Archive for March 2008


Alan

March 14th, 2008 — 5:14pm

Kami bertemu dengannya di lantai dua Taman Budaya Yogyakarta sewaktu menunggu seorang teman yang belum juga nampak. Di depan pintu masuk pertama, sembari mengamati manusia yang lalu-lalang di balkon besar itu. Ia memakai celana pendek, jaket kulit coklat, tas cangklong dan sepatu keds. Tidak begitu kumal. Tapi tak bisa dibilang bersih.

Sejenak kamu menyadari perbedaan kultur berpakaian penikmat budaya di Yogyakarta dan Surabaya. Celana jeans, kaus T; biasanya hitam, karena itu adalah warna yang tak mudah kotor, sandal atau sepatu keds. Natural. Nyaman. Dan biasanya penonton pertunjukan seni dan budaya selalu membludag di sini. Kamu lalu membandingkan penikmat di Cak Durasim ketika Sarimin dipentaskan. Lalu kita tertawa.

Ia membawa papir dan tembakau. Kulit wajahnya sudah bergurat banyak, menandakan ia tak lagi muda. Kurus. Ceria. Kulit putih, mata biru dan rambut pirang. Sejenak dia memandangi kami yang duduk lesehan di depan pintu yang tak terbuka.

“Saya dapat tiket dari calo,” tanpa basa-basi dia menggerutu pada kami dengan bahasa Indonesia yang fasih.
“Berapa harganya?” tanyamu.
“Tigapuluh lima ribu,” sambil duduk di samping kami ia masih menyatakan kekesalannya. Ia lalu mengacungkan sekilas tiket Sidang Susila berwarna kuning.
“Selamat datang di Indonesia,” gurauku. Kami tertawa. Ia tidak. Continue reading »

Comment » | solilokui

Kiri atau Kanan

March 14th, 2008 — 11:49am

Aku melihat jam mekanik di pergelangan tanganku. Pukul duapuluh kurang beberapa detik.

“Dah mulai tuh teaternya,” aku menggodamu.

Kamu tersenyum-senyum. Tenang atau kalut, aku tak tahu.

“Aku tunggu dia. Kamu masuk aja dulu,” sahutku lagi. “Nanti aku susul”.
“Gak ah,” jawabmu sambil mencoba menghubungi seorang teman yang tak kunjung datang.

Seorang teman dari kota yang jauh, sedang berkunjung ke Yogya. Terpesona dengan monolog Sarimin, dia mencoba peruntungannya dalam Sidang Susila. Pukul duapuluh seharusnya pentas teater Gandrik itu dimulai. Ia masih juga belum tampak. Kami berdua sedikit was-was. Tersesat. Tak tahu arah. Itu dugaan terburuk. Untung saja belum ada tanda-tanda pertunjukan dibuka.

Kami harus menunggunya.

“Dimana?” Tanyamu setengah berteriak begitu hubungan telekomunikasi tersambung.
“Nih ngomong aja sama Firman,” serumu setelah beberapa saat, lalu menyerahkan k750i-mu padaku. Putus asa mungkin. Atau malah semakin bingung setelah mencoba mengarahkannya menuju tempat ini. Perempuan memang dikaruniai pemetaan yang lebih buruk dari laki-laki.

“Halo, sampai di mana?” Tanyaku padanya.
“Hai Fir, di halte Trans Jogja nih. Terus ke mana?”
“Eh?”

Halte bus berwarna hijau teduh itu puluhan. Di sekitar Taman Budaya Yogyakarta saja ada sekitar tiga kalau tak salah. Dua di dekat Shopping. Satu di depan Vredeburg. Continue reading »

4 comments » | solilokui

Back to top