Musim Hujan: Hati-hati

Sudah saya perhitungkan; saya bisa menyalip dua buah mobil didepan saya, toh tidak ada kendaraan lain pada arah yang berlawanan. Jalan alternatif di tepi pantai selatan pulau jawa yang menghubungkan yogya dengan kebumen ketika itu diguyur hujan yang deras, dingin yang menusuk.

Persneling empat. Perkiraan yang detil. Jalan lurus yang sepi. Wuss. Satu mobil sudah terlewati. Dengan kecepatan seperti ini rasanya bukan tidak mungkin langsung diteruskan dengan meyalip mobil satu lagi yang jaraknya hanya sekian detik.

Persneling empat. Perkiraan yang detil. Jalan lurus yang sepi. Wuss. Tiba-tiba mobil itu membanting setirnya kearah kanan; menghindari lubang dijalan, mungkin, ketika saya belum sempat mendahuluinya. Reflek yang masih tersisa ditubuh yang rapuh ini masih mampu menghindari gesekan antara tubuh manusia dan badan metal itu. Tapi licin, jalan sudah habis ketika saya terpeleset jatuh ke rerumputan.

Sraaakk!!!

Saya jatuh. Detik yang hilang. Ah, teman yang membonceng di belakang saya juga ikut terlempar ke jalan.Buk!!

Saya menghantam tubuhnya!

Buk!!

Motor saya menghantam tubuhnya!

Hari belum juga sore ketika tiga sahabat singgah ke kota saya sesuai janji mereka untuk sekedar mampir di rumah untuk berlebaran, tapi tetap saja itu adalah perjalanan yang lama menurut perhitungan saya. Mungkin mereka mampir dulu di purworejo atau kebumen atau purwokerto pikir saya.

Hahaha.

Saya salah. Saya menyadarinya begitu melihat salah satu motor sahabat saya penuh goresan, jeans kotor sobek di lutut; memamerkan balutan perban dan bercak darah yang masih basah. Pun seorang teman perempuan yang tubuhnya juga sedikit koyak.

“Kecelakaan?” Tanya saya setelah mempersilahkan mereka masuk ke rumah lama saya.

“Jatuh” Jawab teman saya yang memiliki luka terbanyak
“Di kebumen”

Seharusnya kamu bisa bermain ombak, mengobati kerinduanmu, mandi di pantai, mencoba menangkapi ikan-ikan laut dan kepiting-kepiting yang sesekali melintas diantara kakimu, menyentuh kasarnya pasir putih dan pecahan kerang, atau hanya membenamkan tubuhmu di hijaunya air laut yang tenang; di pantai paling indah di kota saya. (sebenarnya masih bisa jika kamu kuat menahan sakitnya, hahaha; duh maaf teman saya cuma bisa berempati sekali saja, setelahnya hanya akan membuat kita mentertawakan diri sendiri, bukan begitu?)

Perjalanan pulang. Hujan masih deras, belum bosan juga mengguyur kami. Saya mengantar teman saya menuju kota paling ramah di dunia; kasihan juga melihat lututnya yang tidak bisa ditekuk dan sakit bila diluruskan harus melakukan perjalanan empat jam dengan motor yang penuh goresan dan ban depan yang sering goyang jika dipacu lewat enam puluh; biarlah besok saya bolak-balik, pulang lagi ke rumah untuk mengambil motor saya, daripada teman saya jatuh lagi, hahaha.

Kami berhenti di dekat kutoarjo; hujan berubah menjadi badai, jarak pandang hanya lima meter, muka saya sudah kisut ditampar-tampar air hujan. Saya semakin tidak bisa mencintai hujan.

“Ayo makan saja” ajak teman saya, kakak semua semua orang, kebetulan ibu membungkus nasi dan lauk buat kami. Hmm, ibu memasak mi goreng, sayur kacang dan ikan tengiri (kalau saja kalian pernah mencicipi sop ayam buatan ibu…)

Pukul sebelas malam. Sudah tidak hujan; di kota paling ramah didunia. Bekas air dan basah masih mengirim hawa dingin.

Dan hari belum begitu gelap ketika wangi tanah merah dan aspal basah masih melekat pada udara malam, menyelinap kaku di antara beratus kerinduan pada kota ini.

5 Replies to “Musim Hujan: Hati-hati”

  1. walah walah..laen kali hati2 ya mas, kalo ujan jalanan emang licin n rawan kecelakaan 🙂
    btw, boleh ikut nyicipin sop ayamnya ibunya mas firman? 🙂

  2. aaawww… makasi ya. btw, berat juga ya.. fir
    oi, yang jatoh tu sapa ya sebenerna? bukan kamu toh?
    xixixixi, tapi setuju fir, yang paling asik adalaah jika kkkita bisa menertawakan diri sendiri. itu kebahagiaan yang mendaaasar, kukira. xxeeexexee

  3. ahh, saya kira kmu yg jatuh. Blm juga ilang dr ingatan ttg posting ttg kecelakaan di blogmu ini, masak uda jatuh lagi. Buat yg abis jatuh .. be careful, moga2 cepet sembuh.

    buat firman, ttg wordpress plugin unutk menangkal spam, kan kmu udah pasang captcha (sayangnya bukan image). KLo captchanya pke teks ya sama aja itu, ntar spam-scriptnya bisa meretrive captcha teksmu. klo pake image kan susah, hrs pake image recognition dl ntar klo pgn mendapatkan captcha-nya.

    Anyway, ini ada yng menyumbang link buat plugin wp:
    http://geek.blogthing.com/2004/09/14/new-spam-wordpress-spam/#comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *