Mau Saya Ajak Jalan-Jalan Keliling Yogya?

Jam di hape menunjukkan pukul setengah enam pagi. Dingin. Ya, hawa yogya akhir-akhir ini dingin sekali, terutama setelah matahari gak ada (ini bukan soal ukuran tubuh, sudah di-kroscek dengan teman yg lebih gemuk kok). Mau tidur lagi dah gak ngantuk apalagi klo idung dah kena dingin maunya bersin terus (polip kali fir). Keluar dari rumah dan jalan-jalan would be the last thing in my mind.

Dan saya pun keluar dari rumah untuk jalan-jalan. Gubrak

Masih dingin. Lalu menyusuri jalanan yogya yg masih sepi, tenin sepi banget. Kayaknya puncak sepinya yogya tu sekitar jam setengah enam. Coba bandingkan dengan jam antara jam dua belas malam sampe jam empat pagi, masih rame (terutama di jalan-jalan utama, kafe dan arena dugem). Oke, ini mungkin yogya yang saya rasakan pada awal tahun 96 sampe 98. Awal perjalanan kita adalah monumen yogya kembali atau biasa disingkat monyali (nek monjali ki jogja). Susurilah ke selatan, klo anda orang baru dan belum tau arah menghadaplah ke arah matahari terbenam dan tangan kirimu adalah arah selatan. Kalo gak tau kanan dan kiri cobalah cari perempatan yang ada tulisan belok kiri jalan terus nah itu baru kiri (stop plesetan, kiri bukan anak anjing). Liat baik-baik sebelah kiri anda (kiri lagi) sekitar satu kilo dari start sekilas anda akan melihat selokan mataram dengan background rumah sakit dr sardjito dan fakultas teknik universitas gadjah mada.

Sampe perempatan yang ada traffic light anda harus berhenti jika lampu berwarna merah. Berhentilah. Rasakan nikmatnya berhenti di tengah kesunyian dan bayangkan jika anda di posisi yang sama enam jam kemudian. Karena perempatan jetis ini adalah salah satu titik macet yang sering bikin emosi. Emosi dong, dah panas, macet, polusi lagi. Belum lagi dampak psikologis ketika di klakson berulang kali dari belakang, emange aku ki budeg po? Polusi udara di yogya mencapai tingkat tertinggi pada siang hari. Banyaknya kendaraan bermotor makin mensukseskan efek rumah kaca. Makin banyak kendaraan pribadi tiap tahunnya adalah dampak langsung dari predikat kota pendidikan itu sendiri. Semakin lama akan terjadi bottleneck karena tingkat pendatang dan warga yang pergi tidak seimbang. Lulus susah pak ! Yogya sendiri terkena dampak polusi udara dari kendaran berpelat non AB (yang AB kan nambah pendapatan daerah ya polusi-polusi dikit gak papa). Mungkin sebaiknya ada perda tentang mutasi nomor kendaraan jika sudah mengotori udara yogya selama setahun hehehe.

Kenapa gak naik kendaraan umum saja?

Jawabnya adalah tidak. Karena naik bus kota di yogya adalah neraka. Selain mereka (para bus kota) adalah penyumbang terbesar co dan co2, keberadaan kendaraan ini bukan untuk melayani warga yogya. Ini cuma bisnis. Sering liat stiker di bus kota “anda butuh waktu, kami butuh uang”, enggak, mereka gak peduli dengan waktu kita, kenyamanan kita (bahkan nyawa kita) mereka hanya butuh uang.

Kadang di saat kita sedang terburu-buru mereka malah ngetem, nunggu penumpang penuh. Shit. Inilah negara dimana konsumen tidak pernah menang. Atau kadang malah anda bisa merasakan kebut-kebutan legal ditengah kota di siang bolong. Layaknya collin mc rae anda bisa mendengar suara navigator anda
“ayo tancep, aspada jalur 2 wes nang mburi cerak pak”
“sante wae, nomer 102 keno abang”
Bak grand theft auto anda bisa dengan bebas menabrak apa saja, bahkan manusia. Dan hati-hati dengan dompet anda.

Para supir bus kota juga tidak bisa disalahkan. Mereka harus menyetor sejumlah uang ke pemilik bus agar para supir bisa memberi makan keluarganya, menyekolahkan anaknya (sekolah sekarang mahal pak, bahkan pendidikan bisa menukar otak dengan uang). Kayaknya kalo ada busway di yogya asik kali ya.

Sehabis dari perempatan jetis sebaiknya anda lurus saja, di perhentian berikutnya anda bisa melihat tugu yogya yg terkenal itu lho (promosi pariwisata -red). Di perempatan tugu anda bisa langsung belok kiri -jalan terus pak- atau lurus menuju malioboro. Hati-hati dengan setiap perempatan, awasilah lampu merahnya. Boleh terus gak kalo ke kiri? Kalo emang gak boleh sebaiknya stop! Berhenti! Jangan pernah mau merelakan duit nomban hanya karena beda waktu sekian detik (untuk polisi lagi). Dan sekali lagi, waspada! Karena disini peraturan sering berubah. Yang kemaren boleh belok kiri sekarang gak boleh.

Seperti yang terjadi di pertigaan colombo dari arah selatan, perempatan samsat dari arah selatan juga dan pertigaan janti lagi-lagi dari arah selatan. Kalo gak tau utara selatan tanya aja. Kemaren ada temen yang ketilang sampe dua kali akibat melanggar lampu merah. Bayangkan : dua kali !! Itu berarti dua kali dua puluh ribu, bisa buat nasi kucing berapa coba?

Tips sehabis melanggar lampu merah :

  • Usahakanlah tidak melanggar
  • Usahakanlah tidak melanggar
  • Usahakanlah tidak melanggar
  • Kalo dah terlanjur, percepatlah laju kendaraan anda secara perlahan tapi pasti. Kebut pak biar gak ketangkep
  • Jika terdengar suara sempritan (peluit -de) pura-pura budeg. Kalo anda memang sudah bermasalah dengan pendengaran itu adalah anugrah. Dan tetap percepat laju, jangan pernah berhenti
  • Masuk lewat gang-gang sempit. Carilah yang paling sempit. Soalnya sempit itu enak (hus).
  • Jangan terlalu sering liat kebelakang. Tar nabrak malah ongkosnya lebih mahal
  • Berdoa. Biar melakukan tindak pidana manusia juga harus berdoa. Maling juga berdoa pak
  • Akhiri doa dengan amin. Semoga tuhan mengabulkan doa kita

Langsung saja menuju pusat kota, dimana ada malioboro yang (dulunya) menjadi tempat warga yogya berinteraksi. Bersiaplah kecewa karena sekarang tak ubahnya kota-kota besar lainnya. Ada mal !! Ada kafe !! Ada faktori otlet !! Ada diskotik !! Shit !! Apalagi di sekitaran jalan solo, lima kilometer arah timur dari galeria mal (salah satu dari dua mal di jantung yogya) akan dibangun dua mal lagi yang satu spahir square dan lainnya ambarukmo. Buset !! Mo bikin yogya lebih macet ?? Lah wong gak ada malnya aja perempatan gejayan macetnya audubilah setan.

Ini bukan lagi yogya yang dulu. Kalo yogya ingin menjadi daerah pariwisata kedua setelah pulau bali, jangan ikut-ikutan dong. Ya bangun mal sih boleh aja tapi yogyanya jangan dilangin dong (dan ini jelas gak mungkin !). Bahkan sekarang orang yogya banyak yang dialeknya berubah, bukan lagi jape methe tapi jadi sohib guwe.

Pie to wong yojo ra iso boso jowo?

Ah jadi ilang nih mut ngajak anda meneruskan jalan-jalan. Apalagi matahari sudah tinggi, dan hape saya sudah kehabisan daya jadi gak tau jam berapa sekarang.

Dadi… bali wae.

NB :
Plat kendaraan saya bukan AB
Jadi, maaf yogya, sudah mengotori udaramu selama delapan tahun.

2 Replies to “Mau Saya Ajak Jalan-Jalan Keliling Yogya?”

  1. saya dengar jogja dari buku dan cerita orang-orang, jogja identik dengan Malioboronya, Borobudurnya, Parangtritis, dll.Saya pikir Jogja adalah kota seni yang banyak menghasilkan ide-ide kreatif bagi seorang seniman. selain itu katanya nih beaya sekolah di Jogja murah banget, benar enggak sih. Tapi cuaca di Jogja sama dengan kota kota lainnya PANAS he he, beda dong dengan Bandung, kotaku itu adem banget, cocok deh bagi mereka yang ingin lepas dari rutinitas yang menjenuhkan.maka tah heran, bagi warga ibu kota Bandung dipilih sebagai tempat weekend.coba deh datang ke Bandung, sejuk banget, selain itu dikotaku tersedua Factory Otlet 2 yang menjual baju- baju dengan harga relatif murah. tertarik datanglah dan anda akan merasakan perbedaannya.

  2. Wah Bandung mah sama aja. Pagi2 dari jalan Metro kali ya lupa aku namanya, jalan jalur cepat dua jalur ma pa polisi dibuat 2 jalur bayangin aja dua arah yang beda dijadiin satu. Muaceeetteeee pooolllll deh. Terus jorok banget nggak bersih dijalan2nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *