Happy Belated Birthday

Dulu, waktu saya masih kecil peristiwa mengulang-tahun adalah hal yang paling dinanti. Kado, ucapan selamat, kartu berwarna-warni, peluk cium, senyuman, doa dan harapan. Menyenangkan sekali. Meskipun tidak pernah dirayakan secara besar-besaran dan selalu tanpa roti tart, saya menyukai saat dimana saya membuka mata dipagi hari dan melihat angka duapuluh-enam juli di kalender saya.

Sekarangpun saya masih menyukai saat-saat itu; minggu lalu, ketika menunggu jarum jam melewati angka dua-belas, dari post meridiem berganti ante meridiem, dari duapuluh-lima juli menjadi duapuluh-enam, ketika inbox menjadi penuh, ketika semua senyum, tabik dan kerling mata semua orang adalah doa yang tulus, ketika kembali disadarkan bahwa mengulang tahun tidak selalu berarti menjalani tahun yang sama, tapi tentang mengulang untuk berani bersinggungan dengan hidup, untuk membuat lebih banyak senyum, untuk mewarnai hari lebih sering, untuk menyentuh lebih banyak kehidupan, untuk kembali belajar memaknai apapun.Hari yang sempurna untuk membaca ulang hidup; tentang kebodohan selama setahun, tentang sakit, tentang sifat-sifat buruk yang tampaknya sudah menjadi karakter, tentang senyum, tentang karunia, tentang semuanya.

Saya sudah duapuluh-empat. Ada janji dihati pada tiap peristiwa mengulang-tahun; beberapa janji itu selalu sama, klise; saya benar-benar ingin lebih bisa menikmati saat-saat ini. Saya akan melakukan semua hal dengan sebaik-baiknya. Dengan senyuman. Wujud dari rasa syukur. Bukan karena menang lotere ataupun dampak bergaul dengan teman-teman yang sebagian besar terjangkit penyakit narsisme akut. Jika saya menulis, saya akan menulis dengan sebaik-baiknya. Begitu juga dengan membaca, coding, berbicara, mencintai, berdoa, menyapa, tersenyum, tertawa, bernafas dan menangis.

Sebenarnya saya tidak perlu menunggu duapuluh-enam juli untuk membuat janji seperti ini. Ah, saya memang suka mengulur-ulur waktu. Mencari-cari waktu yang tepat. Menunggu. Padahal saya tahu saya yang saya punya hanya saat ini, bukan masa lalu pun hari depan.

“Sudah siap mati fir?” Seorang sahabat pernah bertanya pada saya ketika mobil yang kami tumpangi hampir saja terserempet truk gandeng saat kami akan keluar dari tempat parkir.
“Yup. Berani hidup harusnya juga berani mati, kan?” Lalu saya cengar-cengir. Deg-degan.

Jatah umur manusia tidak pernah sama. Ada yang berumur panjang tapi beberapa manusia mati muda. Tidak ada yang perlu ditangisi pun disesali. Dia benar-benar tahu mana takaran yang sempurna. Sebut saja saya ingin membeli rumah tahun depan. Lalu ada rencana. Ada kerja keras berbulan-bulan. Ada upah. Ada uang yang banyak. Tapi tiba-tiba: dor!! Saya mati ditabrak waktu pulang menabung dari bank. Cukup. Jatah hidup saya didunia sampai situ. Tidak ada tahun depan bagi saya. Saya jelas tidak akan menulis disini lagi. Duapuluh-enam juli tahun depan tidak ada laki-laki hitam kurus yang berumur duapuluh-lima. Dan saya percaya duapuluh-empat sudah cukup, tidak terlalu muda maupun terlalu tua.

Tapi itu kan tidak membuat saya lantas tidak punya impian.

Beberapa manusia berkata; hidup saya membosankan, itu-itu saja, tidak ada yang istimewa, biasa saja, tidak beda dengan Anda. Tapi saya sudah duapuluh-empat dan hidup saya luar biasa. Sungguh saya belum pernah membangun gedung beratus tingkat, belum pernah merancang jembatan berpuluh mil, belum pernah menciptakan sistem operasi, belum pernah kuliah di MIT, belum pernah mengunjungi gedung putih, belum pernah menang kontes kecantikan, belum pernah merakit bom. Saya dikelilingi hal-hal kecil. Rutinitas. Wajah yang sama. Kata-kata yang sama. Matahari yang sama. Bulan yang sama. Bintang yang sama. Kelihatannya membosankan tapi tidak, hal-hal kecil itulah yang membuat hidup saya istimewa. Ada idealisme, impian dan Tuhan. Tanpanya rutinitas saya menjadi membosankan dan sangat melelahkan. Saya tidak sedang melakukan hal-hal yang menjemukan setiap hari; bangun, segar, bekerja, makan, capek, tidur. Saya sedang menuntaskan hidup. Mencoba memberi arti pada tiap langkah didalamnya.

Iya, saya sedang mencoba untuk menuntaskan hidup dengan memberikan yang terbaik pada tiap detik hidup yang luar biasa yang telah diberikan-Nya, sehingga pada akhirnya saya juga bisa berkata tanpa sesal dan ketakutan: Sudah selesai. Karena tidak ada yang tertinggal. Karena semua urusan sudah rampung.

Saya kok jadi banyak ngomong ya? Apa memang pada umur duapuluh-empat seorang laki-laki mendadak menjadi cerewet?

Ah, just happy belated birthday, Firman Maulana.

10 Replies to “Happy Belated Birthday”

  1. met milad deh πŸ˜›

    makin tuwa lohhh ….. ayo cepet cari jodohj deh biar gak di kira jejaka tuwa πŸ˜›

    semoga dalam umur yg tersisa , bisa berguna untuk agama , bangsa , dan negara . serta berbakti kepada kedua orang tua.

    amien

  2. selamat menikmati hidup firman,
    usah kau hiraukan waktu
    ruang dan waktu hanya menipu

    salam kenal dr pembaca puisi2mu

  3. Happy belated Birthday ya. i think im in love with your writing. πŸ˜€ They are beautiful. this really is a very intersting blog. boleh saya link?

  4. ya
    boleh sih critanya.Tp kok gw ngerasa hudup gw tu amat ngebosenin.Gmn nggak?selama ini gw tu selalu jd yg terakhir d keluarga gw.Nggak pernah diharapkan,trus selalu jd beban.
    Gmn nih?Tolong ksh gw saran dong,email gw:[email protected]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *