Pada Suatu Hari Matahari

Pada suatu hari matahari. Pada hamparan tanah sawah dan semilir angin. Akhirnya kami bertemu lagi; aku dengan hijau alang-alang yang kian meninggi, gadis ayu yang masih malu-malu, dan kamu, sahabatku. Kau dengar senyuman-senyuman itu? Ini bukan kali pertama kita diingatkan kembali tentang ketulusan, harapan dari pribadi-pribadi yang telah kita sentuh; meski hanya lewat lambaian tangan, meski hanya lewat sekali sapa.

Kita yang pernah sekedar singgah, lalu menetap selamanya disuatu tempat di hati mereka.

Hujan yang tak kunjung datang pupuskan asa para petani; manusia-manusia yang menyerahkan hidupnya pada kemurahan alam. Ah, aku yakin kamu menyadarinya, hujan itu sebenarnya telah mampir. Bukan hanya sekali. Disuatu tempat. Pada nyanyian hidup dan sembab mata ketika hidup tidak lagi bejalan dengan mudah. Perempuan-perempuan yang kehilangan. Perempuan-perempuan yang mencoba untuk tetap tegar. Perempuan-perempuan yang menangis.

Kita yang pernah sekedar singgah, lalu menetap selamanya disuatu tempat di hati mereka.

Lalu kamu muncul. Di awan tinggi. Di sebelah timur. Beradu pandang dengan matahari. Ketika sinarnya ramah; satu-satunya saat dimana kalian bisa melepas rindu. Pada suatu hari matahari.

3 Replies to “Pada Suatu Hari Matahari”

  1. aku menunggumu, di tempat di mana kita sekedar singgah ; lalu sebentar bermain2 cinta di suatu tempat di ‘persentuhan’ permainan2.

    kesusu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *