasi di seluruh negeri membuatnya menjadi headline. Pemerintah negeri bebek tersenyum simpul. Sedikit lega. Tak lagi menjadi sorotan, tak lagi dicecar rakyat; yang masih terendam banjir, tertimbun longsor dan tercekik harga kedelai.

Pemerintah negeri bebek belum lupa jika rakyatnya mudah dibuat lupa.


Dari Tumbaling Gegayuhan Sampai Tuk

Posted: January 13th, 2008 | Author: | Filed under: solilokui | 6 Comments »

Selalu ada rasa kangen untuk melihat pertunjukan seni saat berada di Yogya. Bisa jadi karena kota ini tidak pernah kehabisan ide, talenta dan semangat berkesenian di tengah geliat kapitalisme. Menjadi surga bagi seniman maupun penikmat seni. Saya mungkin termasuk jenis kedua, seorang penikmat seni yang tidak harus menjadi ahli, karena sebuah pertunjukan seni bagi penikmatnya selalu menjadi semacam pengisi pundi jiwa yang kerap kosong.

Adalah kosong; ketika menjadi serba bergegas dan sia-sia menemukan keindahan hidup gara-gara dikejar target; mengutip Bre Redana. Sebuah tagline seni instalasi dari Dagadu di Biennale Yogya menyindir saya tentang kerja dan kekosongan; Kerdja Keras bagai Koeda, Kedjar Tjitra-jitra! Soegeng Makarja. Lalu seketika itu juga Gibran menjadi kadaluarsa; kerja bukan lagi pengejawantahan dari cinta, bukan begitu? Alih-alih melambat dan memaknai hidup; saya malah seringkali membuat resolusi untuk mempercepat langkah dan membudayakan kebergegasan pada pergantian tahun.

Saya menyukai teater, mungkin Anda juga, dan tak sedikit yang seperti Anda dan saya. Tapi menurut saya teater di negeri ini adalah semacam paradoks. Gempita seni pertunjukan tak serta merta membuat teater tak termarjinalkan. Saya yakin pengalaman berteater akan membuat keahlian para seniman seni pertunjukan semakin komplet, saya pikir itu jauh lebih dari pada main sinetron. Tapi tetap saja ia menjadi anak tiri seni pertunjukan lain seperti film dan musik. Padahal teater merupakan salah satu seni pertunjukan tertua dan ia telah menjadi bagian dari kehidupan tradisional masyarakat di beberapa daerah. Sebut saja lenong, ludruk atau kethoprak. Read the rest of this entry »