Hujan di Akhir November

Akhir November. Dingin. Hujan yang turun basahi bumi.

Ketika setiap orang melihat hal yang sama setiap hari, melakukan hal yang sama, menikmati hal yang sama, menyapa nama-nama yang sama. Disudut frekuensi hidup yang lain seorang sahabat diberi kesempatan untuk hidup dan bersyukur lebih lama pada saat as truk melindas kepalanya dan di sudut lain seorang sahabat tiba-tiba membawa sepi yang dibungkus rapi oleh kertas berlabel perih.

Ah, kita yang mulai datang dan menantang hidup, sahabat. Kita yang merasakan hal yang sama pada tiap senyum dan sakit. Menapaki sebuah jalan yang panjang dimana kita hanya bisa menoleh kebelakang tanpa bisa kembali, dimana jejak-jejak kaki kita telah membuat semua menjadi berbeda, dimana kita tak akan kembali menjadi kita yang kemarin, dimana semua titik adalah tempat yang berbeda.

Lalu ada; saat-saat yang memaksa kita untuk berhenti sejenak untuk memaknai apa-apa yang kita lakukan. Kadang hanya untuk menyadarkan kembali bahwa hidup ini sedemikian berharga atau untuk mengingatkan bahwa selalu ada cahaya bernama harapan, bahwa kita tidak pernah berjalan sendiri, bahwa selalu ada sahabat di langit kita yang biru atau untuk kembali percaya bahwa kita sebenarnya masih ada dalam radius pendengaranNya.

Dan akhir November ini turun hujan; larutkan kisah-kisah hidup pada dinginnya.

5 Replies to “Hujan di Akhir November”

  1. hujan …. ketika rintikannya jatuh di atas genteng terdengar begitu indah, itulah nyanyian alam dengan sang komposer yang Agung.

    rintik2 hujan terdengar seperti dzikir yang selalu menyebut namanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *