Fly Me To The Moon

: sepucuk surat untuk bulan.

Dear bulan,
aku di atas sekarang, di antara arakan awan, ya di sana, tepat di sebelahmu, kamu bisa merasakannya bukan? Di sana nyaman. Di sana adalah tempat dimana aku bisa melihat manusia-manusia, tembok beton, pepohonan, pegunungan, jurang, jembatan, pesawat, lapangan, sapi, jalan tol, biru, putih, hijau, salju dan lautan dari jauh, tanpa ketakutan. Tempat dimana aku bisa melihat senyummu dari dekat.

Aku akan menghilang setelah ini.

Bagaimana kabar hatimu malam ini? Setelah malam-malam dengan beratus mendung yang kerap menutupimu. Hhh, tidak jarang hujan itu merampas senyum dari wajahmu. Kamu tahu kan kalau aku selalu mencemaskannya? Dan semoga tuhan masih dan selalu mencintaimu, begitupun aku.

Aku akan selalu mencoba untuk ada, bulan. Menjadi senyum dan sahabat saat jatuh, takut, sepi maupun sedih, selagi aku belum menghilang. Karena aku tahu kamupun akan melakukan hal yang sama padaku. Oh ya, hari ini aku bertemu seorang manusia kuat, bulan, pada perjalanan diantara pogung dan kotabaru di pagi yang menusuk. Seorang nenek dengan tinggi yang rendah. Bungkuk. Kaki-kaki renta yang selalu tertatih. Seolah tak kuat lagi menahan semua beban dunia sendirian.

Membawa ranting dan dahan kering yang sudah dikumpulkannya bahkan sejak aku belum bangun untuk membasahi wajahku dengan air wudhu. Menuju ke utara, untuk menukar ranting dan dahan keringnya dengan beberapa rupiah. Untuk sebuah hidup.

Nenek itu bungkuk. Seolah tak kuat lagi menahan semua beban dunia sendirian. Tapi tidak. Aku sadar kalau aku salah saat aku melihat wajahnya; sebuah wajah gembira dan bersahabat. Nenek itu tersenyum. Menikmati setiap keringat yang jatuh. Dia memberiku senyuman, bulan.

“Jangan pernah kasihani nenek, anak muda” Pinta senyumnya. “Jangan pernah berpikir nenek akan menyerah, nenek tidak akan kalah oleh apapun.”

Dan dia memberi satu senyuman lagi padaku. Tulus. Menikmati lagi setiap detik berat yang menekan punggung reotnya, tiap luka kecil di kaki-kaki telanjang yang bertambah banyak kala beradu dengan kerasnya paving block, tiap gigil dari pagi yang menyelinap kedalam kulit-kulit keriputnya.

Nenek itu bungkuk. Seolah tak kuat lagi menahan semua beban dunia sendirian. Tapi sebenarnya tidak.

Nenek dengan tubuh yang hanya bisa dikalahkan oleh usia itu mengajariku arti tegar, arti senyuman, menjadi kuat diantara opini publik yang kerap membunuh, menikmati hidup seburuk apapun keadaannya, sesakit apapun terjerembab itu. Ah, dia menamparku dengan keras, bulan. Semua pencapaian dan terpurukku bukanlah sesuatu yang istimewa karena semua orang juga mempunyai cerita yang sama denganku.

“Manusia-manusia kuat” Kamu menyebutnya begitu.

Mereka yang dikelompokkan oleh manusia-manusia lain yang merasa dirinya lebih baik, menjadi kaum yang lemah, tersisih, tidak sempurna dan cacat. Tapi bukan begitu, sebenarnya merekalah manusia-manusia istimewa.

Aku di atas sekarang, bulan, di antara arakan awan, di sebelah kirimu. Terus memaknai hidup dengan caraku sendiri. Sesekali membaginya denganmu. Selagi aku belum menghilang. Semoga kamu tidak bosan.

Hei, mungkin beberapa saat lagi aku akan mulai mencoba melihat jauh kearah barat, bulan, kearah planet senja dengan orbit yang paling aneh di tata surya. Hahaha, aku akan mulai mencoba menggoda penduduknya agar mau melihat kearahku. Menebar jejaring. Juga pikat. Aku benar-benar tak sabar ingin membagi cahya -meski tak jarang berkelap-kelip tak karuan.

Aku di atas sekarang, bulan, di antara arakan awan. Bergabunglah denganku malam ini. Terjagalah sampai pagi. Sampai matahari datang menjemput. Selagi aku belum menghilang.

Ya, selagi aku belum menghilang.

bintang

4 Replies to “Fly Me To The Moon”

  1. Tkadang qta tjebak dg opini qta sndr,pdhl kenyataannya berbeda jauh.Bukan bgtu mas firman? ^^ btw,bgmn y rasany brada d samping bulan?Ga phobia ktinggian kan? ;D

  2. Titip salam buat nenek…
    pancaran sinar mata mu menusuk tepat ke jantung ku menampar ku keras agar aku lebih memahami arti hidup yang belum juga kudapatkan dengan sempurna hingga hari ini..

  3. Subhanallah, senyuman nenek tua itu, betapa mencerminkan bahwa dia menikmati hidup, meski harus menanggung beratnya beban hidup. Mungkin itulah cara nenek menikmati masa tuanya. Dia tetap menjadi manusia yang manfaat meski bungkuk dan tua. Buktinya, perkataannya jauh lebih mulia dan membangkitkan semangat hidup orang yang mendengarnya…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *