Kenangan

Kisah hidup manusia dibangun dari ingatan. Tentang apa saja yang ia lakukan di masa lalu; tentang pencapaian-pencapaiannya, kegagalan-kegagalannya, siapa saja yang pernah bersinggungan dengannya, buku-buku yang pernah dibaca, tempat-tempat yang pernah dikunjungi. Kisah tentang sejarah, data, dan statistik. Ya, layaknya membaca laman Wikipedia. Dan barangkali manusia memang akan selalu berusaha untuk diingat, seumur hidupnya.

Jika ingatan adalah sesuatu dari masa lalu yang bisa kami panggil kapan saja, maka kenangan adalah sebaliknya. Ia memutuskan nasibnya sendiri, ia kerap hadir tak terduga, semaunya. Ia tak jarang datang di waktu yang buruk, di tempat-tempat yang sunyi, atau pada sebuah kabar duka.

Dan kamu, sahabat kami, lebih dari sekedar ingatan, hidupmu adalah kumpulan kenangan-kenangan baik.

Kenangan kami tentangmu sebagai perempuan welas asih barangkali muncul ketika kami melihat pengemis tua, ibu renta penjual makanan yang kamu sama sekali tak tahu apa namanya, anak-anak asuhmu di pulau-pulau timur, atau bahkan jika melihat atasan yang menyebalkan.

Kenangan kami tentangmu sebagai pendengar yang baik bisa jadi hadir saat kami mendengarkan keluh-kesah dan bahagia teman-teman kami, atau bahkan sebaliknya, ketika bertemu dengan manusia-manusia yang selalu bercerita tanpa ingin mendengar.

Kenangan kami tentangmu sebagai penikmat kopi, pembaca buku, dan seorang traveler mungkin saja datang di sesapan kopi, novel Pulang-nya Leila S. Chudori, komik Jepang konyol, suatu tempat di Padang, Chiang Mai, Maluku, Paris, atau tempat-tempat yang tak pernah sempat kamu, atau kami kunjungi.

Dan jika kenangan itu hadir, kami akan mengenangmu sebagai seorang sahabat dekat. Lalu biarlah kenangan kami tentangmu meleburkan waktu.

Selamat jalan sahabat kami, selamat bepergian ke tempat yang kami semua belum pernah melihatnya.

Untuk sahabat kami, Sharon Mandagi.
25 Mei 1978-31 Oktober 2015