Untuk Temanku yang Hidupnya Berarti Bahagia

Fase, jika kamu menyebutnya begitu, mungkin inilah fase yang paling besar dalam hidupmu1. Sebuah turning point, titik balik; diantara banyak persimpangan, jalan satu arah, mungkin sedikit jalan bebas hambatan, kemurahan petugas lalu-lintas untuk tak mengejar saat kamu menerabas rambu-rambu, traffic light dengan nyala lampu merah yang lama yang tak jarang membuat kesal, forbidden road, tempat singgah di tepi jalan yang berulang-kali menggoda; pilihan diantara bir dingin dan temulawak2 ataupun berjuta jalan berlubang, penuh kerikil dan tak beraspal yang sering kamu tapaki.
Bahwa pengalaman-pengalaman sering menjadi tepukan paling keras di punggung kepalamu saat kamu tak sadar, saat kamu bertingkah bodoh menghadapi masalah ataupun ketika bersikap; adalah cara kamu tumbuh menjadi manusia dewasa.

Masih ingatkah kamu fase hidupmu sebelum ini. Saat kamu memutuskan untuk tidak lagi menjadi egois. Saat kamu mulai belajar membagi semua yang ada padamu. Saat kamu memutuskan bahwa waktu bukan hanya milikmu sendiri. Masih ingatkah kamu akan segala cemoohan, sinisme dan gunjingan semua orang; bahkan dari sahabat-sahabatmu sendiri (duh, maaf teman; aku salah). Saat kamu mengajari aku tentang bertahan untuk terus hidup dari opini publik yang kerap menjadi pembunuh semangat.

Gadis mungil yang namanya berarti perempuan yang disayangi tuhan itu mengepalkan tangannya ketika aku tersenyum padanya; ah, aku yakin kamu telah menurunkan semua semangat, jiwa yang tegar, sapaan optimisme pada hidup maupun kekeras-kepalaan kamu.
Gadis mungil dengan paras cantik, kulit yang masih merah dan pipi yang masih halus (boleh aku menciumnya?) itu seolah membalas senyumanku; paduan sempurna antara halus sikap ibunya dan sifat bapaknya yang tak mau kalah.

Sebuah titik balik dalam hidup, temanku, aku tahu kamu juga sering berharap begitu.

_______________________

1 Aku baru sadar; kamu tak pernah tersenyum selebar tadi malam. Selamat untuk sahabatku, Candra dan Kumala; yang kepada mereka telah dititipkan sebuah anugrah.
2 Tuhan dan Bir, Sindhunata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *