<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rumah solilokui</title>
	<atom:link href="http://kakilangit.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kakilangit.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Aug 2009 02:22:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sajak Seorang Tua untuk Istrinya</title>
		<link>http://kakilangit.com/2009/08/sajak-seorang-tua-untuk-istrinya/</link>
		<comments>http://kakilangit.com/2009/08/sajak-seorang-tua-untuk-istrinya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 02:22:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kakilangit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kakilangit.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.
Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.
Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku tulis sajak ini<br />
untuk menghibur hatimu<br />
Sementara kau kenangkan encokmu<br />
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang<br />
Dan juga masa depan kita<br />
yang hampir rampung<br />
dan dengan lega akan kita lunaskan.</p>
<p>Kita tidaklah sendiri<br />
dan terasing dengan nasib kita<br />
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.<br />
Suka duka kita bukanlah istimewa<br />
kerna setiap orang mengalaminya.</p>
<p>Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh<br />
Hidup adalah untuk mengolah hidup<br />
bekerja membalik tanah<br />
memasuki rahasia langit dan samodra,<br />
serta mencipta dan mengukir dunia.<br />
Kita menyandang tugas,<br />
kerna tugas adalah tugas.<br />
Bukannya demi sorga atau neraka.<br />
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.</p>
<p>Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu<br />
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.<br />
Kita adalah kepribadian<br />
dan harga kita adalah kehormatan kita.<br />
Tolehlah lagi ke belakang<br />
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.</p>
<p>Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.<br />
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.<br />
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit<br />
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.<br />
Dan kenangkanlah pula<br />
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa<br />
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.</p>
<p>Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.<br />
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.<br />
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.<br />
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,<br />
nasib, dan kehidupan.</p>
<p>Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna<br />
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.<br />
Kita menjadi goyah dan bongkok<br />
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita<br />
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.</p>
<p>Aku tulis sajak ini<br />
untuk menghibur hatimu<br />
Sementara kaukenangkan encokmu<br />
kenangkanlah pula<br />
bahwa kita ditantang seratus dewa.</p>
<p>WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua, 1972</p>
<blockquote><p>Saya cuma ingin berbagi salah satu sajak yang paling saya sukai dari sang burung merak, W.S. Rendra (1935-2009).</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kakilangit.com/2009/08/sajak-seorang-tua-untuk-istrinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dikutuk untuk Hidup</title>
		<link>http://kakilangit.com/2009/08/dikutuk-untuk-hidup/</link>
		<comments>http://kakilangit.com/2009/08/dikutuk-untuk-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 02:52:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kakilangit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kakilangit.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[ Tragedi kehidupan manusia adalah kefanaan kita; yang berarti satu-satunya hal yang pasti menunggu kita di akhir kehidupan adalah kematian. Saya suka dengan film besutan Robert Zemeckis yang dibintangi Bruce Willis, Meryl Streep dan Goldie Hawn; Death Becomes Her. Film yang menuturkan bahwa keabadian adalah sebuah kutukan. Kita memerlukan kematian untuk memberi wujud dan arti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/kakilangit/3784756012/"><img alt="" src="http://farm4.static.flickr.com/3503/3784756012_e68f0d88a7_m.jpg" title="Senja" class="alignleft imgLeft" width="161" height="240" /></a> Tragedi kehidupan manusia adalah kefanaan kita; yang berarti satu-satunya hal yang pasti menunggu kita di akhir kehidupan adalah kematian. Saya suka dengan film besutan Robert Zemeckis yang dibintangi Bruce Willis, Meryl Streep dan Goldie Hawn; Death Becomes Her. Film yang menuturkan bahwa keabadian adalah sebuah kutukan. Kita memerlukan kematian untuk memberi wujud dan arti sebuah kehidupan. Tanpa itu, kita akan menemui kehidupan yang tak berarti, <em>pointless</em>. Dalam sudut pandang ini, jika neraka adalah laknat abadi, maka bagi Hades hidup yang kekal sudah cukup sebagai tempat penghukuman. </p>
<p><span id="more-186"></span>Tidak mengejutkan mengetahui banyak orang yang menginginkan keabadian. Dapat dimengerti. Pada dasarnya yang kita inginkan adalah lebih banyak waktu untuk hidup. Dan 60 tahun, jika kita beruntung, tampaknya belum cukup lama. Ada banyak tempat yang harus dilihat, banyak yang harus dilakukan dan pengalaman-pengalaman yang belum kita rasakan, ah. Jika saja kita punya waktu lebih banyak untuk melakukan itu.</p>
<p>Sebanyak apapun jatah hidup kita, tampaknya tak akan pernah cukup. Tapi ironisnya kita lebih sering membuang-buang waktu, kita tak jarang tidak terlalu lapar untuk menggunakan waktu yang kita punya dengan sebaik-baiknya.  Lain lagi jika waktu kita tak terbatas, dengan jatah waktu infinitif, tentu &#8220;membuang-buang waktu&#8221; menjadi tak bermakna; dan eksistensi menjadi sesuatu yang membosankan. </p>
<p>Bisa jadi kita adalah penipu ulung untuk diri kita sendiri, ketika mengatakan masalahnya ada pada singkatnya hidup. Karena kita tak bisa mengubah panjangnya jatah hidup, semua tragedi yang berasal dari hidup yang pendek ini bukan salah kita. Susah untuk mengakui bahwa kita bertanggung jawab pada bagaimana kita menggunakan waktu yang sudah dialokasikan untuk kita, sesingkat apapun. </p>
<p>Mungkin kita seharusnya berhenti berpikir, &#8220;jika saya punya lebih banyak waktu&#8221; dan lebih memikirkan &#8220;jika saja saya menggunakan waktu yang saya punya dengan lebih baik&#8221;.</p>
<p>Selamat jalan untuk semua yang telah meninggalkan gedung kehidupan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kakilangit.com/2009/08/dikutuk-untuk-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Monalisa di Pantai</title>
		<link>http://kakilangit.com/2009/07/monalisa-di-pantai/</link>
		<comments>http://kakilangit.com/2009/07/monalisa-di-pantai/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 13:23:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kakilangit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kakilangit.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Dari atas bukit, Femme melihat seorang pria sedang asyik mencorat-coret pasir di pantai.  Di matanya perlahan coretan-coretan itu menjelma lukisan. Adalah wajah yang sangat cantik, tidak begitu nyata tergambar, tapi bisa dilihat dari banyak sudut sekaligus. Femme sangat terkejut ketika dia mendapati lukisan di pasir itu seperti karya Da Vinci; ia seperti Monalisa.
Beberapa saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/kakilangit/3771530055/"><img class="alignleft imgLeft" title="Monalisa di Pantai" src="http://farm4.static.flickr.com/3574/3771530055_5b3406515b_m.jpg" alt="" width="161" height="240" /></a>Dari atas bukit, Femme melihat seorang pria sedang asyik mencorat-coret pasir di pantai.  Di matanya perlahan coretan-coretan itu menjelma lukisan. Adalah wajah yang sangat cantik, tidak begitu nyata tergambar, tapi bisa dilihat dari banyak sudut sekaligus. Femme sangat terkejut ketika dia mendapati lukisan di pasir itu seperti karya Da Vinci; ia seperti Monalisa.</p>
<p>Beberapa saat kemudian setelah pikirannya mulai jernih, jantungnya berhenti berdetak. Femme melepas teropongnya dan menggosok-gosok matanya; memastikan dia tidak berkhayal. Lukisan itu memang benar Monalisa.</p>
<p><span id="more-176"></span>Femme berlari. Dia menyusuri jalan ini setiap hari, dia tahu sebentar lagi laut pasang dan ombaknya akan menghapus Monalisa itu. Bagaimanapun juga ia harus menyelamatkannya, harus! Tapi bagaimana?</p>
<p>Menahan gelombang pasang adalah mustahil. Mengambil semua pasir berlukis wajah Monalisa malah akan merusaknya lebih cepat. Ide mengambil kamera di rumahnya yang tak begitu jauh dari pantai sempat melintas di kepalanya. Tapi itu cuma cara terbaik merekam sebuah karya, bukan mempertahankan lukisan itu sendiri. Dan jika ia melakukannya mungkin lukisan itu sudah terhapus oleh ombak samudra saat ia kembali.</p>
<p>Mungkin ia cukup menikmatinya saja. Menikmati pemandangan menakjubkan itu, selama mungkin, sebelum ia terhapus oleh air laut. Ketika Femme memandanginya, ia tak tahu harus tersenyum atau menangis.</p>
<p><em>In a Season of Calm Weather</em> dari <em>A Medicine for Melancholy</em> (1959) &#8211; <em>Ray Bradbury</em><br />
&#8230;</p>
<p>Pun sebuah karya seni, tak jarang yang tak abadi. Sebuah pekerjaan seni yang terkoyak oleh waktu adalah fakta yang tragis. Absurd jika kita menganggap pertunjukan semacam teater, sendra tari atau sebuah orkestra harus bisa seabadi patung atau arca. Film bisa merekamnya atau kita bisa mempertahankan naskahnya dan tetap saja hanya orang-orang yang menghadiri konsernya bisa menjelaskan perasaan meluap-luap; semacam ekstasi seni dibanding yang hanya menonton filmnya.</p>
<p>Bisa jadi hasrat kita untuk mengabadikan sesuatu yang indah adalah penyangkalan pada kefanaan kita. Bahwa karya seni berumur lebih panjang dari manusia membuat beberapa manusia menjadikannya sebuah bentuk keabadian yang mewakili dirinya.</p>
<p>Jika kita menganggap karya seni itu fana, dan tidak ada yang abadi; mungkin kita bisa melihat dengan jelas di mana nilai sebuah karya seni dan tentu saja kehidupan bisa ditemukan; <em>in experiencing them</em></p>
<p>Happy belated birthday to me.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kakilangit.com/2009/07/monalisa-di-pantai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hatimu Ditinggal Dulu</title>
		<link>http://kakilangit.com/2008/08/hatimu-ditinggal-dulu/</link>
		<comments>http://kakilangit.com/2008/08/hatimu-ditinggal-dulu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 00:10:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kakilangit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kakilangit.com/2008/08/hatimu_ditinggal_dulu/</guid>
		<description><![CDATA[Manusia-manusia kuat, begitu aku menyebutnya, temanku. Segelintir, tampak rapuh, termarjinalkan, menyatu dengan tumpukan sampah, kardus bekas, botol-botol plastik, ranting-ranting kering, bebatuan dan aspal yang keras. Mereka yang mampu membuat kita menangis dan melihat betapa miskin, rakus, lemah dan tak bersyukurnya diri kita. Bersentuhan dengan mereka selalu menjadi pencerahan yang ironis; pahit. Proses belajar yang selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Manusia-manusia kuat, begitu aku menyebutnya, temanku. Segelintir, tampak rapuh, termarjinalkan, menyatu dengan tumpukan sampah, kardus bekas, botol-botol plastik, ranting-ranting kering, bebatuan dan aspal yang keras. Mereka yang mampu membuat kita menangis dan melihat betapa miskin, rakus, lemah dan tak bersyukurnya diri kita. Bersentuhan dengan mereka selalu menjadi pencerahan yang ironis; pahit. Proses belajar yang selalu menusuk relung hati nurani. Jangan pernah ditinggal ya, bawa terus hatimu&#8230;<br />
;untuk menjadikanmu manusia.</p>
<p><small>untuk seorang teman wartawati yang lupa meninggalkan hatinya ketika bekerja,<br />
ketika bertemu dengan manusia-manusia kuat</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kakilangit.com/2008/08/hatimu-ditinggal-dulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadiah</title>
		<link>http://kakilangit.com/2008/07/hadiah/</link>
		<comments>http://kakilangit.com/2008/07/hadiah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 01:45:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kakilangit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kakilangit.com/2008/07/hadiah/</guid>
		<description><![CDATA[
&#8220;Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. And today? Today is a gift. That&#8217;s why we call it the present.&#8221; Babatunde Olatunji

Aku menjadi tua, menikmati setiap detik hidup dan mendapati hadiahku setiap hari;
embun pagi, terik matari, lembayung senja, jatuh, terpuruk, sakit, sedih, kehilangan, bangun, kesempatan, kesehatan, tuhan, dan sunggingan senyummu, nyamanku&#8230;
Aku menjadi tua, menikmati setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--hack--></p>
<blockquote><p>&#8220;Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. And today? Today is a gift. That&#8217;s why we call it the present.&#8221; <em>Babatunde Olatunji</em></p>
</blockquote>
<p>Aku menjadi tua, menikmati setiap detik hidup dan mendapati hadiahku setiap hari;<br />
embun pagi, terik matari, lembayung senja, jatuh, terpuruk, sakit, sedih, kehilangan, bangun, kesempatan, kesehatan, tuhan, dan sunggingan senyummu, nyamanku&#8230;</p>
<p>Aku menjadi tua, menikmati setiap detik hidup dan mendapati hadiahku setiap hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kakilangit.com/2008/07/hadiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Klise yang Cantik</title>
		<link>http://kakilangit.com/2008/06/klise-yang-cantik/</link>
		<comments>http://kakilangit.com/2008/06/klise-yang-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 16:36:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kakilangit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kakilangit.com/2008/06/klise_yang_cantik/</guid>
		<description><![CDATA[Ketinggian sekitar 2.329 meter sudah cukup untuk membuat udara menjadi sejuk kalau tidak bisa dikatakan dingin menusuk tulang saat kemarau seperti ini; kemewahan bagi para penghirup polusi. Medan yang mudah membuat tak hanya traveler dan pendaki gunung saja yang bisa menikmati puncaknya.
Sudah terlalu banyak cerita indah pendongeng-pendongeng, lukisan elok para seniman ataupun citra menakjubkan bidikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i262.photobucket.com/albums/ii118/kakilangit_com/blog/20080622-IMG_2106ps2.jpg" class="imgLeft floatLeft" alt="Cliche but Beautiful">Ketinggian sekitar 2.329 meter sudah cukup untuk membuat udara menjadi sejuk kalau tidak bisa dikatakan dingin menusuk tulang saat kemarau seperti ini; kemewahan bagi para penghirup polusi. Medan yang mudah membuat tak hanya <em>traveler</em> dan pendaki gunung saja yang bisa menikmati puncaknya.</p>
<p>Sudah terlalu banyak cerita indah pendongeng-pendongeng, lukisan elok para seniman ataupun citra menakjubkan bidikan fotografer dari dunia di balik <em>viewfinder</em> mereka yang berkisah tentang lansekap ini.</p>
<p>Yah, Bromo adalah sebuah klise; klise yang cantik. Dan aku tak juga bosan mengunjunginya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kakilangit.com/2008/06/klise-yang-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rumah Senyumpagi</title>
		<link>http://kakilangit.com/2008/05/rumah-senyumpagi/</link>
		<comments>http://kakilangit.com/2008/05/rumah-senyumpagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 16:14:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kakilangit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kakilangit.com/2008/05/rumah_senyumpagi/</guid>
		<description><![CDATA[Selamat datang di rumah senyumpagi; rumah rumput teki dan bunga-bunga matahari, dimana seribu jendela menjadi sahabat cahya mentari, berjumpa angin sejuk di ruang-ruang sederhana beratap tinggi. Selamat datang di rumah senyumpagi; persembunyian rahasia yang teduh dari terik hari, tempat pelarian sempurna setelah jengah dengan hiruk pikuk jakarta.
&#8220;Selamat datang di rumah senyumpagi, bulan dan bintang,&#8221; sapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i262.photobucket.com/albums/ii118/kakilangit_com/blog/selamatdatangrumahsenyumpagi-1.jpg" class="imgLeft floatLeft" alt="Rumah Senyumpagi">Selamat datang di rumah senyumpagi; rumah rumput teki dan bunga-bunga matahari, dimana seribu jendela menjadi sahabat cahya mentari, berjumpa angin sejuk di ruang-ruang sederhana beratap tinggi. Selamat datang di rumah senyumpagi; persembunyian rahasia yang teduh dari terik hari, tempat pelarian sempurna setelah jengah dengan hiruk pikuk jakarta.</p>
<p>&#8220;Selamat datang di rumah senyumpagi, bulan dan bintang,&#8221; sapa senyumpagi dan pendongeng ajaib.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kakilangit.com/2008/05/rumah-senyumpagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anyone Else But You</title>
		<link>http://kakilangit.com/2008/05/anyone-else-but-you/</link>
		<comments>http://kakilangit.com/2008/05/anyone-else-but-you/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 21:57:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kakilangit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kakilangit.com/2008/05/anyone_else_but_you/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Udah nonton Juno belum? Kemarin tiba-tiba bulan sms gitu,&#8221; tanyamu, si senyumpagi.
&#8220;Belum,&#8221; jawabku, &#8220;kayaknya bulan udah beli dvd bajakannya. Bagus ya?&#8221;
&#8220;Baguuuuss.&#8221;
&#8220;Bajakan juga?&#8221;
&#8220;Iyaa&#8221;
&#8220;Hahaha&#8221;
&#8220;Sama download lagu-lagu soundtracknya&#8221;
&#8220;Apa aja? Aku ikutan download aja kalo bagus.&#8221; iya, itu juga membajak namanya.
&#8220;Anyone else but you by Moldy Peaches,&#8221; jawabmu, &#8220;itu keren bangeeeeeeet&#8221;
&#8220;Hahahaha,&#8221; iya deh.
&#8220;Udah dapet? Just tell me yah?&#8221;
Beberapa menit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Udah nonton Juno belum? Kemarin tiba-tiba bulan sms gitu,&#8221; tanyamu, si senyumpagi.<br />
&#8220;Belum,&#8221; jawabku, &#8220;kayaknya bulan udah beli dvd bajakannya. Bagus ya?&#8221;<br />
&#8220;Baguuuuss.&#8221;<br />
&#8220;Bajakan juga?&#8221;<br />
&#8220;Iyaa&#8221;<br />
&#8220;Hahaha&#8221;<br />
&#8220;Sama download lagu-lagu soundtracknya&#8221;<br />
&#8220;Apa aja? Aku ikutan download aja kalo bagus.&#8221; iya, itu juga membajak namanya.<br />
&#8220;Anyone else but you by Moldy Peaches,&#8221; jawabmu, &#8220;itu keren bangeeeeeeet&#8221;<br />
&#8220;Hahahaha,&#8221; iya deh.<br />
&#8220;Udah dapet? Just tell me yah?&#8221;</p>
<p>Beberapa menit kemudian lagu cantik ini sudah ada di playlist, dan hanya lagu ini dalam 30 antrian kedepan, atau mungkin satu-satunya lagu sampai akhir hari ini.</p>
<blockquote><p><strong>Anyone Else But You</strong><br />
The Moldy Peaches</p>
<p>You&#8217;re a part time lover and a full time friend<br />
The monkey on you&#8217;re back is the latest trend<br />
I don&#8217;t see what anyone can see, in anyone else<br />
But you</p>
<p>I kiss you on the brain in the shadow of a train<br />
I kiss you all starry eyed, my body&#8217;s swinging from side to side<br />
I don&#8217;t see what anyone can see, in anyone else<br />
But you</p>
<p>Here is the church and here is the steeple<br />
We sure are cute for two ugly people<br />
I don&#8217;t see what anyone can see, in anyone else<br />
But you</p>
<p>The pebbles forgive me, the trees forgive me<br />
So why can&#8217;t, you forgive me?<br />
I don&#8217;t see what anyone can see, in anyone else<br />
But you</p>
<p>I will find my nitch in your car<br />
With my mp3 DVD rumple-packed guitar<br />
I don&#8217;t see what anyone can see, in anyone else<br />
But you</p>
<p>Up up down down left right left right B A start<br />
Just because we use cheats doesn&#8217;t mean we&#8217;re not smart<br />
I don&#8217;t see what anyone can see, in anyone else<br />
But you</p>
<p>You are always trying to keep it real<br />
I&#8217;m in love with how you feel<br />
I don&#8217;t see what anyone can see, in anyone else<br />
But you</p>
<p>We both have shiny happy fits of rage<br />
You want more fans, I want more stage<br />
I don&#8217;t see what anyone can see, in anyone else<br />
But you</p>
<p>Don Quixote was a steel driving man<br />
My name is Adam I&#8217;m your biggest fan<br />
I don&#8217;t see what anyone can see, in anyone else<br />
But you</p>
<p>Squinched up your face and did a dance<br />
You shook a little turd out of the bottom of your pants<br />
I don&#8217;t see what anyone can see, in anyone else<br />
But you</p></blockquote>
<p><!--hack--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kakilangit.com/2008/05/anyone-else-but-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Matikan Mesin di Traffic Light</title>
		<link>http://kakilangit.com/2008/04/matikan-mesin-di-traffic-light/</link>
		<comments>http://kakilangit.com/2008/04/matikan-mesin-di-traffic-light/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 15:40:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kakilangit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kakilangit.com/2008/04/1_matikan_mesin_di_traffic_light/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah cukup lama Yogyakarta memiliki penghitung waktu di sejumlah traffic light. Hal ini sangat membantu pemakai jalan; baik pedestrian yang akan menyeberang maupun pengguna kendaran bermotor dan yang tidak bermotor. Membantu dalam mengalkulasi tindakan serta memperbaiki kebiasan berkendara dan memakai jalan raya.
Saya memperhatikan waktu menunggu hijau di beberapa traffic light lebih lama dibanding traffic light [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah cukup lama Yogyakarta memiliki penghitung waktu di sejumlah <em>traffic light</em>. Hal ini sangat membantu pemakai jalan; baik pedestrian yang akan menyeberang maupun pengguna kendaran bermotor dan yang tidak bermotor. Membantu dalam mengalkulasi tindakan serta memperbaiki kebiasan berkendara dan memakai jalan raya.</p>
<p>Saya memperhatikan waktu menunggu hijau di beberapa <em>traffic light</em> lebih lama dibanding <em>traffic light</em> lainnya, lampu merah menyala bisa sekitar 90 sampai 120 detik. Dalam waktu yang tidak sebentar itu, saya sebagai pengguna kendaraan bermotor merasa lebih baik membiasakan diri untuk mematikan mesin dan menghidupkannya lagi di hitungan mundur ke duapuluh atau sepuluh ketimbang membiarkannya hidup dalam persneling netral.</p>
<p>Saya tidak tahu berapa energi yang bisa saya hemat dari tindakan semacam ini, tapi saya tahu dalam hitungan beberapa detik sampai menit saya telah mengurangi emisi gas buang dari kendaraan saya. Saya percaya jumlah hari dengan udara bersih dalam setahun akan terus meningkat jika tidak hanya saya yang mematikan mesin di <em>traffic light</em> ketika menunggu lampu hijau.</p>
<blockquote><p>Sekedar pengingat bagi saya yang kerap lupa. Beberapa gagasan, entah baru atau usang, dan daftar yang bisa saya kerjakan; mungkin saja membuat bumi menjadi tempat tinggal yang lebih baik.</p>
</blockquote>
<p><!--hack--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kakilangit.com/2008/04/matikan-mesin-di-traffic-light/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alan</title>
		<link>http://kakilangit.com/2008/03/alan/</link>
		<comments>http://kakilangit.com/2008/03/alan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 10:14:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kakilangit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kakilangit.com/2008/03/alan/</guid>
		<description><![CDATA[Kami bertemu dengannya di lantai dua Taman Budaya Yogyakarta sewaktu menunggu seorang teman yang belum juga nampak. Di depan pintu masuk pertama, sembari mengamati manusia yang lalu-lalang di balkon besar itu. Ia memakai celana pendek, jaket kulit coklat, tas cangklong dan sepatu keds. Tidak begitu kumal. Tapi tak bisa dibilang bersih.
Sejenak kamu menyadari perbedaan kultur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kami bertemu dengannya di lantai dua Taman Budaya Yogyakarta sewaktu menunggu seorang teman yang belum juga nampak. Di depan pintu masuk pertama, sembari mengamati manusia yang lalu-lalang di balkon besar itu. Ia memakai celana pendek, jaket kulit coklat, tas cangklong dan sepatu keds. Tidak begitu kumal. Tapi tak bisa dibilang bersih.</p>
<p>Sejenak kamu menyadari perbedaan kultur berpakaian penikmat budaya di Yogyakarta dan Surabaya. Celana jeans, kaus T; biasanya hitam, karena itu adalah warna yang tak mudah kotor, sandal atau sepatu keds. Natural. Nyaman. Dan biasanya penonton pertunjukan seni dan budaya selalu membludag di sini. Kamu lalu membandingkan penikmat di Cak Durasim ketika Sarimin dipentaskan. Lalu kita tertawa.</p>
<p>Ia membawa <em>papir</em> dan tembakau. Kulit wajahnya sudah bergurat banyak, menandakan ia tak lagi muda. Kurus. Ceria. Kulit putih, mata biru dan rambut pirang. Sejenak dia memandangi kami yang duduk lesehan di depan pintu yang tak terbuka.</p>
<p>&#8220;Saya dapat tiket dari calo,&#8221; tanpa basa-basi dia menggerutu pada kami dengan bahasa Indonesia yang fasih.<br />
&#8220;Berapa harganya?&#8221; tanyamu.<br />
&#8220;Tigapuluh lima ribu,&#8221; sambil duduk di samping kami ia masih menyatakan kekesalannya. Ia lalu mengacungkan sekilas tiket Sidang Susila berwarna kuning.<br />
&#8220;Selamat datang di Indonesia,&#8221; gurauku. Kami tertawa. Ia tidak.<span id="more-166"></span>Orang-orang kaukasoid yang menyukai budaya Indonesia cenderung tidak mau ber-<em>lingua franca</em>, sebisa mungkin mereka akan memakai bahasa Indonesia. Begitu juga dengannya.</p>
<p>&#8220;Seharusnya para calo itu ditangkap,&#8221; lanjutnya, &#8220;mereka tidak punya hak menjual tiket. Di Negara saya para calo bisa langsung ditangkap karena mereka melanggar hukum.&#8221;</p>
<p>Ah, melihat para calo yang berkeliaran tepat di depan loket adalah hal biasa di sini. Bisa jadi calo-calo itu orang dalam juga atau setidaknya mendapat restu dari dalam. Alasan ekonomi menjadi klasik, cenderung basi.</p>
<p>&#8220;Dari negara mana?&#8221; Tanyamu.<br />
&#8220;Perancis. Saya Alan.&#8221;</p>
<p>Lalu kami berkenalan. Dengan ceria ia menanyakan nama dan beberapa detail tentang kami. Ia sedikit terkejut ketika mengetahui kami sudah bekerja.</p>
<p>&#8220;Sudah berapa lama di Yogya?&#8221; Aku ganti bertanya.<br />
&#8220;Sejak Orde baru jatuh,&#8221; ia <em>cengengesan</em>, sambil melinting <em>papir</em> dan tembakau untuk dijadikan rokok.<br />
&#8220;Senang dengan teater?&#8221;<br />
&#8220;Ya, tentu saja. Saya orang teater.&#8221;</p>
<p>Ia lalu menceritakan kelompok teaternya yang bubar sejak gempa 2006. Dengan mata yang berbinar-binar ia bercerita tentang kesukaannya pada padepokan seni Bagong Kussudiarja, tempat ia kerap menonton pertunjukan seni, dengan konsep yang ia sukai. Ia membenci hirarki dalam hal menikmati pertunjukan. Tidak suka dengan kata VIP cerocosnya.</p>
<p>&#8220;Pernah ke Bali?&#8221; Selidikku. Bali adalah maskot wisata Indonesia. Turis-turis <em>backpacker</em> setidaknya pernah ke sana. Singgah. Jatuh cinta. Menetap barangkali.<br />
&#8220;Pernah. Tahun 99. Tapi saya tidak menyukai Bali,&#8221; jawabnya terang-terangan.  &#8220;Saya menyukai teater dan Yogya.&#8221;</p>
<p>Yogyakarta adalah daerah tujuan wisata andalan kedua setelah Bali. Yogya tak punya Kuta, Tanah Lot atau Besakih. Ya, ia memiliki beberapa bangunan maupun lanskap yang kerap dibandingkan dengan kekayaan Bali. Tapi kekuatan Yogyakarta bagi Alan adalah terletak pada dinamika berkesenian, semangat berkreatifitas, dan tentu saja budaya Jawa yang masih kental di sendi-sendi kehidupan masyarakatnya.</p>
<p>Yogyakarta menawarkan eksotisme yang lain menurut Alan.</p>
<p>&#8220;Saya ke dalam dulu, sudah mau mulai,&#8221; pamitnya pada kami. &#8220;Kalian tidak masuk?&#8221;<br />
&#8220;Kami menunggu seorang teman,&#8221; kami menjawab hampir bersamaan.</p>
<p>Ia melihat penunjuk waktu di tangannya. Menyadari sudah saatnya pertunjukan teater Gandrik itu dimulai, ia sedikit mencibirkan bibir lalu berkata, &#8220;dasar orang Indonesia.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kakilangit.com/2008/03/alan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
