Senja Tak Pernah Mampir di Sini

Mencoba sesuatu yang baru selalu membawa sedikit ragu. Begitu juga dalam perjalanan menuju timur; tidak seperti biasanya, aku mencoba untuk tidak memilih melewati jalan antar kota dan antar propinsi itu, salah satu pondok pesantren putri ternama itu, gapura batas propinsi yang angkuh itu dan hutan jati itu. Ragu. Apalagi ketika mendapati petunjuk berisi informasi bahwa jalan yang aku pilih sedang ditutup. Hmmm, jalan terus atau berbalik ya?

Jalan mulai menanjak beberapa saat setelah meneguhkan hati untuk tetap mencoba jalan alternatif itu. Brr dingin. Mesin kendaraan sudah mulai meronta ketika dipaksa mendaki tanjakan yang terlihat tidak manusiawi itu. Duh, sesaat ada umpatan dalam hati; gila siapa yang kuat kalo jalannya kayak gini! Hahaha manusia gondrong dengan sepeda gunung dan semangatnya yang kutemui dibeberapa tikungan sesudahnya membuatku menertawakan diri sendiri yang kerap mengeluh dan mengumpat.Kamu tahu; telingaku sepertinya tidak begitu kuat menghadapi tekanan udara di daerah tinggi. Sesaat kualitas pendengaranku menurun. Ada doa dalam hati agar ketulian ini tidaklah permanen. Syukurlah mata ini masih bisa melihat dengan jelas bagaimana gunung bisa membuat pukau padaku yang selalu memuja indah pantai dan laut. Jalan sepi yang menanjak, semakin tinggi, semakin dingin, bau basah, puluhan tikungan seratus delapan puluh derajat, hijau dedaunan, sejuknya angin, kabut seputih susu selimuti hutan seribu cemara, damai.

Tanjakan pun ada batasnya, pada setiap puncak hanya ada satu pilihan; turun. Alam sungguh adil. Jika tanjakan tadi memaksa mesin bekerja keras maka turunan ini benar-benar menghabiskan kampas rem! Ah, ternyata lewat jalan inipun aku tetap menemui arogansi sebuah batas wilayah yang dibuat manusia. Mereka sepertinya senang membuat batas-batas, mengkotak-kotakkan apapun, bahkan alam.

Aku sampai. Sore, seharusnya ada matahari senja yang hangatkan kota ini. Tapi tidak. Sesaat dua setelah berusaha cukup keras mematikan mesin kendaraanku aku melihat senyummu. Pengobat rindu. Kamu masih saja menawarkan hangat dalam rapat hawa dingin itu. Boleh aku menyimpannya?

Ah, aku masih belum mengerti apa yang membuatmu mengiyakanku. Sebuah pilihan yang, kamu tahu, tidak mudah. Sangat tidak mudah. Kota yang dingin. Kamu masih saja hangatkanku meski aku tak pernah bisa janjikan selamanya. Sore, seharusnya ada matahari senja di kota yang dingin ini. Tapi tidak. Dan kamu masih saja hangatkanku; matahari senjaku. Tidak seperti pada kota ini, kota dimana senja tak pernah mampir. Tertutup oleh punggung Lawu yang dingin.

4 Replies to “Senja Tak Pernah Mampir di Sini”

  1. wah kalou tertutup gunug lawu bisa – bisa senja nya gak ada , yg ada mah malam terus πŸ˜›

    BTW di balik gunung lawu .. solo atau magetan nih ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *