Kenangkan

“Hooi fir!!” Teriak seorang perempuan manis berambut ikal berwajah cukup familiar dengan antusias, ketika saya memasuki sebuah gedung untuk memenuhi undangan perusahaan tempat bapak saya bekerja. Ah saya cukup lega melihatnya, sungguh, karena saya pikir tidak akan bertemu dengan anak sepantaran dengan saya.

“Duduk di sini aja” Dia menawarkan tempat duduk di sebelah kirinya yang masih kosong. Sayapun tersenyum dan mengangguk.

“Hai apa kabar?” Sapa saya berbasa-basi pada perempuan teman masa kecil saya.

Ah teman masa kecil; benar, kami berteman sejak kelas empat sekolah dasar, pada saat kami belum terdistorsi oleh diskriminasi gender (yang mengelompokkan ras manusia berdasar cara pipis-nya saja). Saya terkenang akan permainan galasin di lapangan depan sebuah sekolah menengah swasta tempat kami sering menghabiskan sore bersama teman-teman lainnya yang pada akhir permainan tak jarang kami berkelahi, iya kami sering berantem; saling memukul (bagi saya perempuan itu kelihatan begitu perkasa saat itu). Seperti juga sekarang : masih saja senang memukuli tubuh kurus saya.“Baik, kamu sendiri?” Balasnya dengan cepat. Plak. Pukulan pertama pada lengan kanan saya.

Saya meringis. Saya tidak akan bertanya tentang studi ilmu pemerintahannya yang belum juga kelar di sebuah perguruan tinggi negeri di kota paling ramah di dunia yang sama dengan saya. Karena nasib kami tidak jauh berbeda.

Plak. Pukulan kedua, kelihatannya dia punya kemampuan membaca pikiran.

Sambil menunggu bus yang akan membawa kami masuk kedalam area kilang pengolahan minyak terbesar di asia tenggara, layaknya detektif kami memindai satu sama lain setelah saling maaf memaafkan (ini sudah jadi ritual wajib kan?). Sudah lama kami tidak bertemu, tentu banyak sekali yang bisa kami bicarakan (terlepas dari nyambung atau tidak).

Plak. Aduh, reflek saya benar-benar menurun setelah gantung sepatu sekitar setengah tahun yang lalu.

“Eh fir kamu masih inget manusia itu gak?” Tanyanya tiba-tiba sembari menunjuk seorang pemuda dengan kemeja biru yang dipadankan dengan jeans dengan warna senada yang berada di deretan bangku dibelakang kami. Wajahnya (lagi-lagi) cukup familiar.

Ah saya baru ingat. Anak itu sering duduk di depan tempat duduk saya berpasangan dengan anak seorang guru kelas satu yang terkenal galak waktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Kelihatannya saya menemukan potongan-potongan masa lalu secara tidak sengaja. Dia jadi lebih tinggi dari saya, anak teknik perkapalan its itu, padahal seingat saya dulu tidak seperti itu.

Lalu saya pun terkenang akan sebuah gedung dengan dua belas kelas di antara rimbun pepohonan dan sebuah kantin yang tak pernah sepi dan tempat parkir sepeda dan sebuah ruang unit kesehatan sekolah di sebelah perpustakaan kecil tempat dimana saya selalu singgah ketika bel istirahat hanya untuk mencuri sebuah senyum …

Perempuan dengan bunga mawar, saya mencoba menciumi semua kenangan; yang sekarang saya sebut masa silam, setelah berpuluh tahun (ah, dimana kamu sekarang?)

Lalu saya pun terkenang akan pantai di sebuah pulau kecil di selatan jawa dengan pasir putih, buih ombak, pecahan kerang, senyum para warga binaan, batu hijau, pohon penuh duri, keringat, laut yang dalam, lubang di antara batu karang raksasa, ikan-ikan laut kecil yang berenang di sela-sela rumput laut dan kedua kaki, dan sepi.

Lalu datang tiga buah bus perusahaan berwarna biru bergaris putih tegas…

That day i’ve got all good things in the world, I guess, a beautiful day as beautiful as your pray; the girl with the smile that won’t fade away.

Tiba-tiba saya kangen yogya, kota paling ramah didunia, entah kenapa.

Plak!!

One Reply to “Kenangkan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *