Laut

“Selamat datang, aku selalu menunggumu”

Mungkin itu yang coba kamu sampaikan setiap kali saya pulang; ke rumah; selalu, setelah sekian lama saya meninggalkanmu untuk menuntaskan strata satu yang hampir rampung di kota paling ramah di dunia. Saya baru menyadarinya sekarang. Laut yang saya rindukan. Laut yang membuat saya nyaman. Ah saya selalu jatuh cinta pada semua yang bisa membuat saya nyaman.

Bukan karena kamu, laut yang menunggu saya, berlanskap sempurna. Tidak pula terbalut alam yang indah dan berpasir putih layaknya sundak. Tidak sehiruk-pikuk sanur atau kuta. Surfing dan snorkeling-pun sama saja dengan buang-buang waktu disini. Bukan pula karena ombaknya tidak sebesar dan seganas parangtritis. Tidak juga memiliki eksotisme lombok (duh saya belum pernah kesana, iri rasanya melihat segarnya wajah riyani djangkaru ketika mencumbuinya)

Iya saya mencintai laut tanpa alasan
begitu juga ketika saya mencintai apapun.

Dan saya pulang.
Berlari menuju lantai atas hanya untuk melihat laut dari balik jendela.
Kamu masih disana.
Setia.
Tolong jaga ibu ya (juga hati saya),
seperti yang sudah kamu lakukan selama ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *