Damien Rice: Sebuah Cerita Panjang

Kamis, 5 Mei 2005

.. // so i look to my eskimo friend // when i down // down // down // … eskimo

hasan, danar, iir, firman, hasta, banjar

Aku bertanya pada iir; seorang sahabat lama yang baru saja mampir, setelah sekian lama meninggalkan yogya, dan ribuan kenangan lainnya, tentang sebuah lagu bagus yang baru kudengar dua hari yang lalu, lagu dari damien rice, the blower’s daughter.

Dia cuma tertawa dan balik bertanya, “bukankah tiga tahun yang lalu aku sudah menunjukkannya padamu, tentang sebuah album indie yang semua lagunya berisi rintihan, kemarahan, emosi, kenangan dan sakit hati dari seorang yang patah hati? Orang itu bernama Damien Rice”

Benarkah? Soalnya aku merasa baru mendengarnya dua hari yang lalu ketika seorang rapa memutar lagu the blower’s daughter di dalam winamp-nya.

Dia tersenyum dan bercerita sedikit tentang ingatannya yang jauh lebih kuat dariku. Lalu aku teringat dengan kotak cd berwarna putih yang pernah ditunjukkannya padaku, pemberian seorang sahabatnya, seorang doktor biologi lulusan cambridge berusia duapuluh-delapanan. Huh. Perlu tiga tahun bagiku untuk menyadari bahwa lagu itu memang bagus.

Selepas itu, dia membawakanku satu album damien rice dalam format mp3. Aku tersenyum. Mulai mendengarnya. Amie, Cannonball, Cheers Darling, Cold Water, Delicate, Eskimo, I Remember, Older Chests, Volcano lalu the Blower’s Daughter. Ah, pantas saja aku suka lagu-lagunya.

Selasa, 3 Mei 2005

Hari itu panas dan aku sedang melintas di bawah rindangnya pepohonan lapangan upacara sma-ku. Sungguh, aku tidak keberatan berulang-kali melakukan hal ini: berjalan melintasi arga bagya, kantin yang dipenuhi penghuni yang masih saja tak lupa bagaimana memanggil namaku, laboratorium biologi dengan tulang-tulang tengkorak manusia, kolam teratai, aula yang kelihatannya sudah penuh dengan lukisan para kepala sekolah, ruang kelas tiga, kelas dua, pohon-pohon tua dengan nama latin tertulis diatas lembaran seng, ruang guru tempat dulu para siswa melihat planet football dan final nba, ruang kepala sekolah, ruang tata usaha.

“Wah belum jadi mas” Kata bu agustin, staf tata usaha menjawab pertanyaanku tentang penggantian sttb smaku yang hilang. “Besok ya, soalnya tadi itu salah ketik”

Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Ah, itu berarti aku kembali melintasi rute menyenangkan ini, setidaknya sekali lagi, besok.emocation!

And so it is just like you said it would be // life goes easy on me // most of the time // … the blower’s daughter

Aku merinding begitu mendengar lagu ini diputar, di sebuah warnet disekitaran sagan. Lamat-lamat aku mendengar salah satu bait dari refrainnya; i can’t take my eyes off you… Aku jatuh cinta pada lagu ini! Aku lalu mencarinya di tiap folder baik publik maupun tidak, dengan tanda dolar maupun yang tampak. Ah, tidak berhasil. Aku minta tolong saja pada operatornya setelah ini.

Hmm rupanya permintaanku membuat kacau dunia per-kasir-an. Perempuan itu terpaksa menghidupkan ulang komputernya ketika mendadak berhenti merespon setelah dia memasukkan flashdisk milikku. Sedetik dua dia tetap memberiku senyuman. Menyarankan agar mengambil file dari komputer lain. Lalu dia memasukkannya dalam folder bagi-pakai bernama rapa.

Rapa? Hua! Perempuan itu bernama rapa!

Aku mengenal emocation, rapa, mita atau apapun nama pendeknya melalui jalur maya dari sahabatku semasa sma, ajeng, jadi beginilah aku memperkenalkan diriku didepannya:

“Hai, kamu rapa ya?” Sejenak dia bingung.
“Kenalin…” Sambil menyodorkan tangan kanan dan membuat senyuman.
“Firman” Dia masih bingung.
“Firman-nya ajeng”

Gubrak! Wah, ada yang jatuh, jauh disebelah sana, harusnya aku beli dulu royaltinya ke kamu jeng 🙂

Rabu, 4 Mei 2005

Hari itu panas dan aku sedang melintas di bawah rindangnya pepohonan lapangan upacara sma-ku. Aku melalui rute ini lagi. Menyapa penghuni kantin dan para guru yang masih mengenal dan kukenal. Menuju ruang tata usaha. Mencari bu agustin.

De ja vu. Aku pernah melakukan ini sebelumnya. Membuat cap tiga jari di atas foto hitam putih tiga kali empat dari klise yang sama dengan yang kupakai di ijasah smp. Seperti lulus sma lagi. Aku tersenyum. Seolah pekerjaan sudah selesai. Sebelum aku tahu apa yang akan terjadi tiga puluh menit lagi di bagian pendidikan menengah kantor departemen pendidikan dan kebudayaan.

“Wah format sttbnya salah nih mas” Kata salah seorang staf disana ketika aku menyodorkan sttb pengganti. “Ini lho yang bener” Sembari mengeluarkan sttb pengganti dari sma yang sama denganku.

Rasanya tepat seperti kembali ke kondisi awal pada diagram alir atau mendapat ular paling panjang pada permainan ular-tangga. Aku cuma tersenyum. Aku sudah sering mengalaminya.

Cold cold water surounds me now // and all i’ve got is your hair // lord can you hear me now? // lord can you hear me now? // lord can you hear me now? // or am i lost? // … cold water

Lalu ponselku bergetar, begitu saja. (Hei buat apa berniat mengganti ponsel bututku dengan ponsel polyphonic jika aku selalu memilih mode diam dan bergetar, bukan begitu?).

“Aku sama mbak mirsa sampai socitet jam sebelas kurang seperempat, jam sebelas ada presentasi edufrance” Kira-kira begitu bunyi pesan pendek virtri, sahabat yang mengajakku melihat pameran pendidikan eropa di gedung socitet militer.

Ah, bertemu denganmu biasanya menjadikan hariku lebih sederhana.

uni eropa dalam sehari

Tunggu sebentar. Kataku dalam hati ketika melintasi benteng vredeburg yang tidak bisa dibilang sepi. Harus kuakui aku bukan seorang pembaca pesan pendek yang baik. Benteng atau socitet ya?

Lagi-lagi. Aku bertindak dulu lalu berpikir kemudian. Hal ini kerap terjadi padaku. Aku bahkan sudah membayar parkir di benteng sebelum sempat memaksa otak untuk berpikir, memastikan dan memutuskan. Untungnya kali ini aku cukup cepat menyadari kalau aku berada di lingkungan yang salah. Jelas saja, spanduk di depanku berisi tulisan yang cukup besar: FESTIVAL KEBUDAYAAN SMU SE-DIY, itupun jika aku tak keliru mengejanya.

Wah, jarum panjang itu sudah hampir menyentuh angka empat ketika aku sampai di pelataran socitet. Hampir duapuluh menit lebihnya dari pukul sebelas. Tidak ada edufrance untukku. Setelah mengurungkan niat untuk mendobrak pintu ruang presentasi aku pun mengirim pesan pendek untukmu lalu mencari bagian yang berbau jerman di pameran itu. Iya jerman. Kamu tau kenapa kan selain alasan deutchland uber alles?

“Lagi ngapain mas?” Suara itu tidak mengagetkanku, hanya membuatku gelagapan mencari sumbernya.

Huu!! Aku kira kamu ada di dalam, vir, melihat edufrance bersama saudara perempuanmu. Menyebalkan! Iya kita, aku dan kamu menyebalkan, kita ternyata belum bisa memperkiraan waktu yang akan membuat kita terlihat tepat waktu!

Tapi melihatmu datang membuatku sedikit lega. Paling tidak aku tak harus menunggu satu jam sendirian mengitari eropa, menjawab markka untuk mendapatkan sebuah buku di stand finlandia atau wojtyla pada stand polandia, merayu-rayu mas dan mbak penjaga stand demi poster, majalah, totem, bendera atau bahkan kue danish yang memang menarik.

Adalah menyenangkan, seperti yang aku perkirakan, saat-saat bersama kalian. Setidaknya hariku tidak bertambah kompleks, ada senyuman yang meringankan langkahku.

… // you step a little closer each day and i can’t say what’s going on // stones, taught me to fly // love taught me to lie // life taught me to die // so it’s not hard to fall // when you flew like a cannonball // … cannonball

Sabtu, 7 Mei 2005

Biasanya sundak, tahun lalu sundak, sebelumnya juga sundak. Tapi kali ini tidak. Mencoba pantai baru, pantai siung, sepuluh menit di timur pantai sundak. Bagus, kata salah seorang teman yang menyarankan. Kenapa tidak?

Pantai dengan medan gunung, aku menyebutnya, sesampainya di sana, setelah melewati rute jalan naik turun yang baru saja di aspal dan sedikit mendaki ketika menuju tanah lapang di balik karang di atas bukit. Itu sudah cukup untuk membuatku kehabisan nafas.

gunung atau pantai?
kami

tempat persembunyian bintang-bintang

.. // so i just feel my sorrow with the world you borrow // from the only place you’ve know // and why just say halleluya // if it’s means nothing to you // why just stay with me at all // we may live like never before // it’s nothing to give how can we ask for more // … delicate

Ini bukan bumi, teriakku dalam hati. Ini adalah tempat persembunyian bintang-bintang. Suara ombak yang meledak ketika menabrak karang bercampur dengan senda gurau teman-teman, angin laut yang masih saja bersahabat mengirimkan berjuta kerinduan, bau pasir putih, tebing karang yang seolah melindungi dari apapun, langit biru tua bersih dengan lautan bintang.

Aku merebahkan diri di atas rumput. Melihat ke atas. Mencari gubug penceng, biduk besar, leo, casiopeia bahkan orion. Aku tidak juga menemukan satu diantara maha kerumunan bintang. Tapi aku tahu mereka masih disana. Di tempatnya. Seperti saat aku mencoba mencari bulan.

I remember it well the first time that i saw // your head out the door // my mind stop walking // i remember it well there is wet in your hair // i was stood in the stair and time is stop moving // … i remember

Aku benar-benar ingin membagi langit malam itu dengan bulan. Mengirimkan potongan pantai yang cantik pada air. Setidaknya lewat karakter alfabet, tapi sayang belum ada sinyal dari operator manapun yang bisa menembus tebing setinggi tigapuluh meter yang mengelilingi.

Melihat bintang seperti melihat masa lalu, seorang teman mengatakannya padaku, tentang bintang-bintang yang bisa jadi telah mati jauh sebelum saat ini tapi cahyanya baru sampai sekarang.

Masa lalu menepilah sejenak. Aku melihat bintang karena ingin melihat saat ini. Aku ingin menikmati saat ini. Saat-saat terbaik dalam hidupku.

Lihat, ada bintang jatuh. Bergerak melintasi bintang-bintang yang diam. Ah, ada yang tetap sama tapi tak sedikit yang berubah. Seperti kita, aku dan kamu. Beberapa orang datang menyentuh hidupku. Masuk. Menjadi bagian. Beberapa pergi begitu saja. Setelah lama pun sebentar. Tapi tak jarang ada yang tetap tinggal. Memberi pengaruh. Membuat tempat. Di suatu sudut di hati.

Lihat, ada bintang jatuh, lagi. Dan aku tidak membuat satu permintaan pun.

.. // nothing unusual nothings change just a little older that’s all // u know when you found it there’s something i learn // when you feel it when it taken away // something unusual something strange come from nothing at all // i am not an miracle and you’re not a saint // … amie

pagi di pantai siung

8 Replies to “Damien Rice: Sebuah Cerita Panjang”

  1. As ussual, i cant say more
    ….
    ….
    but, guah juga pgn menikmati saat2 terbaik hidup guah
    dan guah rasa, everybody will do the same,right?

  2. I like very much all songs of damien rice..
    saya tau lagu damien dari teman di Hongkong.
    saya bekerja di satu kantor yang mempunyai outlet. pada bulan november awal,
    seseorang datang berbelanja di outlet tempat saya bekerja.
    dia berasal dari Hongkong. saat itu kami sempat berkenalan, dan beberapa hari detelah perkenalan kami,
    dia memberikan cd lagu damien rice yang saya belum tahu sama sekali.
    sungguh menyentuh..sungguh menggugah hati dengan lyrics nya..
    he is my favourite damien!!!
    dan terakhir.. co hongkong itu berjanji akan datang di bulan january 2007.
    i am waiting for u ‘J’

  3. kulonuwun. wah.. gaya penuturannya keren,.. membuat orang tertarik untuk membaca selanjutnya dan selanjutnya. hanya saja ada beberapa penggal kata yang untuk orang kuper seperti saya,, agak2 nggak “mudheng”. hehe. btw, saya masuk di sini karena cari2 makna lagu amie nya damien rice… ended up,saya tertarik dengan pantai siung. dimana ya? trus.. bagaimana menuju ke sana. terima kasih. salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *