Klise yang Cantik

June 29th, 2008 — 11:36pm

Cliche but BeautifulKetinggian sekitar 2.329 meter sudah cukup untuk membuat udara menjadi sejuk kalau tidak bisa dikatakan dingin menusuk tulang saat kemarau seperti ini; kemewahan bagi para penghirup polusi. Medan yang mudah membuat tak hanya traveler dan pendaki gunung saja yang bisa menikmati puncaknya.

Sudah terlalu banyak cerita indah pendongeng-pendongeng, lukisan elok para seniman ataupun citra menakjubkan bidikan fotografer dari dunia di balik viewfinder mereka yang berkisah tentang lansekap ini.

Yah, Bromo adalah sebuah klise; klise yang cantik. Dan aku tak juga bosan mengunjunginya.

8 comments » | Uncategorized

Rumah Senyumpagi

May 11th, 2008 — 11:14pm

Rumah SenyumpagiSelamat datang di rumah senyumpagi; rumah rumput teki dan bunga-bunga matahari, dimana seribu jendela menjadi sahabat cahya mentari, berjumpa angin sejuk di ruang-ruang sederhana beratap tinggi. Selamat datang di rumah senyumpagi; persembunyian rahasia yang teduh dari terik hari, tempat pelarian sempurna setelah jengah dengan hiruk pikuk jakarta.

“Selamat datang di rumah senyumpagi, bulan dan bintang,” sapa senyumpagi dan pendongeng ajaib.

Comment » | Uncategorized

Anyone Else But You

May 6th, 2008 — 4:57am

“Udah nonton Juno belum? Kemarin tiba-tiba bulan sms gitu,” tanyamu, si senyumpagi.
“Belum,” jawabku, “kayaknya bulan udah beli dvd bajakannya. Bagus ya?”
“Baguuuuss.”
“Bajakan juga?”
“Iyaa”
“Hahaha”
“Sama download lagu-lagu soundtracknya”
“Apa aja? Aku ikutan download aja kalo bagus.” iya, itu juga membajak namanya.
“Anyone else but you by Moldy Peaches,” jawabmu, “itu keren bangeeeeeeet”
“Hahahaha,” iya deh.
“Udah dapet? Just tell me yah?”

Beberapa menit kemudian lagu cantik ini sudah ada di playlist, dan hanya lagu ini dalam 30 antrian kedepan, atau mungkin satu-satunya lagu sampai akhir hari ini.

Anyone Else But You
The Moldy Peaches

You’re a part time lover and a full time friend
The monkey on you’re back is the latest trend
I don’t see what anyone can see, in anyone else
But you

I kiss you on the brain in the shadow of a train
I kiss you all starry eyed, my body’s swinging from side to side
I don’t see what anyone can see, in anyone else
But you

Here is the church and here is the steeple
We sure are cute for two ugly people
I don’t see what anyone can see, in anyone else
But you

The pebbles forgive me, the trees forgive me
So why can’t, you forgive me?
I don’t see what anyone can see, in anyone else
But you

I will find my nitch in your car
With my mp3 DVD rumple-packed guitar
I don’t see what anyone can see, in anyone else
But you

Up up down down left right left right B A start
Just because we use cheats doesn’t mean we’re not smart
I don’t see what anyone can see, in anyone else
But you

You are always trying to keep it real
I’m in love with how you feel
I don’t see what anyone can see, in anyone else
But you

We both have shiny happy fits of rage
You want more fans, I want more stage
I don’t see what anyone can see, in anyone else
But you

Don Quixote was a steel driving man
My name is Adam I’m your biggest fan
I don’t see what anyone can see, in anyone else
But you

Squinched up your face and did a dance
You shook a little turd out of the bottom of your pants
I don’t see what anyone can see, in anyone else
But you

3 comments » | Uncategorized

Matikan Mesin di Traffic Light

April 29th, 2008 — 10:40pm

Sudah cukup lama Yogyakarta memiliki penghitung waktu di sejumlah traffic light. Hal ini sangat membantu pemakai jalan; baik pedestrian yang akan menyeberang maupun pengguna kendaran bermotor dan yang tidak bermotor. Membantu dalam mengalkulasi tindakan serta memperbaiki kebiasan berkendara dan memakai jalan raya.

Saya memperhatikan waktu menunggu hijau di beberapa traffic light lebih lama dibanding traffic light lainnya, lampu merah menyala bisa sekitar 90 sampai 120 detik. Dalam waktu yang tidak sebentar itu, saya sebagai pengguna kendaraan bermotor merasa lebih baik membiasakan diri untuk mematikan mesin dan menghidupkannya lagi di hitungan mundur ke duapuluh atau sepuluh ketimbang membiarkannya hidup dalam persneling netral.

Saya tidak tahu berapa energi yang bisa saya hemat dari tindakan semacam ini, tapi saya tahu dalam hitungan beberapa detik sampai menit saya telah mengurangi emisi gas buang dari kendaraan saya. Saya percaya jumlah hari dengan udara bersih dalam setahun akan terus meningkat jika tidak hanya saya yang mematikan mesin di traffic light ketika menunggu lampu hijau.

Sekedar pengingat bagi saya yang kerap lupa. Beberapa gagasan, entah baru atau usang, dan daftar yang bisa saya kerjakan; mungkin saja membuat bumi menjadi tempat tinggal yang lebih baik.

3 comments » | Uncategorized

Alan

March 14th, 2008 — 5:14pm

Kami bertemu dengannya di lantai dua Taman Budaya Yogyakarta sewaktu menunggu seorang teman yang belum juga nampak. Di depan pintu masuk pertama, sembari mengamati manusia yang lalu-lalang di balkon besar itu. Ia memakai celana pendek, jaket kulit coklat, tas cangklong dan sepatu keds. Tidak begitu kumal. Tapi tak bisa dibilang bersih.

Sejenak kamu menyadari perbedaan kultur berpakaian penikmat budaya di Yogyakarta dan Surabaya. Celana jeans, kaus T; biasanya hitam, karena itu adalah warna yang tak mudah kotor, sandal atau sepatu keds. Natural. Nyaman. Dan biasanya penonton pertunjukan seni dan budaya selalu membludag di sini. Kamu lalu membandingkan penikmat di Cak Durasim ketika Sarimin dipentaskan. Lalu kita tertawa.

Ia membawa papir dan tembakau. Kulit wajahnya sudah bergurat banyak, menandakan ia tak lagi muda. Kurus. Ceria. Kulit putih, mata biru dan rambut pirang. Sejenak dia memandangi kami yang duduk lesehan di depan pintu yang tak terbuka.

“Saya dapat tiket dari calo,” tanpa basa-basi dia menggerutu pada kami dengan bahasa Indonesia yang fasih.
“Berapa harganya?” tanyamu.
“Tigapuluh lima ribu,” sambil duduk di samping kami ia masih menyatakan kekesalannya. Ia lalu mengacungkan sekilas tiket Sidang Susila berwarna kuning.
“Selamat datang di Indonesia,” gurauku. Kami tertawa. Ia tidak. Continue reading »

Comment » | Uncategorized

Back to top