Hujan Pukul Sembilan, Sabtu Malam

Jika ini adalah puncak semua perih mengiris yang sering
mampir dalam beberapa waktu belakangan;
maka semua sesak di dada, mata yang kerap terasa panas, kata-kata terbata
yang keluar dari mulut adalah hal-hal remeh
pun sepele: sisi anak-kecil dari ego yang makin hari makin mengoyak sadar.

Adalah perempuan manis itu,
mengajari tanpa harus menggurui.
Sekali lagi.

Perempuan manis itu, seolah tersenyum
padaku dalam khayalan yang menembus ruang dan waktu;
beautiful release, bisiknya padaku
tanpa air mata, dengan raut wajah yang memberi rasa aman.
Perempuan manis itu, matahari yang baru saja menawarkan kehangatan;
embun pagi yang dilindas oleh episode senja yang terlalu cepat
Perempuan manis itu, usianya terhenti.

“Aku pasti akan menemukan kedamaian disana”
Katanya padaku yang tak sempat melihat sudut bibirnya untuk
terakhir kali; mengantar menuju tidurnya yang abadi.

: untuk sahabatku; adik termuda dari perempuan manis berambut ikal

now you’re in the arms of an angel,
may you find some comfort there…

One Reply to “Hujan Pukul Sembilan, Sabtu Malam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *