Orang-orang Asing

Kota ini masih hujan. Dan aku masih keras kepala. Entah sudah berapa kali aku menerobos hujan yang lebat dalam beberapa hari terakhir.

“Acara kita dari jam dua sampai jam sembilan ya.” Begitu pesan singkatmu ditengah hari yang hujan. Lalu kami berangkat, ke arah selatan jauh, pukul tiga sore.

Beberapa nama baru telah mengisi buku teleponku dalam tiga bulan terakhir. Ah, aku pikir aku sudah terlalu tua untuk menyinggahi sudut-sudut hati. Aku pikir ini hanya akan menjadi seperti nama-nama yang sekedar memenuhi memori ponsel ataupun memperpanjang deretan pada daftar kontak surat elektronik. Tapi tidak.Tiga bulan yang lalu. Aku, yang pada awalnya hanya mencari lalu ingin tahu, mengerti, memahami dan merasakan, selalu bertanya padanya. Pemikiran dan pertanyaanku yang logis dan subyektif itu tak pernah dijawabnya. Dia selalu membuatku berpikir, melakukan otokritik, menjadikan sedikit lebih obyektif, mengeluarkanku dari kotak dan aku menemukan jawaban itu tepat didepan mataku. Menyenangkan sekali bisa mengenalnya dalam perjalanan hidupku, dalam pencarian terbesarku.

Lalu beberapa datang menghampiri. Menawarkan senyum. Aku memilih untuk diam dan membalas dengan senyum seadanya. Aku pikir aku sudah terlalu tua untuk menyinggahi sudut-sudut hati. Ternyata aku salah. Mereka jelas lebih dari itu.

Depok. Sore. Masih hujan. Dan di pantai laut selatan itu aku mendapati semburat senja pada kakilangit. Senja yang keras kepala. Sama seperti aku. Dia masih saja menawarkan indahnya warna jingga itu disela rintik hujan dan hari yang mulai gelap. Ya, langit mulai gelap tapi senja yang cantik itu tetap keras kepala, ia baru pergi saat bintang mulai muncul. Kenapa senja tidak pemalu seperti fajar ya?

Bau ikan bakar dan saus asam pedas yang menyiram punggung cumi-cumi. Panasnya kopi instan tanpa ampas. Lalu ritual berdoa sebelum makan. Duh, rasanya aku selalu kurang bersyukur ketika doa itu kuucapkan. Hanya Kamu yang tahu apa yang terbaik untukku. Untuk hal-hal seperti itulah aku harus bersyukur.

Tawa. Pembicaraan yang tak pernah habis. Layaknya teman lama yang sudah lama tak bertemu. Benar-benar seperti teman lama. Sembari melahap makanan yang tersedia. Membayangkan sebentar lagi natal dan tahun baru, rasanya seperti baru kemarin, semua peristiwa itu. Tak percaya saja jika tahun ini sudah akan berakhir.

Baru pukul delapan. Tapi kelihatannya kami sudah tidak diinginkan oleh pantai yang gelap itu. Nyamuk-nyamuk yang menjadi kalap. Menjadikan kami sasaran tembak. Auch. Celana basah dan belum mandi; kami adalah sarang nyamuk yang sempurna!

Lalu kami pulang. Aku dan teman-teman baruku.

Ini bukan tentang makan cakalang, semburat senja, pantai yang gerimis ataupun sekedar digigit nyamuk. Ini adalah tentang cerita-cerita yang bertemu di sudut. Tentang mulai percaya lalu berbagi dan membuat kisah-kisah hidup ketika bersentuhan dengan hati manusia. Tentang bagaimana sebenarnya orang-orang asing itu adalah teman-teman yang belum kita kenal.

Ya, mereka, yang tiga bulan lalu adalah orang-orang asing, sekarang menjadi teman-temanku. Aku pikir aku sudah terlalu tua untuk menyinggahi sudut-sudut hati.

2 Replies to “Orang-orang Asing”

  1. Orang-orang datang dan pergi. Seperti senja maupun fajar. Berganti-ganti. Namun di ingatan kita akan ada banyak wajah, banyak nama, yang mungkin kita akan ingat selamanya, maupun terbang di tengah jalan.

    Kita nggak pernah terlalu muda atau terlalu tua untuk hal itu 🙂

    Semua berjalan seperti adanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *