Dalam 1, 2, 3. Kami pun Menjadi Sahabat

Saya sendiri masih sering tercengang dengan waktu. Sehari, seminggu, setahun atau bahkan tujuh tahun tidak mempunyai standar yang jelas. Kadang bisa terasa secepat kilat atau malah sebaliknya. Apa beda antara hubungan dua tahun dengan tujuh tahun pun sampai sekarang saya masih belum mengerti. Ketika saya telah siap untuk memasuki kehidupan orang lain sang waktu pun tak bisa mengekang saya dengan ayunan langkahnya yang tak pernah berhenti. Dua atau tujuh tahun sama saja. Tidak ada batasan waktu untuk menyelami kehidupan seseorang. Itu yang saya rasakan saat ini.

Bahwa makin lama menjalin hubungan makin susah melepasnya dan makin besar resiko sakitnya itu hanya pikiran saya saja yang sedang bermain-main dengan hati saya. “Jika ini terjadi lebih cepat tiga tahun dari sekarang mungkin saya lebih cepat bangkit”

Saya rasa sama saja. Waktu pun berhenti untuk saya. Saya yakin akan sama sakit dan sedihnya jika itu terjadi kapan saja setelah saya berhasil melewati semua masa ketakutan. Ketakutan-ketakutan saya, ketakutan-ketakutannya. Setelah mengatasi semua perasaan tidak percaya. Setelah memasuki masa-masa di mana diam pun menjadi indah. Dan itu tidak membutuhkan satuan waktu.

Sekarang saya kembali terheran-heran dengan waktu.

Apakah memang dua tahun dan tujuh tahun tidak jauh berbeda? Apa benar semua yang telah saya lewati bersamanya tidak berarti apa-apa ketika hanya dalam satu minggu saya bisa bangkit dan mulai melihat dunia dari tempat yang lebih lapang?

Saya rasa tidak. Saya pasti merindukan masa-masa itu, hanya sebatas itu. Saya pasti berterimakasih untuk semua proses pendewasaan diri yang kami jalani. Saya pasti sangat bersyukur mengingat bahwa saya pernah mencintai seseorang dan dicintai dengan begitu dalam, indah.
Bahwa saya sadar hubungan ini tidak akan berlangsung selamanya tidak membuat saya menyesal melakukan semuanya.

Adalah mencoba untuk memahami perasaannya, tidak hanya meminta dia memahami perasaan saya saja. Adalah juga melihat bahwa kata ‘putus’ sebenarnya tidak
membutuhkan alasan apapun (karena alasan apapun tidak akan membuat saya puas). Adalah mencoba menepiskan duka ketika melihat dia tersenyum. Adalah menghilangkan dendam waktu melihatnya bersama orang lain. Adalah belajar menghilangkan rasa posesif, untuk tidak egois dan sejenak melupakan harga diri.

Karena cinta bukan kata yang tepat untuk dipadankan dengan harga diri, egoisme dan hak milik.

Adalah untuk belajar lebih dewasa.

Dan dia mulai menanyakan kabar hati saya hari ini dan saya pun menjawab
“My heart goes fine, how bout yours?”

Dan dalam hitungan 1, 2, 3 … kami pun menjadi sahabat.

#
This story is about someone who turning from my beloved into my friend in a flash : Dina Rahmi
Thanks for every moments in every second of my seven years with you.

2 Replies to “Dalam 1, 2, 3. Kami pun Menjadi Sahabat”

  1. menjadi sahabat tentu memerlukan proses yang berbeda. ada yang dalam hitungan detik, kita bisa menjadi sahabat. tapi ada yang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menerima bahwa dia bisa jadi sahabat kita.
    waktu yang kita jalani bersama sahabat ternyata berarti bagi kita. kita mengalami proses pendewasaan diri bersama sahabat. (I agree!)

  2. aku adalah orang yang tidak kamu kenal dan menemukan blog ini atas rekomendasi seorang teman dekat.. aku baru saja 4 bulan dicampakkan seperti sampah, dan sampai kemarin aku masih saja menangis.. membaca blog kamu, paling tidak aku mendapat pencerahan.. makasih Firman.. (benarkan nama kamu Firman?)..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *