Migunani Tumraping Liyan

Kamar Dodi sesudah gempa. Seharusnya dia menangis, tertunduk, atau apa saja yang menunjukkan kesedihan ketika dia mengatakan bahwa kakinya patah, bahwa motornya remuk, bahwa rumahnya hancur, bahwa ayahnya telah tiada, bahwa adiknya meninggal.

Ya, seharusnya dia bersedih, tapi tidak.

Karena kehilangannya menjadi tidak istimewa, karena semua orang yang ditemuinya juga mengalaminya, karena semua orang didekatnya juga kehilangan; setelah guncangan yang meluluhlantakkan pagi di selatan kota yang ramah ini, setelah hitungan detik yang menghancurkan asa manusia, gempa tektonik lima koma sembilan skala richter di selatan Yogyakarta.

Mungkin sehari, seminggu, sebulan atau bahkan seumur-hidup dia akan terus berjuang untuk tetap tabah, untuk tetap kuat, untuk mencari cahaya bernama harapan, aku tak tahu. Yang aku tahu hanya selalu ada secuil kesempatan untuk sekedar berbuat sesuatu bagi mereka; entah mungkin hanya berdoa, mungkin sekedar menyisihkan uang, darah, waktu, tenaga atau apapun itu untuk mereka.

Menjadi manusia komplet adalah ketika kita membagi hidup dengan orang lain, melakukan kebaikan, migunani tumraping liyan; menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain, memberi dan membuat arti pada hidup. Sekecil apapun itu.

Malam-malam yang hujan, orang-orang kedinginan, aku sedikit capek. Begitu pesan pendekku padamu. Ada yang terlihat selain tangis dan kehilangan pada sorot mata mereka; ketika kami saling bersalaman, atau ketika beban itu seolah berpindah saat kami memeluk mereka, ketika mengetahui ada orang lain yang mengasihi mereka, atau ketika mereka hanya melemparkan senyum harapan dengan sedikit menahan airmata agar tidak jatuh. Mungkin kebersamaan, bisa jadi harapan. Jika memang kepercayaan, harapan dan kasih tak akan pernah hilang dalam dunia ini, maka satu yang pasti;

bahwa hidup adalah tentang mengasihi.

6 Replies to “Migunani Tumraping Liyan”

  1. Makasih postingannya ya..aku yang nggak ikut jadi tau keadaan kamarku dulu.
    Semoga keluarga pak Sihmah selalu diberi kekuatan, ketabahan, dan perlindungan dari Allah.

    Amin.

  2. Btw..ini nih pondokan kita dulu bukan sih???

    *gubrakkkzzz, hahahaha*

    kok postinganmu tanggal 30?
    kok tirai dan temboknya lain?

    badalah..weleh2..tuing tuing..

  3. mari kita semua menoleh kearah selatan yang sedang menangis, bahkan tidak hanya air mata..disaat air mata kering, apakah darah harus lagi sebagai gantinya..hanya kepada-Mu aku ikhlaskan semuanya, semua tanpa kecuali jika memang Kamu yang berkendak..amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *