Aduh!

Seorang gadis berseragam smu yang membawa sebuah piala yang agak besar ukurannya, sehingga dia pun kelihatan sulit membawanya dalam posisi membonceng ala wanita. Saya melihat pahatan itu pada dasar piala yang sedang ia peluk.

JUARA TIGA LOMBA KARYA TULIS

Saya tersenyum, menambah kecepatan motor lalu sedikit merapatkan pada motornya.

“Wah juara tiga nih” Bising. Kondisi jalan mataram yang selalu ramai membuat saya berkata setengah berteriak pada gadis itu. Muka gadis itu memerah ketika saya berusaha tersenyum

“Selamat ya” Sambung saya lagi, sebelum dia menjawab apa.

“Ah keliatan yah? Wah makasih mas..” Balasnya lugu, tangannya berusaha menutupi tulisan pada piala yang dipegangnya, senyumnya tulus, manis sekali. Saya pun meninggalkannya dengan senyuman yang lebih dari sebelumnya.

Menuju ke kampus, menemui dosen pembimbing yang sudah lama terlantar, maafkan saya pak. Hei ada beberapa sosok yang saya kenal. Di sekitaran kopma universitas gadjah mada.

“Hai” Sapa saya pada Yance dan Ervi Covri_kafral_afri, teman-teman kkn saya serta salah satu teman satu angkatan yang telah rampung, entah siapa namanya saya lupa, maaf. Sekedar menanyakan kabar dan ber hai-hai.

“Ke Gambiran naik jalur berapa ya, man?” Tanya Yance atau Ervi saya tidak begitu ingat.

“Gambiran itu mana ya?” Hahaha

Lalu saya minta ijin untuk melanjutkan perjalanan menuju kampus. Ah agaknya pak dosenpun membenci hari senin. Tidak tampak tanda-tanda keberadaannya. Membaca on/off edisi oktober yang baru saya dapatkan dari redpel bahkan sebelum majalah ini didistribusikan (nuwun Dab), membuat kurun waktu satu setengah jam tidak terasa.

Sakit. Ya sehabis sakit, beliau tidak bisa datang ke kampus, berita terakhir yang saya dapat. Kalau begitu senin depan saja. Baiklah, saya pulang, sudah siang, panas.

Memasuki jalan kaliurang mendekati perempatan kentungan, saya tidak mempunyai firasat apapun, sungguh. Berbelok ke kiri, ke arah barat, menuju rumah.

CIIIIIIIIT

Kecelakaan

Siapa?

Saya. Mencoba menghindari seorang ibu yang mengendarai motor astrea prima bersama anak kecil yang diboncengkan di jok depan ketika mereka menyeberang dengan tiba-tiba!!! Rem itu mampu menyelamatkan kami dari tabrakan, tapi tidak cukup untuk menghindari gesekan antara motor kami. Saya oleng ke kiri, dia kaget untungnya mampu menahan jatuh yang lebih parah.

Saya kehilangan keseimbangan, dan ah…
Ada sesuatu pada arah dimana saya mencoba menyelamtkan diri, ada motor lain, vega r berplat ab. Untung saja pemiliknya sedang berdiri agak jauh dari motor itu.

GUBRAK !!

Benar, kecelakaan.

Saya terpelanting jatuh di aspal, panas, sekitar sebelas siang, sakit, darah. Sejenak saya memindai sekeliling, ah tidak ada yang terluka selain saya, syukurlah.

Lalu orang-orang berdatangan, menolong saya, ibu itu dan anaknya yang langsung menangis, kaget mungkin. Lalu terjadi percakapan klise untuk menyelesaikan kejadian ini.

Masalah selesai. Saya harap.

Lalu saya mencoba berjalan menuju motor saya terpincang menahan sakit pada lutut kiri, wah lampunya hancur, hahaha. Aduh. Darah di tangan kanan saya, kotor, bercampur tanah, aspal dan debu. Sakit tentu saja.

Sepertinya tidak ada obat luka luar di rumah.

Virtri, manusia yang paling dekat rumahnya dengan lokasi saya sekarang, ah semoga anak itu ada dirumah. Padahal jika tidak adapun saya mungkin tetap meminta obat luka pada bapak atau ibunya, tidak tahu malu, tapi tahu sakit hahaha.

Tawa kamu lebar sekali ketika melihat saya dari balik kaca jendela, tawa jahat?

“Hayo mau ngejekin ya?” Tuduhmu dengan suara yang bukan virtri sama sekali
“Enggak kok, mau minjem kamar mandi sama betadine” Jawab saya dengan muka memelas, sungguh, ini bukan akting maya kitajima kok vir. Mengingat suaramu yang sedang hilang, jelas ada keinginan untuk mencela ^_^.

Lalu raut mukamu berubah simpatik ketika melihat saya yang babak belur dihajar aspal, ehmm, benarkah? Sebentar, saya tidak terlalu yakin soal itu. Tapi kamu meminjamkan keran air disamping rumah untuk membersihkan luka saya. Entah tulus atau tidak? Hahaha

“Kenapa?” Tanya pakdemu atau suami kakakmu saya lupa, sekali lagi saya tidak memperhatikan, ketika saya membasuh luka disamping rumahmu yang teduh. Lalu saya menceritakan garis besarnya, hahaha ternyata lucu juga. Ouch. Saya terlalu keras membersihkan luka dikaki saya.

“Kalo di jakarta gak ada betadine dek, adanya guadine” Katanya padamu. Pakde kamu kocak juga.
“Cuma di ambon om, ada betadine” Sahut saya mencoba menimpali sembari meringis kesakitan.

Revanol, betadine, kapas, hansaplast dan air dingin. Membuat saya hampir percaya kamu pernah ikut palang merah remaja vir. Hampir, hahaha.

Sekali lagi saya merepotkan kamu.

Danke Vir

Aduh!

3 Replies to “Aduh!”

  1. Cepet sembuh ya pak Firman :). BTw, tulisanmu asik2 .. keliahatan lah, orang yang jago nulis tu kyk gimana :). Keep the good work brother πŸ™‚ (egois, meneyebut orang brother).

    Moga2 bandungya menyenangkan .. moga2 segera beres urusannya sama dosen pembimbing .. aminnn.

    Met puasa!

  2. saya sudah baikan, tentunya berkat kalian hahaha

    terimakasih dukungannya saudaraku (kita memang egois, biarlah orang lain yang kelabakan menyesuaikan dirinya dengan kita, hahaha lagi)

    selamat puasa buat semua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *