Delapan Puluh

Suatu waktu ada saat dimana manusia harus memilih atau dia tidak akan menjadi apa-apa

Kek, aku memanggilmu begitu karena kerut-kerut umur itu mulai menutupi wajah keras nan lugas dari sosok yang berani untuk selalu berjalan di atas kebenaran. Kek, aku suka tulisan-tulisanmu meski tidak semua aku baca pun aku tak becus memaknainya. Aku juga tidak pernah ngefans berat padamu atau tulisanmu, tidak juga mendiskusikannya dalam komunitas-komunitas kelompok baca seperti beberapa lainnya. Aku hanya memiliki beberapa buku saja, tidak banyak, habis kebanyakan buku-bukunya mahal dan tebal. Aku juga sempat mampir di university center dua tahun yang lalu di kampusku untuk melihat sedikit keriputmu diantara semangat perlawanan terhadap penindasan dan kesewenangan yang masih juga membuncah. Buku pertamamu yang aku baca sembilan tahun yang lalu tidak pernah tuntas, dan celakanya aku lupa judulnya. Aku cuma ingat salah satu kutipan kalimat -itupun kalau aku tak keliru- yang ada buku itu; salah satu dari berpuluh atau bahkan dari beratus buku; yang kamu tulis dengan mesin ketik yang mengeluarkan bunyi ‘cetak cetok’; yang merupakan satu alasan kenapa kamu tidak juga beralih ke word-processor yang banyak disediakan oleh mesin bernama komputer, dirumah atau dipenjara atau dimana saja.

Kek, aku bukan aktifis atau sastrawan atau minimal mahasiswa ilmu budaya pun isipol yang mampu menangkap makna dari tulisan-tulisanmu, tapi dengan kepiawaianmu aku bisa kamu ajak tersenyum dan merenung untuk menjadi lebih manusia ketika menelusuri hidup yang kamu tuangkan dalam kata. Kek, harus kuakui kamu adalah tukang ketik manual, pendongeng, penulis, sastrawan dan pencatat sejarah terbesar yang pernah dimiliki negeri ini. Kek, aku juga baru sadar kalau hari ini umurmu tepat delapan puluh tahun dari koran nasional yang mempunyai oplah terbesar di negeri ini.

Selamat mengulang tahun saja kakek Pramoedya Ananta Toer.

One Reply to “Delapan Puluh”

  1. Man…thanks visiting, btw bahasa yang lo pake..dalem…sumpah, dalem…sementara guah cuma bisa liatin dgn nanar…*in this case nanar = tanda tak mampu* but i am enjoying your posting,bro…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *