Saat Satriani Tak Mampu

“Mozart? Saya tahu kok. Dream Theater? Punya albumnya dong. Backstreet Boys, Green Day, Damien Rice, Oasis, Kelly Clarkson? Name it, I love it! Apalagi Stasiun Balapan. Semua ada di playlist iPod Nano saya!” Begitu kata seorang sahabat.

Teknologi tanpa batas membuat musik menjadi sesuatu yang jamak. Bit-bit yang menyimpan alunan nada; dari klasik sampai pop, dari jaman batu hingga generasi MTV. Begitu juga otak yang dijejali bebunyian dari saat mengawali hari sampai terlelap lagi. Saya yang jadi serba tahu, tapi bukan berarti telah memahaminya, sadar maupun tidak, perlahan saya mulai kehilangan esensi musik itu sendiri.

Memang sudah sepantasnya musik lebih dihargai, bukan sekedar sebagai pelengkap yang didengarkan ketika mengerjakan rutinitas sehari-hari. Mungkin dengan begitu saya jadi lebih mengerti dan memahaminya.Seperti pada malam itu; ketika HIMA Jurusan Musik ISI Yogyakarta mengadakan Guitar Night 2005 – Pesta Gitar. Ah, malam itu hujan. Hujan yang tak sekedar rintik-rintik. Langit yang seperti mengamuk. Saya memang sedang tidak waras ketika menerobos gelapnya malam dengan dingin itu. Saya kehausan diantara basah pada hari bintang. Setelah melewatkan dua Repertoar Hujannya Garasi, Festival Film Dokumenter dan Jiffest serta kesempatan untuk kembali menjadi backpack traveller, mungkin ini bisa jadi semacam pengisi pundi-pundi jiwa.

Entah sejak kapan saya diam. Tidak lagi menggigil, meskipun ujung celana saya basah dan ruangan itu ber-AC. Tidak lagi menguap karena lapar, mengantuk dan kecapekan. Lalu repertoar demi repertoar yang dibawakan lewat ensembel, solo, duet, trio, kuartet dengan gitar akustik sesekali diiringi violin, viola, cello ataupun seorang sopran (duh), menggiring saya sampai pada batas dimana alat musik enam senar itu seolah menginginkan saya untuk mencermatinya lewat bunyi dan harmonisasi indah nan jujur. Sebuah komposisi bebunyian tanpa distorsi.

Permainan Rahmat Raharjo dan Andre Indrawan pada repertoar L’Encouragement Fantasie pour Deux Guitares op. 34-nya Fernando Sor benar-benar seperti dua kekasih yang saling melengkapi, memberi dan menerima, mengerti satu sama lain dan memaklumi kesalahan dengan senyum.

Pagelaran itu hampir selesai ketika malam mulai meninggi dan hujan diluar semakin deras. Gitar-gitar akustik itu akan diganti dengan gitar-gitar listrik pada tiga penampil terakhir. Saat itu saya masih antusias. Apa bedanya nomor klasik dengan pop? Atau, mau akustik atau listrik, gitar kan tetap memiliki pesonanya terendiri?

Lalu seorang Pradipta Bagaskara menghentak lewat Vengeance, sebuah komposisi gitar dari Yngwie Malmsteen. Harus diakui dia punya gaya. Kemampuan dan kecepatannya memainkan gitar sanggup membuat saya bertepuk tangan salut. Crushing Day-nya Joe Satriani menjadi nomor yang dimainkan berikutnya. Masih. Masih tetap hebat. Gitaris tigabelas tahun itu bakatnya diatas rata-rata.

Dia memainkan tiga komposisi gitar listrik solo. Beberapa gelar dan rekor MURI yang disandangnya sama sekali bukan bualan. Tapi sebenarnya saya mulai bosan pada pertengahan Vengeance. Saya bisa menikmati komposisi gitar klasik selama hampir tiga setengah jam dan menjadi bosan dalam satu setengah menit pada komposisi gitar listrik. Ironis. Saat itu saya sadar; Joe Satriani-pun belum mampu mengalahkan Fernando Sor.

4 Replies to “Saat Satriani Tak Mampu”

  1. seperti halnya ‘hidup’.orang sudah biasa dg itu, otak pun terjejali bahwa hidup ya bernapas,bergerak, makan minum,beramal dll.tidak sadar bahwa itu adlh ‘kehidupan’,yg bergerak horizontal & akan ada akhirnya. “Saya yang jadi serba tahu, tapi bukan berarti telah memahaminya, sadar maupun tidak, perlahan saya mulai kehilangan esensi musik itu sendiri.” ya…seperti halnya musik tadi,org jg mulai kehilangan esensi hidup. dan seyogyanya pemahaman kita bahwa hidup = kehidupan, mulai kita geser bahwa hidup adalah hidup itu sendiri..tan keno pati…bukan begitu fir?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *