Teman Lama dan Daging Menjangan

Lupakan hiruk pikuk pemilihan presiden, sidang tahunan MPR atau bahkan kepulangan Sukma Ayu yang seolah memenuhi hari-hari saya akhir-akhir ini. Ada berita yang lebih menarik perhatian saya ; Iir, salah satu teman baik saya, datang ke rumah, tentunya masih berkaitan dengan pernikahannya dengan Asmanta tanggal 11 September kemarin. Dia datang bersama bapak, ibu dan Asmanta, suaminya tentu saja.

“Hai firman” Sapanya manja, seperti anak kecil, seperti biasanya, ketika berusaha mengagetkan saya dengan cara masuk tiba-tiba kedalam kamar saya. Sedikit berhasil Ir. Saya kaget, tepatnya I’m surprised !! Hahaha, dia tampak cantik dengan balutan baju putih dengan sedikit bordir. Ya dia kelihatan cantik, cantik yang berbeda, cantik bahagia.

Di ruang tengah rumah kontrakan, kami semua berkumpul. Sekedar duduk lesehan di atas karpet merah yang lusuh ; Iir, Asmanta, Danar, Hasta, Kiki, Deni, Bapak dan Ibu -orang tua Iir tepatnya dan tentunya saya, saling bertegur sapa dan berbagi senyum. Basa-basi mungkin, tapi kami tidak menganggapnya begitu. “Ini lho Hasta yang jago nulis, sastrawan kita” Kata Iir ketika mengenalkan salah satu teman saya (lagi) pada orang tuanya. Kebiasaan atau mungkin hanya mengingatkan saja, karena saya yakin orang tua Iir belum terlalu renta untuk mengalah pada kepikunan :). Orang tua Iir hanya manggut-manggut.
“Nah kalo ini firman, ini yang suka godain kiki *gubrak*, satu-satunya yang manggil kiki dengan panggilan kintung di yogya” Sambung Iir, memperkenalkan saya. Saya hanya balas tersenyum ketika orang tua Iir tersenyum geli kearah saya. Ya karena sebelum ini, beberapa tahun lalu, saya sering bertemu mereka di bandara maupun stasiun ketika mengantar Kiki, adik Iir. Saya yakin muka saya masih ada di ingatan mereka hehehe.

Penggoda yang bagaimana Ir? Ah saya ini bukan penggoda kok, serius. Saya cuma tidak bisa menahan diri untuk memberi tahu yang sebenarnya. Saya akan berkata senang waktu saya merasa seperti itu, begitu juga ketika saya merasa kangen, sedih atau bahkan sakit. Atau mungkin saya terlalu vulgar atau terlalu mengobral ketika menyebut kata yang dikaitkan dengan keindahan, seperti bagus, indah, cantik, manis atau bahkan imut. Kalau itu yang disebut penggoda, saya menyebutnya ketidakmampuan-untuk-menyimpan-pujian hahaha. Saya baru sadar hal ini ketika seorang teman baik ber-gender wanita mengatakan hal ini pada saya :

“Wah koe ki nggombal wae nek karo cah wedok, ra marai ge er tho. Tak tembung modar koe. Simpen wae nggo calon bojomu fir. Ojo kekerepen nggombal ngko ra ono rasane hahaha” (no indonesian translation, sorry)

Waks. Saya benar-benar kaget. Mungkin saya juga mengalami masalah, kalau mau disebut masalah, yang sama dengan virtri, salah satu teman lama saya. Seperti kata kamu vir, kita harus lebih menjaga lidah kita. Tidak semua orang bisa mengikuti jalan pikiran kita.

Ketika saya mengatakan ‘wah punya kamu bagus nih’, itu karena memang bagus dan tidak ada keinginan untuk meminta balas dipuji ‘wah punya kamu juga bagus’. Ketika saya mengatakan ‘kamu keliatan cantik’ itu karena memang kamu cantik dan tidak ada niatan merayu kamu atau yang lain (kalo saya suka kamu, kamu pasti tahu karena saya pasti mengatakannya padamu). Ketika saya berkata ‘wah cerewet’ (aduh kalo yang ini saya benar-benar menyesal T_T) itu karena saya merasa kamu mengeluarkan lebih banyak kosakata dari yang dibutuhkan saat itu ^_^ dan tidak ada maksud untuk menyakiti kamu.

Saya sering berandai-andai : seandainya dunia seperti komik dimana kita bisa melihat apa yang ada didalam kepala seseorang hanya dengan melihat balon-balon dialog tentunya mudah untuk mengerti saya.
Bahwa saya tidak bisa tahu apa yang ada dipikiran orang lain hanya dengan melihat matanya atau gerakannya saja dan saya juga merasa sebaliknya maka saya mencoba untuk mengeluarkan semua perasaan, semua pikiran, semua balon dialog kedalam perkataan saya. Tanpa niatan tersembunyi. Agar kamu tidak terus-menerus menerka dan menebak-nebak apa yang ada didalam pikiran saya saat itu. Agar kamu tahu.

“Dina dimana?” Tanya Iir, mendadak, mengagetkan saya.
“Wah sekarang dah enggak sama dina” Jawab saya singkat, dan saya yakin Iir bakal terkejut dan mengajak saya mengobrol. Benar saja …
“Oh maaf, tak kesitu yah, ngomong sebentar” Sahutnya, langsung berdiri dan melangkah mendekati tempat saya duduk lesehan.

Dan kami pun berbicara, meskipun tidak lama, saya bisa merasakan kehangatan yang ditawarkan seorang teman. Duh beruntungnya saya, memiliki begitu banyak teman yang sangat memperhatikan saya.

“wah kapan-kapan disambung lagi fir, to be continued hihihi” Katanya ketika menyadari waktu bukan miliknya seorang diri lagi. Pukul tujuh malam lalu Iir pun pamit, pulang ke rumah suaminya, Asmanta. Mengantarkan orang tuanya yang sudah capek setelah seharian berkeliling yogya.

Daging Menjangan

Nyam nyam slurp Hape saya bergetar dua kali, sebuah pesan singkat rupanya.
“firman aku ke monjali setengah jam lagi -Iir”
Ada sesuatu, kelihatannya, yang membuatnya mau datang lagi. Lamat-lamat terdengar suara gitar dan kencrung mengalunkan irama keroncong, hahaha teman-teman saya sudah beraksi di pelataran belakang rumah di bawah sinar bulan yang tidak begitu terang. Mungkin karena perbendaharaan lagu keroncong yang terbatas, mereka akhirnya menggubah semua genre musik menjadi keroncong.
Sampai akhirnya terdengar deru mobil dari depan, Iir.

“Selamat malam” Kali ini dia hanya datang bersama suaminya.
“Ini ada oleh-oleh” Sambungnya lagi sambil mengeluarkan bungkusan besar untuk kami. Aha! Kami sudah bisa menduganya. Setiap kali Iir (atau orangtuanya atau kintung) balik dari Balikpapan, pasti membawa daging menjangan untuk kaum dhuafa di Yogyakarta.

Adalah aneh ketika pertama kali melihat komposisi makanan ini, daging menjangan disandingkan dengan roti khas bernama mantou (atau apapun tulisannya dengan pengucapan seperti itu). Tapi itu adalah semacam ritual memakan daging menjangan plus mantou semenjak saya mengenal Iir dan keluarganya (Seperti kartika sari yang selalu dibawa teman setiap kali berkunjung ke Bandung ^_^). Ternyata enak, enak sekali dan saya jadi ketagihan sejak saat itu.

“Besok dateng pagi aja yah” Kata Iir mengingatkan kami. Karena pernikahan telah dilangsungkan di Balikpapan beberapa waktu lalu maka besok mungkin hanya acara syukuran yang tidak begitu formal, untuk kerabat dan teman yang berada di Yogyakarta.

Ah Iir, apalagi yang bisa diberikan oleh teman kecuali perasaan ikut berbahagia, ucapan selamat yang tulus dan segenggam terimakasih karena telah membiarkan kami mewarnai hidupmu.
Sekali lagi, selamat ya Ir.

Benar katamu Ir ; lelah, lelah sekali, butuh lebih banyak keringat ketika kita ingin mempertahankan sesuatu, apapun itu. Bahwa kita tidak mungkin memiliki semua yang kita senangi maka kita akan menyenangi semua yang kita miliki.
Tidak semua orang berpikiran seperti itu.

2 Replies to “Teman Lama dan Daging Menjangan”

  1. yep. ga smua orang bisa ngerti apa yang qta inginkan 🙂 kadang2 kpikiran juga se, seandainya dunia ini kya komik, dmana setiap orang berbicara lewat balon dialog. kan lucu tuh 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *