Menikmati Sakit

Sudah seminggu sejak gejala awal yang biasa kusebut menurunnya daya tahan tubuh karena perubahan iklim. Ouch, ternyata tak semudah itu mengenyahkannya, tidak cukup dengan kerokan, minum susu beruang, banyak tidur serta empat butir Decolgen. Udara yogya juga sedang tidak bersahabat. Aku masih sering menekuk muka jika hujan datang, dingin. Tidak seperti seorang sahabat yang begitu menyukai hujan.

Akhirnya aku menyerah. Tak kuat dengan batuk yang menyerang tenggorokan dengan membabi-buta. Setelah lima hari, aku baru menggunakan kartu berobat di sebuah rumah sakit katolik di kota yang ramah ini. Sambil membaca surat kabar harian yang memuat opini menarik dari Abdul Munir aku menunggu antrian panjang pesakitan dokter spesialis umum. Nomor duapuluh empat.

“Jangan merokok, minum es, makan pedas dan tidur kelewat malam.” Dokter yang ramah itu memberiku jampi-jampi lekas sembuh.

Hmm. Aku memang tidak merokok, jarang minum es dan lidah dan perutku menolak cabai. Kenapa batuk dan pilek itu tak kunjung menjauh ya?

Uhuk-uhuk, lalu beberapa butir Zegase, Dexymox, Tuzalos dan satu obat batuk berbungkus kuning yang aku lupa namanya menjadi pengisi backpack-ku menemani dua ballpoint, charger, beberapa novel dan komik, bluetooth, flashdisk dan sikat gigi.

Uhuk-uhuk, saatnya memanjakan diri dan istirahat.

2 Replies to “Menikmati Sakit”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *