Mencoba Belajar

Ya saya ternyata masih sering lupa untuk belajar. Dalam seminggu terakhir ini saya mencoba untuk bangkit. Menata hari. Menata hati. Mencoba optimis, seperti biasa. Saya meyakinkan pada diri sendiri bahwa saya adalah orang yang tegar. Dan saya bisa. Mulai menjalani hari-hari yang benar-benar berbeda. Mulai membuat impian baru.

Saya mulai mencoba membagi cerita dan rasa pada teman-teman terbaik yang pernah saya kenal. Bukan bermaksud berkeluh kesah, tapi ada satu niatan tersembunyi, saya benar-benar mau belajar. Ketika hal buruk terjadi, dunia menjadi sangat sempit. Yang ada cuma saya dan rasa sakit.Saya hanya memikirkan perasaan saya sendiri, terus terpuruk dan bersedih. Pathetic.

Keadaan saya mungkin masih sama seperti dua minggu lalu kalo gak ada teman-teman yang (terpaksa maupun tidak) mau berbagi rasa dengan saya. Dengan berbicara dengan mereka mungkin saya jadi lebih bisa memahami perasaan manusia. Dunia saya tidak lagi sempit, tidak lagi berpusat pada diri saya.

Some friend says :
“Coba deh dinikmati semua perasaan yang kamu alami. Nikmati perasaan sedih dan sakit seperti kamu menikmati perasaan senang. Itu indah”

Yup, saya mencoba menikmati rasa demi rasa. Gak bisa diungkapin dengan kata-kata! Indah, itu mungkin kata yang tepat untuk perasaan ini. What a beautiful pain. Terima kasih Tuhan, karena sedih, sakit dan senang itu hanya rasa. Ya itu hanya rasa.

“Lho itu kan konsekuensi fir. Kamu harus siap sedih kalo kamu mau seneng. Apa sakitnya sebanding dengan senangmu?”

Tidak. Tidak bisa dibandingkan sama sekali. Ini cuma tamparan kecil, sentuhan-sentuhan halus, atau apapun namanya. Saya tidak akan menyesali semua langkah yang sudah diambil. Saya selalu bersungguh-sungguh, and there’s no regrets at all.

“Kamu sedang menjalani skenario terhebat yang pernah kamu tau fir. Hidup jadi lebih bermakna ketika jalanmu tidak lagi mudah, kamu mestinya selalu belajar dari setiap peristiwa. Kadang dengan pukulan yang sedemikian keras atau bahkan dengan lenggokan tangan, Tuhan selalu punya cerita yang menarik.

Bahwa apa yang membuat kamu kecewa adalah manusiawi. Kamu pasti sadar bahwa semua yang ada di kamu sifatnya temporer, bisa hilang kapan saja. Jangan terlalu posesif. Jangan anggap kekasihmu mitra dagang. Ok lah memang sifat dasar manusia adalah mengharapkan imbal balik. Tapi cobalah melakukan sesuatu dengan sedikit ketulusan. Tidak mengharapkan imbalan. Susah tapi indah.

Sekali lagi aku bukannya menentangmu, membela dia. Aku cuma mencoba merasakan apa yang dia rasakan. Sangat manusiawi fir. Mungkin kamu pikir ‘cara dia mengakhirinya yang salah !’, aku pikir kamu sudah tahu bahwa gak ada salah dan benar kan? Semua relatif, kita sendiri yang membuat standar.”

Hmm saya tidak merasa digurui dengan semua kalimat teman-teman saya. Tidak bermaksud menghibur diri. Atau memakainya hanya sebagai pecut untuk saya agar tidak berhenti disini (karena memang tidak seharusnya saya berhenti). Tapi pelajaran-pelajaran itu membuat saya lebih kaya. Membuat saya lebih peka. Lebih dewasa. Lebih bijaksana. Semoga.

Thanks.

5 Replies to “Mencoba Belajar”

  1. hmmm..bener kata2 temen2 kmu, seneng n sedih itu cuma rasa yang harus dinikmati, karena semua itu indah, tinggal kita yang bisa merasakannya atau tidak 🙂

  2. aku juga pernah merasa lega dan merasa lebih tegar setelah berbagi rasa dengan temen2, tapi rasa sakit dan sedih akan kenangan itu masih tetap kembali. Kok kamu bisa ya min? Hebat!

  3. Tidak ada apapun yang bisa menghapus masa lalu. Sakit, sedih dan kenangan yang perih pasti datang sesekali. Sekedar menyapa kita agar tidak melakukan kesalahan yang sama pada ‘seseorang’ yang mungkin sedang menunggu disana, yang mungkin benar-benar telah diciptakan untuk kita ^^, siapa yang tahu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *