Sudah Setahun

Pagi masih saja menunggu ketika sebuah pesan pendek hadir di ponsel saya, memaksa saya untuk membuka mata; untuk menghirup embun pagi yang di bawa udara dingin; untuk sekedar menggerakkan tubuh yang masih lekat dengan mimpi. Bangun, pemalas!

“jam sepuluh : on time” Begitu bunyi pesan yang disebar seorang perempuan, teman saya, menggunakan message service centre yang kompatibel dengan salah satu jaringan operator gsm di negeri ini untuk menikmati berkirim pesan pendek secara cuma-cuma (sadarkah kalau metode semacam itu membuat kamu susah dihubungi secara on time? Hahaha). Dan juga kabar-kabar yang lain; tentang pembagian jatah penyedia konsumsi, ancaman agar mau ikut serta atau tentang hari yang telah dijanjikan, hari penggemukan badan.On time? Yang benar saja. Bahkan rambutnya yang sudah tidak lagi panjang; seolah mengerudungi wajah segarnya yang manis masih terlihat basah ketika saya mampir kerumahnya untuk mengajaknya berangkat bersama sekitar pukul sepuluh kurang sedikit. Mengenakan t-shirt warna merah muda seolah menegaskan bahwa dia bukan laki-laki. Sesekali memadu-padankan dengan segala yang berwarna senada, membuatnya tampak kocak dan sedikit centil (sudahlah kamu sudah cantik kok, sungguh, ayo berangkat). Tapi sekali lagi saya tidak bisa menolak ‘ritual’ yang ditawarkan saat itu sebelum saya mengajaknya segera pergi, hahaha.

Ah sudah banyak paku yang saya tancapkan tentunya, semoga maaf bisa melepasnya Vir

On time? Ini sudah lewat lima belas menit dan kami baru bertolak untuk menemui teman-teman lain yang sudah menunggu di pelataran lembaga pengabdian masyarakat universitas kami. Apa terdengar seperti kkn? Karena kebiasaan ini memang bermula dari peristiwa kkn setahun yang lalu; mengunjungi lagi pondokan atau bertemu dengan keluarga kkn; teman-teman satu sub-unit dan juga penduduk setempat atau sekedar menjaga tali silaturahmi agar tetap menari.

Lihat mereka sudah berkumpul, bergerombol di depan gedung yang tidak bisa dikatakan sepi itu.
Si gendut yang menawan hati itu tetap saja menawarkan kehangatan di renyah tawanya. Selamat lebaran Jef.
Juga pemuda berkulit bersih yang masih saja menjaga putihnya sikap, kata dan pikirannya. Minal aidzin wal faidzin Dar.
Begitu pula laki-laki gagah yang kalem dengan perut yang sudah mulai membuncit masih saja membuat saya kagum dengan kekuatan ingatannya. Sugeng riyadi Gung.
Lalu tak lama datang perempuan manis berambut panjang dan seperti biasa : wajah solonya yang ayu dihiasi dengan senyum yang memikat hati. Maaf lahir serta batin Ma.
(Anto! Makin gelap saja kamu; saya titip maaf buat anak-anak kaligayam yang lain)

Tus!!!

Bunyi rantai putus menjadi pembuka perjalanan kami.

Jan!!!

Lalu hujan menimpalinya hanya beberapa saat setelahnya.

….

Kangen. Jalan ini, jalan yang sama yang sering saya lewati setahun yang lalu, membuat saya tidak bisa memacu motor saya lebih cepat meskipun sudah berubah menjadi lebih halus. Sawah luas yang masih hijau, bukit-bukit berlanskap sempurna, arak-arakan awan peneduh pandangan, alam pemberi padu-padanan warna yang tak pernah salah, iring-iringan sepeda onthel anak-anak berseragam pramuka selepas sekolah, senyuman dan monggo tak pernah setulus ini, talud-talud dan jalan beton penyambung interaksi yang sudah jadi, kuburan yang tersebar dimana mata tertuju, seruan kikk anak-anak Ponjongan ketika melepaskan operan akurat ala Ricardo Izecsson, siulan pemuda desa ketika teman-teman perempuan lewat sehabis belanja atau mengajar di sekolah dasar, potongan karcis doorprize pemutaran film, mengkilapnya tangan saat mengemas minyak goreng, puluhan melon teramat manis yang mampu membuat darah rendah saya kumat, nutrijell di setiap komposisi jajanan, teh hangat pembuka hari, bungkamnya mulut si kecil Ayu ketika hendak mengucap nama saya, masakan ibu Sri penyelamat hidup anak-anak dari cengkeraman sayur santan abadi ataupun ritual berdoa yang manis setiap memulai sarapan, makan siang dan malam.

“Mas firman” Duh senangnya hati ini; saya bisa melompat-lompat, berguling-guling kegirangan begitu mendengar kalimat itu keluar dari mulut Ayu ketika ditantang seorang teman untuk menebak nama kami masing-masing saat kami tiba di pondokan sekitar pukul dua siang; gadis lima tahun ini makin dilihat semakin ayu saja (mirip Megawati diliat dari mana coba?)

Siapa yah namanya? Saya mencoba menggali ingatan saya ketika mulai bertemu wajah-wajah ramah yang saya kenal, pribadi-pribadi menyenangkan yang pernah saya sentuh; sesekali muncul ketakutan-ketakutan dalam pertanyaan seperti “Apakah saya cukup berharga untuk diingat mereka sedangkan saya saja kepayahan ketika hendak menyapa namanya?”.

Lalu tumpah. Ingatan itu, kenangan itu, tentang nama-nama, tentang peristiwa, tentang keluh kesah, tentang bahagia, tentang semuanya; diiringi derai senyum.

Lalu aku kenangkan kembali sebuah cerita;
Cerita sebuah ‘rumah’ KKN yang penuh ‘cinta’.
Yang ikat-ikat jagung, lumbung padi, ataupun cerobong-cerobong asap adalah jiwa, pula penuh ‘kerindangan; tentunya
Hingga suatu saat kita haus, maka kan terluapi olehnya.
Itulah yang kita namai dengan : kebahagiaan
Kebahagiaan yang tak kena kinaya ngapa, tak terkatakan.

[#]
Masih kurang dua!
Saya merindukan kalian tau (bakso bantul sama kata-kata maafnya itu loh, hehehe)
Perempuan tegar, terkonsep jelas, tak terpatahkan yang mengajari bahwa disiplin dan waktu adalah selaras, weit selamat buat sebelas desembernya besok, saya pasti datang (ada acara tangkep bunga kayak di film-film barat gak Ra?); uh kamu melesat secepat F-16 sampai kami cuma sempat melihat punggung mobilmu. Salam buat Marcell, Ra.
Dan juga perempuan pendiam yang cantik, sahabat semua orang, pembaca perasaan yang handal, maaf lahir batin Ce, saya tau saya punya salah ke kamu satu lemari es yang besar, dan saya juga tau kamu punya maaf seluas bandara udara adisucipto ^_^.

Nice Trip pals, sayang gak jadi penggemukan badan :p

2 Replies to “Sudah Setahun”

  1. ehehehe… benarkah yang saya pikirkan? bahwa kamu pun terkena virus itu…?? virus kkn itu?? xixixi, selamadh deh, setaun dunk berarti?
    ah ya, nevermind lah. cuma mo nanya, jef yang kau maksud itu beneran jefri arek malang bukan? yang kostna di belakang putera kampus tuh? ahahaha.. masih tambunkah dia? dan masih jagokah petikan gitarnya yang aroma jazznya kuentel banget…
    xexexe, kalo iya, salam ya. tapi kayanya dia ga inget de sama aku, kenalannya singkat banget c tapi cukup berkesan. hehehe

  2. ini firman yang ada maulana dibelakangnya kan?
    yang sering ngomong
    *jangan terlalu banyak berharap padaku*

    tapi nyatanya tidak sia-sia menggantungkan begitu banyak harapan kekamu fir, ternyata kamu selalu bisa diandalkan (ternyata!!!! hihihihihi, dasar anak eksak yang terlalu sosial )

    sahabat yang (terlalu) baik 😉

    dah inget aku?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *