Tidak Usah Jauh-jauh

“Pernah mencoba lari dari masalah fir?” Tiba-tiba kamu mengajukan pertanyaan itu pada saya, setelah cukup lama kamu bercerita tentang hidupmu yang dirasa makin runyam, dengan tatapan yang bisa jadi merupakan gambaran semangat hidupmu dan segala pernak-pernik yang terjadi padamu beberapa tahun belakangan ini, kosong.

Saya menggeleng ragu. Sembari berpikir, pernahkah saya? Belum! Ya, saya belum pernah benar-benar lari dari masalah. Entah karena saya tidak cukup cepat untuk meninggalkannya atau saya memang setegar itu, saya tidak tahu.

“Bunuh diri, aku sering memikirkannya.” Sambungmu lagi
“Tapi aku terlalu takut untuk itu fir, bukan takut pada kematian itu sendiri, takut pada yang ada setelah itu…”Deg, kata itu lagi. Bunuh diri. Kamu sering memikirkannya. Dan saya? Saya juga pernah, sekali, ya cukup sekali saja. Sampai saya menyadari kebodohan saya. Tuhan masih baik agaknya.

Kamu hanya mau menceritakan masalah ini pada teman terbaikmu, kenapa saya ada diantaranya? Saat ini. Saya benar-benar tidak mampu berkata apa ketika kamu benar-benar menceritakan segala pedihmu. Saya ingin berbisik padamu, saya juga sedang butuh empati, teman, sungguh. Meskipun tidak sebanyak yang kamu perlukan, tapi saya memerlukannya.

“Aku selalu lari dari masalah”

Saya menunggu, karena hanya ini yang bisa saya lakukan saat ini

“Bukan, bukan bunuh diri. Tidak pula alkohol, itu hanya efek samping, hahaha”

Mentertawakan yang tidak lucu.

“Sampai aku terjatuh, terperosok, masuk ke dalam jurang yang sangat dalam. Hitam”

“Tidak usah jauh-jauh hanya untuk mencari kegelapan, kamu bisa melihatnya di mataku, di hidupku”

Haruskah kamu merasakan pahit itu dengan tubuh kamu sendiri, sebelum kamu benar-benar bisa mengendalikan diri kamu?
Haruskah kamu mencium gelap dengan mata kamu sendiri, untuk mencari sekedar pengingat agar tidak terpuruk dalam hitam yang sama?
Haruskah, teman?

Seandainya saya bisa menamparmu lebih awal, saya akan melakukannya dengan keras. Sangat keras!

Ah tidak, saya yakin bukan tamparan yang akan membuatmu membuka mata. Mungkin ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada hidupmu
Bisa jadi…

One Reply to “Tidak Usah Jauh-jauh”

  1. masihkah dia bisa melihat warna lain dari dunia ini? aku ngga tau kepahitan apa yang dialaminya, tapi masih banyak orang lain yang bisa tegar saat cobaan apapun menderanya. Melihat suatu masalah dari sudut pandang lain, dan mencoba untuk mendekat, lebih dekat padaNya, itu bisa dicoba. bunuh diri tak akan pernah menyelesaikan masalah, qta juga tau klo orang yg bunuh diri itu diharamkan dari surga dan dibenci olehNya. ketika masih ada orang yang menopangmu, masih ada yang memperhatikanmu, maka cobalah untuk tetap hidup! (sorry komentarnya kbanyakan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *