Waktu Batu

Terjadinya Kala. Terjadinya Durga
“Aku ada tidak sengaja. Aku adalah dentuman besar di lubang kosmos dan setelahnya”
Sebuah dongeng tentang terjadinya Sang Waktu, juga ancaman yang turut lahir bersamanya.

Anakku Duapuluh Tujuh. Duapuluh Delapan dengan Suamiku
“Aku masih cantik kan, suster. Anakku saja tak henti-henti menciumi tubuhku”
Cerita tentang kesedihan Sinta. Ia baru saja menyadari bahwa Watugunung, suaminya, yang begitu dicintainya adalah anaknya yang dulu pergi dan tak kembali.

Kunjungan Terakhir di Wilayah Domestik
“Ah, Mak sayang. Tentu ia senang jika tahu aku sudah pulang”
Kisah tentang Watugunung yang pergi dari rumah karena dipukul ibunya waktu merengek minta makan.

Waktu Batu 3:Teater Garasi

Menggambar Bulan Menari di Bawah Kakiku
“Jangan berhenti dulu. Setiap kali kau berhenti, kau kehilangan kesempatan untuk berlari dariku. Apalagi, mendekatiku”
Watugunung yang marah, menyusun kekuatan untuk menguasai dunia.

Amnesia, Amnesia
“Kapal-kapal datang dari barat… Mengganti nama benda-benda. Perlahan, diam-diam, dan dalam percepatan yang melumpuhkan ingatan, mereka memaksakan wajah-wajah asing, tubuh-tubuh asing, untuk dikenakan. Dan segalanya tak lagi sama…”Raja Watugunung sedang beradu dengan Sinta, istrinya, ketika seorang prajurit datanng mengabarkan malapetaka yang datang dari balik laut. Serombongan orang asing datang membawa wabah tak dikenal yang tak bisa lagi dimengerti pun dikuasai.

Di Ruang Tunggu, Sinta
“Seluruh langit bisa saja sekutumu, tapi tak ada satupun yang akan membuatku melupakan semua celaka. Celakalah kau, Syiwa. Celakalah dirimu karena mengenalku”
Sinta yang menunggu anaknya kembali. Ketakutan dan kecemasannya telah menjelma menjadi kemarahan yang tak tertanggungkan. Ia mengamuk, seperti Durga, seperti Kali, mecari anaknya.

Kala Memakan Rembulan
“Hey! Kenapa gelap sekali?”
Dongengan tentang Kala, Sang Waktu, yang memakan rembulan. Dalam gelap orang-orang panik mencari jalan selamat.

Perang, Kematian dan Mendaratnya Kapal-kapal
“Wisnu telah mengalahkan sang Prabu. Tutup jalan-jalan.”
“Sepasang tangan yang telah memberimu kehidupan, adalah sepasang tangan yang merebutnya kembali”

Peperangan itu akhirnya terjadi. Antara Watugunung dan Wisnu, Sang Pemelihara Dunia. Antara kecemasan dan sesuatu yang datang dari balik laut.

Duh saya jatuh cinta berkali-kali pada teater garasi, sejak saya mengenalnya pertama kali pada awal abad dua puluh satu saya langsung tergila-gila dengan absurdisme yang kerap diusung teater ini.

Ah badan ini terasa pegal semua. Setelah kemarin sepertiga hari saya habiskan di jalan. Saya langsung berangkat menuju banyumas, rumah nenek saya, setelah sholat shubuh, sekitar pukul setengah enam pagi.

Hati dan pikiran saya dipenuhi bayangan-bayangan tidak jelas selama perjalanan, hanya sedikit rasa sedih, aneh karena sebelumnya saya begitu kaget waktu menerima pesan singkat dari Ibu. Melewati jalan pintas, jalan di sepanjang pantai selatan Jawa, saya selalu disuguhi pemandangan yang bagus, dan saya sendiri tidak pernah bosan.
“Ah sayang nikon coolpix saya tidak dibawa…” Batin saya berulang-ulang meskipun saya tahu saya memang sengaja tidak membawanya. Tidak pada tempatnya mungkin, pada acara seperti ini saya malah membawa kamera digital.

Tidak ada sinyal sepanjang jalan yang menghubungkan Yogyakarta dan Kebumen itu, ketika saya mencoba mencari tahu secepat apa waktu berlari dengan melihat hape tua saya (maklum saya belum pernah kepikiran untuk melingkarkan jam di pergelangan tangan saya hehehe).
“Sudah pukul setengah sembilan, semoga setengah jam lagi saya bisa bertemu dengan keluarga saya”

“Are u okay?” Sapa seorang saudara yang cukup akrab dengan saya ketika saya telah sampai di rumah nenek. Ah mas Ao memang selalu ber-English ria kalo berjumpa dengan saya, saya maklum sementara saya baru beberapa kali keluar pulau jawa dia sudah kemana-mana, hehehe nama anaknya saja pemberian seorang teman berkewarga-negaraan Bulgaria.
“Baik” Jawab saya singkat. Sekali lagi, bahasa inggris aktif saya kalang kabut, kadang saya minder sendiri kalo ada orang yang bertanya dalam bahasa itu ^^. Sambil memindai pelataran rumah nenek yang sudah penuh dengan orang-orang yang melayat, saya melihat peti mati berbalut kain hijau didepan rumah, sudah mau dimakamkan, saya tidak sempat menyolatkan nenek.
“Langsung masuk aja, itu Bapak sama Ibu” Katanya sambil menunjuk ke suatu arah.

Ah wajah cantik Ibu tidak bisa menyembunyikan raut duka yang dalam. Mata Bapak merah sembab. Aduh perasaan bersalah menyelimuti saya, kenapa saya tidak begitu sedih?
“Lewat sini, mas” Tuntun seseorang, saya yakin dia masih saudara saya meski saya tidak tahu namanya.
Ketika sudah dekat dengan peti mati nenek tiba-tiba udara panas menyesaki mata saya. Tak sengaja air mata saya jatuh saat Bapak memeluk saya erat sekali, yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Saya bisa merasakannya, kesedihan Bapak, kesedihan Ibu, kesedihan orang-orang terdekat yang ditingalkan nenek, kesedihan saya….
Inikah rasanya, menangis tanpa harus menjadi cengeng?

Pukul tujuhbelas lewat limabelas menit saya sudah sampai di yogya lagi, karena besok saya punya janji ke banyak orang. Aduh saya tidak sempat mengambil formulir ke tempat virtri, waktu batu #3 tampaknya tidak bisa diganggu gugat, maaf vir.

Kurang lebih pukul duapuluh dua pentas “Waktu Batu 3 : Deus ex Machina dan perasaan-perasaanku padamu” dari teater garasi yang berlokasi di PPPG kesenian berakhir. Saya, dengan tiga orang teman yang lain pulang dengan seribu interpretasi yang berbeda tentang ke-absurd-an yang ditawarkan mereka malam ini.

Selasa 21 September 2004 : Sedih. Capek. Terhibur. Hari itu sudah berakhir bagi saya

Duh saya jatuh cinta berkali-kali pada teater garasi, sama seperti saya jatuh cinta pada hidup

4 Replies to “Waktu Batu”

  1. bisa minta dokumentasi pementasan g???
    tapi caranya gimana y???
    mungkin klo’ ditampilin diblognya teater garasi, pasti menarik. alih-alih jika pementasannya bisa dicopy. hehehehehe……. coz ada tugas kuliah yang pke’ Wktu Btu sbg objeknya nech… hehehehhe….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *