Kota yang Dicintai Gunung-gunung

Jam digital yang tak mempunyai jarum di ponsel bututku itu tampak begitu menyebalkan, seolah mengatakan padaku bahwa waktu selalu berlari tidak pernah sejenak berhenti untuk siapapun, untuk apapun, berulang kali. Malam itu, sehari sebelum tahun berganti, aku mulai mengepak pakaian dan alat mandi dan sedikit bekal pengganjal perut (uh, seandainya aku bisa mengepak masa-lalu, membungkusnya setidaknya membuatnya lebih baik atau bahkan menguburnya) dengan terburu-buru. Ya sekali lagi jam digital itu seolah berkata, bahwa waktu tidak pernah menunggu.Sudah tidak ada pilihan, aku harus pergi ke kotamu, kota yang dalam diam pun gunung-gunung tetap setia menjaganya, malam ini, tidak lagi menunda hingga esok, dengan menggunakan kendaraan apa saja -meskipun aku sangat menyenangi perjalanan jauh dengan kereta ekonomi yang tidak pernah bisa diandalkan keakuratan waktunya, atau justru karena itu aku seolah mempunyai teman yang tidak peduli dengan waktu, iya kereta kelas ekonomi yang gerbongnya berwarna dasar merah oranye dengan sedikit warna biru kusam, yang selalu berhenti lama di setiap stasiun kecil hanya untuk menonton kelebatan kelas eksekutif dan bisnis, yang tidak jarang tak ada tempat untuk menaruh pantat secara hormat dan beradab, yang setiap manusia yang ikut didalamnya mempunyai kisah-kisah unik yang dengan sukarela mereka akan menceritakannya pada kita.

Surabaya, pukul pagi buta, dan aku teringat seorang perempuan manis dengan kerudung dan senyum yang selalu menggantung yang sedang berjuang di kota ini. Aku kangen, bagaimana kabar kotamu setelah sekian lama aku tak mengunjunginya? Bagaimana kabar hatimu, adikku? Maaf, tidak bisa mampir atau sekedar menyapa lewat pesan singkat ketika sepatuku basah karena air menggenang yang tak sengaja terinjak di terminal waru karena tergesa mengejar bus menuju selatan pulau jawa. (bukannya durhaka lho dek, 😀 )

Sunrise. Semburat merah di ketiak semeru mulai terlihat ketika mataku menoleh kearah kiri, duh indah sekali, seperti sukab yang memotong senja untuk alina, aku juga ingin membagi pagi kali ini dengan seseorang, sungguh. Info sel gsm pada sebuah operator di negeri ini membuatku jarang bertanya tentang nama-nama daerah. Lawang, sekali lagi aku membacanya pada layar ponselku yang sudah mulai redup; hampir sampai. Langit yang bersih mengingatkanku pada kota paling ramah didunia beberapa hari terakhir, sehingga dua gunung itu; merapi dan merbabu, punya kesempatan untuk memamerkan keindahan liuk tubuh telanjangnya, menawarkan dinginnya angin gunung pedesaan pada kota yang panas. Pun kota ini hari itu, dengan semeru, kawi, arjuna, dan beberapa pegunungan yang mengelilinginya.

“Wes nang endi koen?” Tanyamu via telepon, hahaha pada dasarnya aku memang keras kepala dan jarang menuruti petunjuk, ketika kamu menyarankan agar segera mengirim pesan singkat atau sekedar miss-called saat tiba di surabaya, aku bahkan belum menyentuh keypad ponselku sampai lawang.
“Neng lawang ki, dipethuk yo, aku rareti malang je”
“Huu, enteni wae nang terminal yo”
“Yup”

Aku suka menunggu, bukan gombal, tapi aku benar-benar menikmati perasaan disaat menunggu. Apalagi ketika aku menunggu di terminal kota malang, hari terakhir di duaribuempat, tahun yang berat bagiku; kehilangan banyak sahabat, berulang kali dihajar de-javu keparat, kelihatannya aku benar-benar butuh udara segar. Ya, ketika menunggumu aku mencoba belajar, merenungkan kembali, flash-back bahasa belandanya (beda dengan track-back, atau four-back four-midfielder two-attacker); ah, ternyata masih banyak yang belum aku syukuri, tuhan. Lihat, aku masih punya sahabat seperti kamu, punya seorang kakak yang mampu membuatku menanggalkan baju ego-ku, ada perempuan yang selalu tersenyum yang sama-sama percaya bahwa when harry met sally punya satu ending yang lebih bagus, dan yang pasti aku masih punya Dia yang selalu ada kapanpun dimanapun (santai saja, aku tidak serelijius itu kok; tapi yang jelas aku sangat suka waktu aku mencoba berdialog denganNya)

“Ini lho obyek-obyek foto menarik…” Katamu sambil menunjuk-nunjuk sma cor jesu yang tersusun dari batu-bata merah dengan arsitektur bangunan yang mirip-mirip asrama di inggris, gereja katedral yang megah, gereja merah di alun-alun yang bersanding persis dengan masjid hijau yang sekilas mirip istana kaisar tsar yang agung di rusia. Lalu kamu menunjukkan sesuatu yang lebih menarik bagiku, pagi itu: pecel kawi, hehehe.

Aku hampir menangis saat mendengar neno warisman membacakan sebuah puisi untuk aceh di sebuah stasiun televisi dimana salah seorang reporternya yang ayu sering tidak bisa mengendalikan emosinya, tidak jarang pula menitikkan airmata saat melaporkan berita dari nangroe aceh darussalam (dan aku tahu itu murni empati dan kesedihan seorang najwa shihab, bukan ekspresi dibuat-buat ala bisnis berita). Rakyat aceh adalah orang yang kuat, yang selalu menolak untuk ditindas, selalu bangkit saat dijatuhkan, meratap dan mengiba adalah pengkhianatan. Membayangkan kembali senyum beberapa orang sahabat yang pergi bersama gelombang setinggi sepuluh meter yang melaju beberapa ratus kilometer per jam saja sudah membuat mata ini panas; ingin rasanya berbuat lebih dari sekedar berdoa dan memberi sumbangan.

“Hoii jadi ikut kebaktian gak?” Suara teriakanmu terdengar sampai atas ketika aku sedang bercumbu denganNya seusai selesai sholat Isya’. Ya, nanti aku segera turun setelah ini, bisikku dalam hati. Kebaktian tahun baru kelihatannya akan segera dimulai ketika jarum jam dinding kamarmu menunjuk pukul sembilan malam. Gereja itu menyatu dengan rumahmu, hati yang terbuka menerima seorang sahabat dengan keyakinan yang berbeda, seperti juga kamu, kakakmu, ibumu dan ayahmu yang pendeta.

Aku mengambil tempat duduk sekitar limabelas kaki dari barisan terdepan di bagian sebelah kanan, belum banyak yang datang meskipun kelihatannya sudah dimulai. Kulihat kamu sedang menyiapkan peralatan musik dan sound-system dan sebuah overhead-projector dan hal-hal lain. Sibuk sekali. Sesekali memindai ke arah orang-orang, muka-muka baru, senyuman baru. Semoga aku tak mengantuk saat kebaktian, badan ini rasanya mau hancur saja sejak beberapa hari yang lalu ketika jam tidur dan jam coding punya perbandingan sekitar satu banding tujuh, meremukkan diri bersama dengan teman baru yang menyenangkan (tanggal enam sebentar lagi kok, mulai biasakan dirimu dengan stylus, bukan pena hehehe). Bersamanya aku jadi mengenal rbc ministries dengan hymn of prayer, tersihir oleh nada-nada yang menyejukkan jiwa dari petikan gitar akustik; I need thee every hour, take my life and let it be dan sebuah lagu dengan nada yang sama dengan lagu ‘o lihat ibu pertiwi sedang bersusah hati’ (yup kamu benar vir, :p) menjadi isi dari playlist winampku beberapa hari terakhir.

“… saya akan menyanyikan sebuah lagu; kebetulan saya bawa teman dari yogya, dia suka sekali lagu ini, tuhan aku memerlukanmu tiap jam, yang dalam versi asli judulnya i need thee every hour…” Katamu pada kesaksian terakhir. Duh, lagi-lagi aku merinding mendengar lagu itu, ditambah suara empukmu, seakan-akan tuhan ada disampingku; mungkin saja orbitNya memang sedang melengkung, berada pada titik yang paling dekat denganku (Subhannallah -karena tuhan selalu bekerja dengan cara yang misterius).

Bencana yang datang bertubi-tubi, airmata, kesedihan, nyala lilin di gelap malam, sakit, kesehatan, kegembiraan, senyuman, sahabat, waktu luang, kelimpahan materi, masa muda …

dan aku jelas memerlukanNya setiap milidetik.

[#]
A billion of thanks Jef for all of your kindness, kota dinginmu yang cantik dan perkenalan dengan perempuan pemilik senyuman ramah itu. (duh)

Tamales nuhat urab

5 Replies to “Kota yang Dicintai Gunung-gunung”

  1. hiks…..klo inget aceh,aku jadi sedih….
    aku manusia yang ngakunya sulit tersentuh,bener2 jadi sosok yang beda.aku jadi boros ngluarin air mata tiap liat berita2 itu.bahkan,berita yang dah berulang-ulang ditayangin di tipi2.

  2. Hampir sepekan selepas tanggal enam, baru kali ini kusempatkan diriku menghampiri beranda rumah mayamu, dan stylus itu belum juga datang. Siang ini, katanya. Bagaimana kabar perempuan pemilik senyuman ramah itu? (Emang orang mana seh pemilik senyuman ramah itu??). Sudahkah kau menyempatkan diri untuk meletakkan E-Sword di komputermu? Jika sudah, sempatkanlah dirimu untuk membaca John 3:16. Sesuatu yang ingin aku bagikan, namun cukup sulit untuk terungkap. (lha wong ketemune koding terus, kapan ngobrole :P). Good luck with your Skripsi, semoga bisa cepet kerjasama lagi. Thanks God, kita ngga harus ngurusi 24 macam report yang aseli dari Biak itu. 🙂
    That’s all folks.
    Best regards,
    Nick.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *