The Mind of Marriage Man

“Hahaha, kamu sama sekali tidak berubah” Sapa teman saya ketika datang untuk berlebaran dengan saya, di rumah lama, dengan mobil kijang milik kantor tempat ia bekerja yang berplat yogya ketika hari sudah gelap diantara gerimis yang akhir-akhir ini selalu menyapa kota saya.

Saya hanya bisa tertawa kecil. Tidak berubah? Dia yang pantas disalahkan, dialah yang berubah terlalu banyak dalam jangka waktu secepat ini. Lihatlah : jambang, jenggot dan kumis yang memenuhi wajah bulatnya (membuatnya selalu kelihatan lebih tua dari umur sebenarnya), perutnya yang semakin membuncit, logatnya yang sudah belepotan antara logat klaten, boyolali dan lingua franca kami dan lihat juga tabel status kawin/tidak kawin pada ktpnya sekarang.“Nyonya apa kabar?” Tanya saya begitu sadar dia datang sendiri

“Tidur di rumah, kecapekan” Jawabnya.

“Junior?”

Dia hanya tertawa ketika mendengar pertanyaan saya

“Belum dikasih; habis keguguran”

Ah maaf teman; bukan maksud saya; saya ikut sedih, sungguh.

“Saya harus pulang dengan selamat fir” Katanya saat itu, ketika kami melewati jalan pulang yang sama sekali tidak dilengkapi oleh lampu-lampu penerangan jalan; menyiratkan rasa cemasnya.

Dia benar-benar sudah berubah.
Dulu, waktu kami masih sangat muda, di awal pertemuan kami, tidak pernah terlihat rasa takut pada apapun diwajah kami, meskipun kami sama-sama tahu bahwa kami takut akan banyak hal, tapi kami selalu berhasil menyembunyikannya hahaha.

Ya saya tahu, teman.

Dia harus selalu selamat sampai di rumah, mencoba untuk tidak egois mengingat ada sebuah harapan, sepotong senyum, semburat bahagia yang telah digantungkan oleh seseorang pada hidupnya.

2 Replies to “The Mind of Marriage Man”

  1. kikikikiki .. pertanyaanmu klise jenx :P. Gk liat po, betapa dewasanya si firman ..

    Go firman go! Ayo jadi bapak Fir 😀

    kikikikikkiki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *