Balkon

Aku tidak suka berada di tempat yang tinggi; berada di pinggir jendela pada gedung empat lantai, di puncak tangga bambu tiga meteran atau tepian lantai atas pasar-pasar super dan hiper. Rasanya seperti ingin melompat saja ketika melihat arah bawah, selain kupu-kupu yang terbang kesana-kemari dalam perutku dan perasaan-perasaan menyebalkan lainnya. Mungkin saja phobia. Phobia yang menyebabkan aku mengurungkankan niat untuk naik kepuncak monas saat melihat tanah dari pinggir mangkuknya. Begitu juga dengan pohon jambu. Takut jatuh? Ah, padahal aku sudah sering jatuh.

Tempat yang tinggi belum tentu menarik bagi semua orang. Satu-satunya ketinggian yang tidak membuatku membayangkan macam-macam dengan proyeksi sadis, mungkin hanya gunung. Ya, gunung. Aku tidak membayangkan gunung dengan imajinasi tentang tersesat, bertemu harimau, jatuh ke jurang maupun hypothermia. Gunung adalah wajah-wajah asing yang selalu bersahabat, puncak dan fajar. Itu saja.

“Hah, kos kamu ada balkonnya ya?”
“Iya, tiap kamar yang diatas ada balkonnya lho”
“Wah” Aku melongok ke arah balkon, ke arah luar. Agak gelap karena memang sudah malam. Balkon yang bagus.

Ruangan itu juga memiliki balkon seperti kamar kos seorang sahabat. Aku berdiri di tepian. Melihat ke arah bawah, tanah dan jalan aspal di suatu hari yang terik. Aneh. Aku tidak membayangkan macam-macam. Kupu-kupu itu juga tidak muncul. Hmm, phobiaku hilang?

Dengan berdiri diatas balkon aku bisa mengamati semua gelak tawa, sedih dan marah. Seperti memetakan dunia saja. Menjadi sebuah ironi ketika menyadari manusia sebenarnya tidak punya kuasa apapun, bahkan atas dirinya sendiri, atas hidupnya sendiri.

I can’t helped it” Begitu kata manusia ketika jatuh cinta.
“Itu bukan kemauan saya.” Sewaktu menjadi tersangka sebuah kasus korupsi.
“Saya dipengaruhi nafsu setan.” Ketika tertangkap basah mencabuli anak dibawah umur. (Duh, kasihan setan yang selalu jadi kambing hitam setiap perbuatan jahat manusia – seperti kata Putu Wijaya)
“Sekarang kita hanya bisa berdoa.” Saat tertimpa bencana atau musibah.

Dengan berdiri diatas balkon aku menjadi lebih tinggi dari orang-orang yang melintas. Orang-orang itu kelihatan begitu kecil. Berjalan beriringan layaknya marching band – senandung Nancy Griffith. Semua orang tampak seperti sahabat bagi satu sama lain meskipun mereka sedang berperang. Mungkin begitu juga yang ada di mata Tuhan ketika mengawasi kita dari jauh.

Hmm, phobiaku yang hilang? Atau hanya gunung dan balkon?

6 Replies to “Balkon”

  1. phobia? gw juga dulu phobia ketinggian, tapi ternyata asik juga kalo phobia itu dilawan, adrenalin meningkat, jantung deg-deg-an, tapi rasanya seneng banget bisa ngalahin diri sendiri…

  2. saya juga phobia ketinggian , dulu, tapi pas sekarang dah kerja , ada hal yg memnbuat saya belajat! belajar untuk menaklukkan ketinggian.

    Manjat Portal Hoist/ Crane dan menara Air 🙂

  3. setiap naik gedung atau tempat tinggi kadang2 membayangkan diri sendiri kalo jatuh, dan tentu saja sangat tidak ingin mencobanya. Apa itu juga termasuk phobia? 😉

  4. ya. kalo kita mau bicara tentang gunung..banyak rahasia disini. mengapa di qur’an banyak sekali bicara gunung.seperti di Al A’raf 143. kalo gunung di QS itu diasumsikan gunung thursina dan disitu disebutkan gunung itu hancur, kok sekarang masih ada dan bisa kita lihat. lalu gunung mana yang dilihat musa? yang tuhan menampakkan diri di gunung itu..nek rahasia iki wes ketemu, tuhan pasti ketemu dan ndak jauh2 karena tuhan lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya (Qs Al Qaaf:16). Kenapa rahasia ‘gunung’ ini belum diketahui kebanyakan orang? karena belum sampai ilmunya, dan harus mendapat petunjuk dari seorang guru yang sudah sampai ilmunya. selain itu juga dikarenakan terlalu banyaknya tirai penghalang seperti nafsu2,ego ‘aku mampu menemukan tuhanku sendiri tanpa bantuan seorang guru’, dan lain2.. semoga bermanfaat..

  5. Phobia ketinggian???itu mah nyaris semua orang punya……sebenarnya, phobia ketinggian itu (kalo menurut aku ) merupakan refleksi ketakutan kita akan apa-apa yg ada diatas kita…kita selalu mempunyai kecenderungan untuk takut kepada ‘sesuatu’ yg memiliki level di’atas’..let’s say : takut kepada senior,takut pada atasan,satu lagi yg penting : takut kepada Allah SWT..
    sehingga..ketika kita dihadapkan kedalam situasi dimana kita menjadi yg teratas….ada satu sisi dalam diri yg mungkin akan mengatakan : ‘aku berada di satu buah posisi dimana aku takut pada posisi ini dahulu sekali’…
    sebenarnya sih…phobia ketinggian bisa juga dikatakan sebagai sebuah refleksi..bahwa kita semua merasa kecil dibandingkan sang pencipta…
    entah,ini hanya pemikiran dari aku atau malah..mau tak mau, sadar tak sadar..pemikiran seperti ini telah ada jauh sebelum aku mengungkapkannya lewat tulisan…

    Wallahualam

  6. Therapy Cepat Ngilangin Phobia Ketinggian (ACROPHOBIA)

    di SERVO Aja….

    SERVOTHERAPY dapat buat ngilangin Phobia Ketinggian (ACROPHOBIA)
    , Perfeksionis, Parno, dll. pokoknya semua hal yang berhubungan dengan hambatan psikologis.

    Informasi SERVOTHERAPY, klik saja, http://groups.yahoo.com/group/TamanBintang/, kemudian join. Informasi lengkap tentang PEMROGRAMAN SERVO akan langsung dikirimkan ke mailbox Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *