Matahari

Siapa? Kamu. Ya kamu, sahabatku, kamu adalah matahari. Sejujurnya aku sendiri tidak mengerti kenapa aku mulai memanggilmu dengan nama matahari.

Sejak aku mengenalmu saat itu, sudah lewat berpuluh purnama, kelopak bunga, embun pagi, laut biru yang dalam dan hujan yang selalu kita rindukan. Aku tidak pernah menyangka akan memanggilmu dengan nama matahari.

Kamu tidak menerangiku, seperti matahari. Kamu bukan matahariku, pun seperti matahari. Kamu gelap bagiku, seharusnya aku memanggilmu gerhana bukan matahari. Kamu adalah sesuatu diruang kosmos, kelihatan tegar tapi rapuh. Ah tidak, lagi-lagi aku salah menilaimu. Maaf. Aku tak mengenalmu sedalam itu. Entah kenapa aku mulai memanggilmu matahari aku tak tahu.

Aku ingin menjadi komet, teriakku suatu ketika, padamu. Sekedar hadir, bersinar paling terang tapi menghilang seketika. Meninggalkan cahaya disudut hati setiap orang yang melihatku. Ya aku ingin menjadi komet, kataku lagi.

Tidak, jawabmu. Ah kamu memang keras kepala. Kamu tidak pernah ingin menjadi komet. Aku tahu itu, karenanya aku memanggilmu matahari. Ah aku bukan matahari, mungkin itu yang ingin kamu katakan padaku. Gombal. Aku semakin ingin memanggilmu dengan nama matahari. Meskipun kamu tidak menerangiku, tidak sedang menerangi siapa-siapa. Karena tata suryamu belum berputar sesuai orbitnya, aku mengerti. Kamu sedang menunggu. Aku akan menemanimu menunggu galaksi gelap yang ingin kamu terangi.

Tidak, sekali lagi kamu menolak. Aku tidak akan menunggunya, aku akan memburunya, teriakmu dalam hati. Aku tahu. Kejarlah bima sakti mu, meskipun melewati andromeda, lubang hitam atau bahkan kembali ke penciptaan alam semesta. Bahwa tempat mu adalah di sana, gugus gelap yang tak bergerak, kamu berhasil meyakinkanku dengan luapan keceriaan dan letupan energi yang kamu tunjukkan padaku setiap kali melihat gugusan gelap itu, kamu memang benar-benar ingin meneranginya bukan?

Matahari, seharusnya aku berpikir dulu sebelum memanggilmu dengan nama ini. Ah tidak, aku sudah memikirkannya jauh sebelum matahari ada. Kamu memang seperti matahari, menjadi sahabat semua makhluk hidup. Aku hidup maka kamu adalah sahabatku, logikanya begitu bukan? Jadi jangan khawatir matahari, aku akan berjalan di sampingmu sebagai sahabat bukan sebagai pembenaran ilmu logika ataupun tiruan albert camus, karena sahabat pun tidak memerlukan alasan.

Sejujurnya aku masih tidak mengerti kenapa aku memanggilmu matahari. Entah karena namamu sebenarnya adalah matahari atau…
karena kamu memang matahari

One Reply to “Matahari”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *