Dari Tempat Paling Sunyi di Dunia

“Kamu yakin?” Tanyaku padamu, “Apa kamu benar-benar ingin kesana?”
“Tentu saja.” Jawabmu mantap, tak ada setitik ragu kutemui dalam matamu.
“Meskipun kita hanya berdua?” Tanyaku lagi, ingin menegaskan bahwa perjalanan ini jauh; teman-teman yang biasanya mengiringi pun tak ada. Ingin menegaskan jika hatimu akan segera mendekati perih; sahabat-sahabat yang biasanya menemani pun tak ada.
“Ya!”

Lalu kami berangkat. Sabtu. Siang mendekati sore. Hari bintang. Jalan sepi. Menuju kearah Barat. Berkejaran dengan senja. Berdua saja. Melalui Ringroad Utara, Monumen Yogya Kembali, tikungan yang sepi, Gamping, Wangsa Manggala, kali Progo, patung Nyi Ageng Serang, Wates.

“Hey, mana jalan tercepat menuju Barat?” Kamu bertanya seolah kita tidak mungkin bisa berbalik memutar jika persimpangan itu terlewat barang semeter dua.
“Ya, bersiap belok ke kiri, setelah pompa bensin di depan.” Jawabku.Aku melewati jalan ini lagi. Jalan lurus seratusan kilometer. Membosankan jika melakukannya sendirian. (Ya, untuk apapun itu; akan sangat membosankan jika melakukannya sendirian). Sebenarnya jalan ini tidak begitu buruk. Dalam beberapa saat saja akan ada sawah luas disamping kiri-kanan, bau laut selatan, angin pantai yang keras, beberapa jembatan yang membuat kami berkali-kali berhenti hanya untuk melihat laut yang leburkan sungai-sungai.

Ambal, Kebumen. Aku segera mengenali daerah itu setelah kami melintasi beberapa warung sate ayam yang memang menjadi ciri khas tempat tersebut.
“Mau mencoba?” Tawarku padamu yang terlihat letih setelah menyetir.
Lalu dua porsi sate ayam dan empat piring karbohidrat menjadikan kami terkantuk-kantuk setelahnya. Akupun menunggu rokokmu habis dengan berbasa-basi. Sebatang. Kamu sedang menghidupi negara ini, membuat beratus-ribu pekerja pabrik, petani cengkeh dan tembakau tidak menganggur, sekaligus membunuhmu pelan-pelan. Ya, ya, aku hirup asapmu. Sekarang kamu punya andil enampuluh persen nikotin rokokmu dalam paru-paruku.

Kami berjalan lagi. Sepuluh, duapuluh, limapuluh kilometer. Jalan mulai tidak bersahabat bagi manusia kurus tanpa lemak pada bagian pantat. Auch, aku masih sering bertanya bagaimana cara efektif menebalkan bagian yang satu itu. Tampaknya masih menjadi rahasia, seperti resep obat dan jampi-jampi bagi para dukun atau shaman. Pertigaan. Kami belok kiri, menuju pantai Karang Bolong.

Kami berhenti. Di seberang Karang Bolong. Muara sungai di bawah hijaunya bukit-bukit yang mengitari. Sejenak duduk di tepi kali melihat ombak laut, arus sungai, usaha air tawar yang berusaha untuk tidak menjadi asin dan sambil becerita tentang ketakutan akan air, air yang dalam, tapi tidak untuk laut. Kami berdua menyukai laut tapi menjauhi sungai. Apalagi yang lebar, tenang, dalam dan keruh. Kami bercinta dengan Sundak dan menjadikan Serayu musuh kami.

Bukit itu sedikit berbeda dengan rute Tawangmangu-Lawu-Sarangan meskipun ada beberapa tikungan seratus delapanpuluh derajat dan tanjakan yang tidak masuk akal. Sedikit dingin dengan bau asin. Tidak ada kabut. Jalan yang sempit. Sungai-sungai kecil pada lembah dan sawah layaknya air bagi jiwa yang haus; hatimu yang sedang mendekati sunyi, pada jalan penghubung antara pantai Karang Bolong dan pantai Ayah.

Kami berhenti. Lagi. Pada bukit dimana kami bisa melihat senja diatas laut selatan yang tenang. Matahari sedang menyentuh air berombak kecil itu. Pantai Ayah seperti bersolek dengan warna jingga, warna senja, warna sedih.

….

Batik biru lengan pendek. Hmm, aku suka baju ini. Meskipun bukan satu-satunya baju batik yang kumiliki aku selalu mengenakannya setiap pergi jagong. Begitu juga pagi itu. Ketika kamu mendadak berkata jika kamu merasa sangat kosong. Ya, aku juga bisa merasakan itu dari nanar matamu.

Ini pilihanmu, sahabatku. Kamu bisa memilih untuk tidak datang. Tidak menghadiri pernikahannya. Tak apa. Bukan berarti kamu pengecut. Tidak berarti kamu tidak menyayanginya (aku tahu kamu masih dan mungkin selalu). Tidak perlu ego itu temanku, sungguh.

Tapi kamu datang.

Benar, kamu punya nyali. Punya keberanian untuk mencabik-cabik hatimu sendiri. Demi senyuman di bibirnya ketika kedipan matanya menangkap sosokmu. Tak ada imbalan yang lebih berharga untuk perih itu selain senyum tulusnya untukmu.

Sudahlah. Jangan cengeng. Hiduplah dengan semua kenyataan itu. Karena itu adalah satu-satunya cara agar kamu tidak terlindas oleh waktu dan kenangan.

Sekejap lalu datang kosong itu. Kosong yang kamu ceritakan padaku. Dan jeritan tanpa suara dari tempat paling sunyi di dunia; hatimu.

Ayo kita pulang saja.

Kembali ke kota paling ramah di dunia.

9 Replies to “Dari Tempat Paling Sunyi di Dunia”

  1. seumur hidup baru 2 kali ke YGY .

    1. waktu study tour 🙂
    2. waktu test run kereta , uji coba kereta baru ke stasiun tugu , kereta K1 eksekutif jenis Argo.

    dah gak pernah lagi, mungkin sekali kali perlu ke sana lagi 🙂

  2. aku pernah di posisimu juga fir… the exactly same experience… ck ck ck ck….
    gosh, it’s painful too to see him like that

  3. adalah tempat yang selalu membuat aku mengingat tujuan awalku meninggalkanya…….
    mengingatkan ada hati yang menungguku di sana….
    ada sepasang mata yang pasti sangat ingin melihatku berdiri di depannya…
    ada jemari halus yang selalu aku rindu belaiannya….
    ah….tidak ada yang bisa di ungkapkan saat mengingatnya…

    membuat aku selalu ingin kembali ke sana…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *